• Makalah Landasan Pembelajaran: Teori Belajar Sosial

     

    BAB I

    PENDAHULUAN

     

    A.    Latar Belakang

    Teori kognitif sosial (social cognitive theory) yang dikemukakan oleh Albert Bandura menyatakan bahwa faktor sosial dan kognitif serta factor pelaku memainkan peran penting dalam pembelajaran. Faktor kognitif berupa ekspektasi atau penerimaan siswa untuk meraih keberhasilan, faktor sosial mencakup pengamatan siswa terhadap perilaku orang tuanya. Menurut Bandura ketika siswa belajar mereka dapat merepresentasikan atau mentrasformasi pengalaman mereka secara kognitif. 

    Agar belajar menjadi menyenangkan maka belajar seharusnya memiliki aktivitas untuk memperoleh informasi dan kompetensi baru. Aktivitas belajar yang dipilih harus menjembatani antara pengetahuan yang telah dimiliki peserta didik sebelumnya dengan pengetahuan baru yang akan dibangun peserta didik. Tindakan untuk menjembatani yaitu, memungkinkan peserta didik untuk mengerjakan kegiatan yang beragam dalam rangka mengembangkan keterampilan dan pemahamannya, dengan penekanan peserta didik belajar sambil bekerja. Bentuk belajar sosial Albert Bandura adalah menekankan tentang pentingnya peserta didik mengolah sendiri pengetahuan atau informasi yang diperoleh dari pengamatan model di sekitar lingkungan. Peserta didik mengatur dan menyusun semua informasi dalam kode-kode tertentu. Proses penyusunan setiap kode dilakukan berulang-ulang, sehingga peserta didik kapan saja dengan tepat dapat memberi tanggapan aktual. Perilaku belajar peserta didik adalah hasil dari kemampuan peserta didik memaknai suatu pengetahuan atau informasi, memaknai suatu model yang ditiru, kemudian mengolah secara kognitif dan menentukan tindakan sesuai tujuan yang dikehendaki. Peserta didik didorong agar berpikir kritis dan kreatif. Kritis untuk menganalisis masalah; dan kreatif untuk melahirkan alternatif pemecahan masalah.


    B.     Rumusan Masalah

    1. Bagaimana latar belakang tokoh?

    2. Apa pengertian teori belajar sosial?

    3. Bagaimana teori peniruan (modeling)?

    4. Bagaimana konsep teori belajar sosial?

    5. Bagaimana komponen atau proses sosial?

    6. Bagaimana ciri-ciri dan jenis-jenis teori pemodelan Bandura?

    7. Bagaimana contoh aplikasi teori belajar sosial?

    8. Bagaimana kelemahan dan kelebihan teori belajar sosial?

     

    C.    Tujuan Penulisan

    1. Untuk mengetahui tentang latar belakang tokoh.

    2. Untuk mengetahui tentang pengertian teori belajar sosial.

    3. Untuk mengetahui tentang teori peniruan (modeling).

    4. Untuk mengetahui tentang konsep teori belajar sosial.

    5. Untuk mengetahui tentang komponen atau proses sosial.

    6.  Untuk mengetahui tentang ciri-ciri dan jenis-jenis teori pemodelan Bandura.

    7. Untuk mengetahui tentang  contoh aplikasi teori belajar sosial.

    8. Untuk mengetahui tentang kelemahan dan kelebihan teori belajar sosial.

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

    BAB II

    PEMBAHASAN

     

    A.    Latar Belakang Tokoh

    Albert Bandura dilahirkan di Mundare Northern Alberta Kanada, pada 04 Desember 1925. Masa kecil dan remajanya dihabiskan di desa kecil dan juga mendapat pendidikan disana. Pada tahun 1949 beliau mendapat pendidikan di University of British Columbia, dalam jurusan psikologi. Dia memperoleh gelar Master didalam bidang psikologi pada tahun 1951 dan setahun kemudian ia juga meraih gelar doctor (Ph.D). Bandura menyelesaikan program doktornya dalam bidang psikologi klinik, setelah lulus ia bekerja di Standford University. Beliau banyak terjun dalam pendekatan teori pembelajaran untuk meneliti tingkah laku manusia dan tertarik pada nilai eksperimen. Pada tahun 1964 Albert Bandura dilantik sebagai professor dan seterusnya menerima anugerah American Psychological Association untuk Distinguished scientific contribution pada tahun 1980.

    Pada tahun berikutnya, Bandura bertemu dengan Robert Sears dan belajar tentang pengaruh keluarga dengan tingkah laku sosial dan proses identifikasi. Sejak itu Bandura sudah mulai meneliti tentang agresi pembelajaran sosial dan mengambil Richard Walters, muridnya yang pertama  mendapat gelar doctor sebagai asistennya. Bandura berpendapat, walaupun prinsip belajar cukup untuk menjelaskan dan meramalkan perubahan tingkah laku, prinsip itu harus memperhatikan dua fenomena penting yang diabaikan atau ditolak oleh paradigma behaviorisme. Albert Bandura sangat terkenal dengan teori pembelajaran sosial, salah satu konsep dalam aliran behaviorime yang menekankan pada komponen kognitif dari pemikiran, pemahaman, dan evaluasi.[1]

     

    B.     Pengertian Teori Belajar Sosial

    Teori belajar sosial merupakan perluasan teori belajar perilaku yang tradisional. Teori ini dikembangkan oleh Albert Bandura. Teori belajar ini relatif masih baru dibandingkan dengan teori-teori belajar lainnya dan merupakan perluasan dari teori belajar perilaku (behavioristik).  Prinsip dasar belajar menurut teori ini, bahwa yang dipelajari individu terutama dalam belajar sosial dan moral terjadi melalui peniruan (imitation) dan penyajian contoh perilaku (modeling).

    Teori ini juga masih memandang pentingnya conditioning. Melalui pemberian   reward dan punishment, seorang individu akan berfikir dan memutuskan perilaku sosial mana yang perlu dilakukan.

    Menurut Ratna Wilis Dahar, melalui observasi tentang dunia sosial kita, melalui interpretasi kognitif, banyak sekali informasi dan penampilan atau keahlian kompleks yang dapat dipelajari.[2] Menurut Abu Ahmadi, Belajar merupakan proses dimana tingkah laku ditimbulkan atau diubah melalui latihan pengalaman.

    Teori belajar sosial beranggapan bahwa hubungan antar pribadi antara anak dengan orang dewasa menyebabkan anak meniru atau menyerap perilaku sosial, melalui interaksi sosial anak melakukan identifikasi dengan orang dewasa, dengan kekuasaan, dengan perasaan iri dan sebagainya. Menurut teori belajar sosial, yang terpenting adalah kemampuan seseorang untuk mengabstraksikan informasi dari perilaku orang lain, mengambil keputusan mengenai perilaku mana yang akan ditiru dan kemudian melakukan perilaku perilaku yang terpilih.

    Eksperimen yang sangat terkenal adalah eksperimen Bobo Doll yang menunjukkan anak -anak meniru seperti perilaku agresif dari orang dewasa disekitarnya. Albert Bandura seorang tokoh teori belajar sosial ini menyatakan bahwa proses pembelajaran dapat dilaksanakan dengan lebih berkesan dengan menggunakan pendekatan “permodelan”. Beliau menjelaskan lagi bahwa aspek perhatian pelajar terhadap apa yang disampaikan atau dilakukan oleh guru dan aspek peniruan oleh pelajar akan dapat memberikan kesan yang optimum kepada pemahaman pelajar.[3]

    Bandura mengidentifikasi tiga model dasar pembelajaran observasional:

    1. Model hidup, yang melibatkan seorang individu yang sebenarnya mendemonstrasikan atau bertindak keluar perilaku.

    2. Sebuah model pembelajaran verbal, yang melibatkan deskripsi dan penjelasan perilaku.

    3.   Model simbolik, yang melibatkan karakter nyata atau fiksi menampilkan perilaku dalam buku-buku, film, program televisi, atau media online.


    C.    Teori Peniruan (Modeling)

    Pada tahun 1941, dua orang ahli psikologi, yaitu Neil Miller dan John Dollard dalam laporan hasil eksperimennya mengatakan bahwa peniruan (imitation) merupakan hasil proses pembelajaran yang ditiru dari orang lain. Proses belajar tersebut dinamakan social learning “pembelajaran sosial “ . Perilaku peniruan manusia terjadi karena manusia merasa telah memperoleh tambahan ketika kita meniru orang lain, dan memperoleh hukuman ketika kita tidak menirunya. Menurut Bandura, sebagian besar tingkah laku manusia dipelajari melalui peniruan maupun penyajian, contoh tingkah laku (modeling). Dalam hal ini orang tua dan guru memainkan peranan penting sebagai seorang model atau tokoh bagi anak-anak untuk menirukan  tingkah laku membaca.

    Dua puluh tahun berikutnya, Albert Bandura dan Richard Walters (1959, 1963) telah melakukan eksperimen pada anak-anak yang juga berkenaan dengan peniruan. Hasil eksperimen mereka mendapati, bahwa peniruan dapat berlaku  hanya melalui pengamatan terhadap perilaku model (orang yang ditiru) meskipun pengamatan itu tidak dilakukan terus menerus. Proses belajar semacam ini disebut "observational learning" atau pembelajaran melalui pengamatan. Bandura, kemudian menyarankan agar teori pembelajaran sosial diperbaiki memandang teori pembelajaran sosial yang sebelumnya hanya mementingkan perilaku tanpa mempertimbangan aspek mental seseorang.

    Menurut Bandura, perlakuan seseorang adalah hasil interaksi faktor dalam diri (kognitif) dan lingkungan. pandangan ini menjelaskan, beliau telah mengemukakan teori pembelajaran peniruan, dalam teori ini beliau telah menjalankan kajian bersama Walter (1963) terhadap perlakuan anak-anak apabila mereka menonton orang dewasa memukul, mengetuk dengan palu besi dan menumbuk sambil menjerit-jerit dalam video. Setelah menonton video anak-anak ini diarah bermain di kamar permainan dan terdapat patung seperti yang ditayangkan dalam video. Setelah anak-anak tersebut melihat patung tersebut, mereka meniru aksi-aksi yang dilakukan oleh orang yang mereka tonton dalam video.[4]


    D.    Konsep Teori Belajar Sosial

    Secara umum, teori ini menyatakan bahwa manusia bukanlah seperti robot yang tidak mempunyai pikiran dan menurut saja sesuai dengan kehendak pembuatnya. Namun, manusia mempunyai otak yang dapat berpikir, menalar, dan menilai, atau membandingkan sesuatu, sehingga dapat memilih arah bagi dirinya.[5]

    Bandura meneliti beberapa kasus, salah satunya ialah kenakalan remaja. Menurutnya, lingkungan memang membentuk perilaku dan perilaku membentuk lingkungan. Jadi dapat dipahami dari konsep Bandura ini bahwa lingkungan dan perilaku seseorang saling mempengaruhi satu sama lain. Selain aspek perilaku dan lingkungan juga di pengaruhi kognitif seseorang. Karena itu, dia menyatakan lebih lanjut dalam konsepnya aspek perlaku, lingkungan, serta kognitif saling berhubungan dan mempengaruhi belajar.

    Perilaku, lingkungan, dan faktor kogntif berinteraksi untuk mempengaruhi belajar. Mereka mempengaruhi dan dipengaruhi oleh satu sama lain. Sebagai contoh, umpan balik guru (lingkungan) dapat mengarahkan peserta didik untuk menetapkan tujuan yang lebih tinggi (kognitif) dan tujuan ini akan memotivasi siswa untuk menempatkan lebih banyak upaya (perilaku) dalam studi mereka.[6] Prinsip utama dari teori pembelajaran sosial Bandura ini ialah pemodelan (modeling). Pemodelan sesuai dengan istilahnya adalah pembelajaran dengan metode percontohan.[7]

     

    E.     Komponen atau Proses Sosial Bandura

    Terdapat empat proses yang terlibat dalam pembelajaran sosial Bandura yaitu perhatian (attention), mengingat (retention), produksi (production), motivasi (motivation):[8]

           a. Perhatian (attention)

    Fase pertama dalam belajar observasional adalah memberikan perhatian pada suatu model. pada umumnya, para siswa memberikan perhatian pada model model yang menarik, berhasil, menimbulkan minat, dan popular. Dalam kelas guru akan memperoleh perhatian dari para siswa jika guru menyajikan isyarat isyarat yang jelas. Perhatian siswa juga akan diperoleh dengan memotivasi siswa agar menaruh perhatian. Misalnya untuk menjelaskan bagian-bagian bola mata guru seharusnya menggunakan gambar model mata, dengan variasi warna yang bermacam-macam sehingga bagian-bagian mata tersebut tampak jelas dan siswa termotivasi untuk mempelajarinya.

         b. Mengingat (retention)

    Pada fase retensi siswa dilatih agar dapat tetap mengingat berbagai hal yang telah dipelajari melalui proses pengamatan dilapangan. Hanya dengan mengingat berbagai hal yang telah diamati oleh panca indera siswa, maka siswa tersebut akan dapat belajar dengan baik, sehingga dapat memperoleh hasil belajar yang baik. Akan sangat membantu apabila kegiatan yang akan ditiru segera diulang atau dipraktikkan setelah pengamatan selesai. Dalam mempraktikkan perilaku dapat dilakukan secara fisik, tetapi dapat juga secara kognitif, yaitu dengan membayangkan atau menvisualisasi perilaku tersebut dalam pikirannya. Misalnya pada pelajaran matematika, siswa dapat menvisualisasikan sendiri tahap-tahap yang telah didemonstrasikan oleh guru dalam menggunakan busur, atau penggaris sebelum benar-benar melakukannya.

    c.  Produksi (production)

    Setelah melalui tahap-tahap peniruan, peserta didik sebagai pengamat dapat mengubah ide atau gambar yang ada dalam ingatannya menjadi suatu tindakan (pelajaran) yang pernah diamati (diterima, dialami) di kelas, hal demikian perlu didukung dengan peragaan-peragaan (media pengajaran) yang kongkret.[9] Peragaan-peragaan di sini bisa dipahami sebagai model yang diberikan guru ke peserta didik, baik itu menggunakan media yang sesuai materi, maupun melalui contoh langsung dari guru yang kemudian peserta didik diharapkan mampu mengingat dan menirukannya.

    d.  Motivasi (motivation)

    Para peserta didik harus termotivasi untuk menunjukkan tindakan model. Penguatan dapat digunakan untuk mendorong pembelajaran observasional. Memberikan penguatan untuk suatu tingkah laku tertentu akan memotivasi pengamat (pebelajar) untuk berunjuk perbuatan. Aplikasi fase motivasi di dalam kelas dalam pembelajaran pemodelan sering berupa pujian atau pemberian nilai. Sebagai contoh, seorang guru dapat menggunakan penguatan langsung seperti mengatakan “kerja yang bagus!”.[10]

     

    F.     Ciri-Ciri dan Jenis-Jenis Teori Pemodelan Bandura

    Ciri-ciri teori pemodelan Bandura yakni:

    1. Unsur pembelajaran utama ialah perhatian dan peniruan.

    2. Tingkah laku model boleh dipelajari melalui bahasa, teladan, nilai dan lain-lain.

    3. Pelajar meniru suatu kemampuan dari kecakapan yang di demonstrasikan guru sebagai model.

    4. Pelajar memperoleh kemampuan jika memperoleh kepuasan dan penguatan yang positif.

    5. Proses pembelajaran meliputi perhatian, mengingat, peniruan, dengan tingkah laku atau timbal balik yang sesuai, diakhiri dengan penguatan yang positif

    Lebih lanjut menurut Bandura penguasaan skill dan pengetahuan yang kompleks tidak hanya bergantung pada proses perhatian, retensi, reproduksi dan motivasi, tetapi juga sangat dipengaruhi oleh unsur-unsur yang berasal dari diri pembelajar sendiri yakni sense of self Efficacy dan self-regulatory system. Sense of self efficacy adalah keyakinan pembelajar bahwa ia dapat menguasai pengetahuan dan keterampilan sesuai standar yang berlaku.

    Self regulatory adalah menunjuk kepada 1) struktur kognitif yang memberi referensi tingkah laku dan hasil belajar; 2) sub proses kognitif yang merasakan, mengevaluasi, dan pengatur tingkah laku kita. Dalam pembelajaran sel-regulatory akan menentukan “goal setting” dan self evaluation pembelajar dan merupakan dorongan untuk meraih prestasi belajar yang tinggi dan sebaliknya. Menurut Bandura agar pembelajar sukses instruktur atau guru atau dosen atau guru harus dapat menghadirkan model yang mempunyai pengaruh yang kuat terhadap pembelajar, mengembangkan self of mastery, self efficacy, dan reinforcement bagi pembelajar.

    Jenis – jenis Peniruan (modeling) adalah :

    1. Peniruan Langsung

    Pembelajaran langsung dikembangkan berdasarkan teori pembelajaran sosial Albert Bandura. Ciri khas pembelajaran ini adalah adanya modelling, yaitu suatu fase dimana seseorang memodelkan atau mencontohkan sesuatu melalui demonstrasi bagaimana suatu ketrampilan itu dilakukan. Meniru tingkah laku yang ditunjukkan oleh model melalui proses perhatian. Contoh : Meniru gaya penyanyi yang disukai.

    2. Peniruan Tak Langsung

    Peniruan Tak Langsung adalah melalui imaginasi atau perhatian secara tidak langsung. Contoh: Meniru watak yang dibaca dalam buku, memperhatikan seorang guru mengajarkan rekannya / teman sejawat.

    3. Peniruan Gabungan

    Peniruan jenis ini adalah dengan cara menggabungkan tingkah laku yang berlainan yaitu peniruan langsung dan tidak langsung. Contoh : Pelajar meniru gaya gurunya melukis dan cara mewarnai daripada buku yang dibacanya.

    4. Peniruan Sesaat / seketika.

    Tingkah laku yang ditiru hanya sesuai untuk situasi tertentu saja.

    Contoh : Meniru gaya pakaian di TV, tetapi tidak boleh dipakai di sekolah.

    5. Peniruan Berkelanjutan

    Tingkah laku yang ditiru boleh ditonjolkan dalam situasi apapun.

    Contoh : Pelajar meniru gaya  bahasa gurunya.[11]

     

    G.    Contoh Aplikasi Teori Belajar Sosial

    Contoh aplikasi teori belajar Bandura adalah ketika seorang anak belajar untuk mengendarai sepeda. Ditahap perhatian, si anak akan tertarik mengamati para pengendara sepeda dibanding dengan orang yang melakukan aktifitas lain yang dia anggap kurang menarik. Oleh karena itu, ia akan mengamati bagaimana seseorang mengayuh sepeda. Selanjutnya pada tahap penyimpanan dalam ingatan si anak akan tersimpan bahwa bersepeda itu menyenangkan dan suatu saat jika waktunya tepat ia akan meminta ayahnya (semisal) untuk mengajarinya mengendarai sepeda. Semuanya itu kemudian dilaksanakan pada tahap reproduksi di mana si anak kemudian benar-benar belajar mengendarai sepeda bersama sang ayah. Ketika anak itu sudah berhasil, di sinilah tugas sang ayah untuk memberi reward sebagai bentuk apresiasi atas keberhasilan sang anak sekaligus merupakan tahap motivasi. 

    Sedangkan Penerapan dalam proses pembelajaran di dalam kelas, antara lain:

    1. Penyampaian guru hendaklah cakap dan menarik agar dapat menjadi model bagi siswa.

    2. Demonstrasi yang dilakukan oleh guru hendaknya jelas serta menarik agar siswa dapat meniru dengan cepat.

    3. Hasil pekerjaan guru, lukisan, hendaknya bermutu.

    4. Guru boleh menggunakan teman sejawat yang terbaik sebagai model.

     

    H.    Kelemahan dan Kelebihan Teori Belajar Sosial

    a.  Kelemahan Teori Belajar Sosial

    Teori pembelajaran Sosial Bandura sangat sesuai jika diklasifikasikan dalam teori behavioristik. Ini karena, teknik pemodelan Albert Bandura adalah mengenai peniruan tingkah laku dan adakalanya cara peniruan tersebut memerlukan pengulangan dalam mendalami sesuatu yang ditiru. Selain itu juga, jika manusia belajar atau membentuk tingkah lakunya dengan hanya melalui peniruan (modeling), sudah pasti terdapat sebagian individu yang menggunakan teknik peniruan ini juga akan meniru tingkah laku yang negatif, termasuk perlakuan yang tidak diterima dalam masyarakat.

    b. Kelebihan Teori Belajar Sosial

    Teori Albert Bandura lebih lengkap dibandingkan teori belajar sebelumnya, karena itu menekankan bahwa lingkungan dan perilaku seseorang dihubungkan melalui sistem kognitif orang tersebut. Bandura memandang tingkah laku manusia bukan semata-mata reflex atas stimulus (S-R bond), melainkan juga akibat reaksi yang timbul akibat interaksi antara lingkungan dengan kognitif manusia itu sendiri.

    Pendekatan teori belajar sosial lebih ditekankan pada perlunya conditioning (pembiasaan merespon) dan imitation (peniruan). Selain itu pendekatan belajar sosial menekankan pentingnya penelitian empiris dalam mempelajari perkembangan anak-anak. Penelitian ini berfokus pada proses yang menjelaskan perkembangan anak-anak, faktor social dan kognitif.[12]

     

     

     

    BAB III

    PENUTUP


    A.    Kesimpulan

               Jadi kesimulannya adalah Bandura menyelesaikan program doktornya dalam bidang psikologi klinik, setelah lulus ia bekerja di Standford University. Beliau banyak terjun dalam pendekatan teori pembelajaran untuk meneliti tingkah laku manusia dan tertarik pada nilai eksperimen. Pada tahun berikutnya, Bandura bertemu dengan Robert Sears dan belajar tentang pengaruh keluarga dengan tingkah laku sosial dan proses identifikasi. Albert Bandura sangat terkenal dengan teori pembelajaran sosial, salah satu konsep dalam aliran behaviorime yang menekankan pada komponen kognitif dari pemikiran, pemahaman, dan evaluasi.

              Prinsip dasar belajar menurut teori ini, bahwa yang dipelajari individu terutama dalam belajar sosial dan moral terjadi melalui peniruan (imitation) dan penyajian contoh perilaku (modeling). Menurut teori belajar sosial, yang terpenting adalah kemampuan seseorang untuk mengabstraksikan informasi dari perilaku orang lain, mengambil keputusan mengenai perilaku mana yang akan ditiru dan kemudian melakukan perilaku perilaku yang terpilih.

    Beliau menjelaskan lagi bahwa aspek perhatian pelajar terhadap apa yang disampaikan atau dilakukan oleh guru dan aspek peniruan oleh pelajar akan dapat memberikan kesan yang optimum kepada pemahaman pelajar. Teori Peniruan (Modeling) Pada tahun 1941, dua orang ahli psikologi, yaitu Neil Miller dan John Dollard dalam laporan hasil eksperimennya mengatakan bahwa peniruan (imitation) merupakan hasil proses pembelajaran yang ditiru dari orang lain.

    Dari konsep Bandura ini bahwa lingkungan dan perilaku seseorang saling mempengaruhi satu sama lain. Selain aspek perilaku dan lingkungan juga di pengaruhi kognitif seseorang. Karena itu, dia menyatakan lebih lanjut dalam konsepnya aspek perilaku, lingkungan, serta kognitif saling berhubungan dan mempengaruhi belajar.  

    Komponen dan Proses Sosial Bandura Terdapat empat proses yang terlibat dalam pembelajaran sosial Bandura yaitu perhatian (attention), mengingat (retention), produksi (production), motivasi (motivation). Ciri-ciri teori pemodelan Bandura yakni: Unsur pembelajaran utama ialah perhatian dan peniruan, tingkah laku model boleh dipelajari melalui bahasa, teladan, nilai dan lain-lain, pelajar meniru suatu kemampuan dari kecakapan yang di demonstrasikan guru sebagai model. Jenis-jenis pemodelan sosial yakni: peniruan langsung, peniruan tak langsung, peniruan gabungan, peniruan sesaat dan peniruan berkelanjutan.

    Contoh pengaplikasian teori belajar sosial adalah ketika seorang anak belajar untuk mengendarai sepeda. Sedangkan kelemahan dan kelebihan teori belajar sosial, yakni: kemungkinan dengan melakukan peniruan akan meniru hal-hal yang negatif. Dan kelebihannya yakni: lebih lengkap dibandingkan teori belajar sebelumnya, karena itu menekankan bahwa lingkungan dan perilaku seseorang dihubungkan melalui sistem kognitif orang tersebut.

     

    B.     Saran

       Pada penyusunan makalah ini kami sangat menyadari masih banyak terdapat kekurangan-kekurangan didalamnya baik berupa bahasa maupun cara penyusunannya. Sehingga kritik dan saran yang membangun sangat diharapkan untuk perbaikan makalah ini. Harapan pemakalah, semoga makalah ini dapat memberi pengetahuan baru dan bermanfaat bagi kita semua.

     

     

     

     

    DAFTAR PUSTAKA

     

    Ahmad Rohani HM, 2010, Pengelolaan Pengajaran: Sebuah Pengantar Menuju Guru Profesional edisi revisi ,Cet. I; Jakarta: PT Rineka Cipta.

    Chairul Anwar, 2017, Buku Terlengkap Teori-Teori Pendidikan Klasik Hingga Kontemporer, ed. Yanuar Arifin, Cet. I; Yogyakarta: IrciSoD.

    http://gubugtp.blogspot.com/2013/06/makalah-teori-belajar-sosial-albert.html?m=1, diakses pada tanggal 10 November 2020, pada pukul 13:20.

    Herly Janet Lesilolo, 2018, Penerapan Teori Belajar Sosial Albert Bandura Dalam Proses Belajar Mengajar Di Sekolah, Vol. 4 No. 2,  KENOSIS.

    Murni Yanto dan Syaripah, 2017, Penerapan Teori Sosial Dalam Menumbuhkan Akhlak Anak Kelas I Madrasah Ibtidaiyah Negeri 1 Rejang Lebong, Vol. 4, No. 2, TERAMPIL: Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Dasar.

    Neil J. Salkind, 2004, .An Introduction to theories of human development, London: Sage Publications.

    Lawrence A. Pervin, dkk., Personality: Theory and Researc, terj. A.K. Anwar, Psikologi Kepribadian: Teori dan Penelitian, Edisi IX.

    Ratna Wilis Dahar, 2011, Teori Teori Belajar dan Pembelajaran, Jakarta: Erlangga.

    Umi Kusyairi, 2014, Psikologi Belajar: Panduan Praktis untuk Memahami Psikologi dalam Pembelajaran, Cet. I; Makassar: Alauddin University Press.

    Wowo Sunaryo Kuswana, 2014, Biopsikologi Pembelajaran Perilaku, Cet. I, Bandung: Alfabeta.

     



    [1] Chairul Anwar, Buku Terlengkap Teori-Teori Pendidikan Klasik Hingga Kontemporer, ed.

    Yanuar Arifin, Cet. I; Yogyakarta: IRciSoD, 2017, hal. 98.

    [2] Ratna Wilis Dahar, Teori Teori Belajar dan Pembelajaran, Jakarta: Erlangga, 2011, hal. 22.

    [3] Umi Kusyairi, Psikologi Belajar: Panduan Praktis untuk Memahami Psikologi dalam

    Pembelajaran, Cet. I; Makassar: Alauddin University Press, 2014, hal. 68.

    [4] Lawrence A. Pervin, dkk., Personality: Theory and Researc, terj. A.K. Anwar, Psikologi

    Kepribadian: Teori dan Penelitian, Edisi IX , hal. 435.

    [5] Chairul Anwar, Buku Terlengkap Teori-Teori Pendidikan Klasik Hingga Kontemporer, hal.

    99.

    [6] Wowo Sunaryo Kuswana, Biopsikologi Pembelajaran Perilaku, Cet. I, Bandung: Alfabeta,

    2014, hal. 324.

    [7] Chairul Anwar, Op. Cit., hal. 99.

    [8] Neil J. Salkind,.An Introduction to theories of human development, London: Sage Publications, 2004, hal. 220.

    [9] Ahmad Rohani HM, Pengelolaan Pengajaran: Sebuah Pengantar Menuju Guru Profesional

    edisi revisi ,Cet. I; Jakarta: PT Rineka Cipta, 2010, hal. 27.

    [10] Murni Yanto dan Syaripah, Penerapan Teori Sosial Dalam Menumbuhkan Akhlak Anak Kelas I Madrasah Ibtidaiyah Negeri 1 Rejang Lebong, Terampil, Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Dasar, Vol. 4, No. 2, Oktober 2017, hal. 70-71.

    [11] Herly Janet Lesilolo, Penerapan Teori Belajar Sosial Albert Bandura Dalam Proses Belajar Mengajar Di Sekolah, KENOSIS, Vol. 4 No. 2. Desember 2018, hal. 193-194.

    [12] http://gubugtp.blogspot.com/2013/06/makalah-teori-belajar-sosial-albert.html?m=1, diakses pada tanggal 10 November 2020, pada pukul 13:20.

  • You might also like

    Tidak ada komentar:

    Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

Cari Blog Ini

Video

Maps