BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pendidikan Al-Qur’an Hadist adalah bagian dari mata pelajaran pendidikan agama Islam pada madrasah Aliyah yang dimaksudkan untuk memberikan motivasi, bimbingan, pemahaman, kemampuan, dan penghayatan terhadap isi yang terkandung dalam isi Al-Qur’an dan Hadist sehingga dapat diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari sebagai manifestasi iman dan taqwa kepada Allah SWT. serta berahlak mulia. Terutama dalam materi ikhlas dalam beribadah.
Tugas utama manusia hidup di dunia ini adalah beribadah kepada Allah SWT. Ibadah kepada-Nya merupakan bukti pengabdian seorang hamba kepada Tuhannya. Dari berbagai ayat dan hadis dijelaskan bahwa pada hakekatnya manusia yang beribadah kepada Allah ialah manusia yang dalam menjalani hidupnya selalu berpegang teguh kepada wahyu Allah dan hadis Nabi SAW. Pengertian ibadah tidak hanya terbatas kepada apa yang disebut ibadah mahdhah atau rukun islam saja, tetapi sangat luas seluas aspek kehidupan yang ada.
Amal yang pasti diterima adalah yang dikerjakan dengan ikhlas. Amal hanya karena Allah semata, dan tidak ada harapan kepada makhluk sedikit pun. Niat ikhlas bisa dilakukan sebelum amal dilakukan, bisa juga disaat melakukan amal atau setelah amal dilakukan. Salah satu karunia Allah yang harus disyukuri adalah adanya kesempatan untuk beramal. Menjadi jalan kebaikan dan memberikan manfaat kepada orang lain. Karenanya, jangan pernah menunda kebaikan ketika kesempatan itu datang. Lakukan kebaikan semaksimal mungkin dan lupakan jasa yang sudah dilakukan. Serahkan segalanya hanya kepada Allah. Itulah aplikasi dari amal yang ikhlas.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana memahami QS. Al-An’am (6) : 162-163?
2. Bagaimana memahami QS. Al-Bayyinah (98) : 5?
3. Bagaimana memahami Hadits tentang indahnya ikhlas dalam beribadah?
4. Bagaimana perilaku orang yang ikhlas dalam beribadah?
C. Tujuan Penulisan
1. Untuk memahami QS. Al-An’am (6) : 162-163.
2. Untuk memahami QS. Al-Bayyinah (98) : 5.
3. Untuk memahami Hadits tentang indahnya ikhlas dalam beribadah.
4. Untuk mengetahui tentang perilaku orang yang ikhlas dalam beribadah.
D. Kompetensi Inti (KI)
1. Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya.
2. Menghayati dan mengamalkan perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli (gotong royong, kerjasama, toleran, damai) santun, rensponsif dan pro-aktif dan menunjukkan sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan social dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia.
3. Memahami, menerapkan, dan menganalisis pengetahuan faktual, konseptual, prosedural, dan metakognitif berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait penyebab fenemona dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah.
4. Mengolah, menalar, dan menyaji dalam ranah konkret dan ranah abstrak terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara mandiri, bertindak secara efektif dan kreatif, serta mampu menggunakan metode sesuai keilmuan.
E. Kompetensi Dasar (KD)
2.4 Memiliki sikap ikhlas dalam beribadah sebagai implementasi dari pemahaman ayat-ayat Al-Qur’an tentang keikhlasan dalam beribadah pada Surat Al-An’am (6) : 162-163; Al-Bayyinah (98) : 5 dan Hadits riwayat Bukhari dari Aisyah ra.
3.5 Memahami ayat-ayat Al-Qur’an tentang keikhlasan dalam beribadah pada Al-An’am (6) : 162-163; Al-Bayyinahh (98) : 5 dan Hadits riwayat Bukhari dari Aisyah ra.
4.5 Mendemonstrasi hafalan dan arti per kata ayat-ayat Al-Qur’an tentang keikhlasan dalam beribadah pada Surat Al-An’am (6) : 162-163; Al-Bayyinah (98) : 5 dan Hadits riwayat Bukhari dari Aisyah ra.
F. Tujuan Pembelajaran
1. Murid dapat membaca QS. Al-An’an (6) : 162-163; QS. Al-Bayyinah (98) : 5 dan Hadits riwayat Bukhari dari Aisyah ra. tentang keikhlasan dalam beribadah.
2. Murid dapat menyebutkan makna mufaradat QS. Al-An’am (6) : 162-163; QS. Al-Bayyinah (98) : 5 dan Hadits riwayat Bukhari dari Aisyah ra. tentang keikhlasan dalam beribadah.
3. Murid dapat menjelaskan kandungan QS. Al-an’am (6) : 162-163; QS. Al-Bayyinah (98) : 5 dan Hadits riwayat Bukhari dari Aisyah ra. tentang keikhlasan dalam beribadah.
4. Murid dapat menunjukkan perilaku ikhlas dalam beribadah.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Memahami QS. Al-An’am (6) : 162-163
قُلۡ اِنَّ صَلَاتِىۡ وَنُسُكِىۡ وَ مَحۡيَاىَ وَمَمَاتِىۡ لِلّٰهِ رَبِّ الۡعٰلَمِيۡنَۙ (162)
لا شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ(163)
1. Arti Kosa Kata/ Kalimat (Mufradat)
Terjemahan Lafal Terjemahan Lafal
Hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam لِلّٰهِ رَبِّ الۡعٰلَمِيۡنَۙ
Katakanlah (Muhammad)
قُلۡ
Tidak ada sekutu bagi-Nya لا شَرِيكَ لَهُ Sesungguhnya salatku اِنَّ صَلَاتِىۡ
Dan demikianlah وَبِذَلِكَ Dan ibadahku وَنُسُكِىۡ
Yang diperintahkan kepadaku
أُمِرْتُ
Hidupku
وَ مَحۡيَاىَ
Pertama-tama berserah diri (muslim)
أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ
Dan matiku
وَمَمَاتِىۡ
2. Terjemah
Katakanlah (Muhammad), “Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam, tidak ada sekutu bagi-Nya; dan demikianlah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama berserah diri (muslim).”(QS. Al-An’am (6): 162-163)
3. Penjelasan Ayat
Kandungan surah Al-An’am ayat 162-163 adalah kewajiban manusia untuk beribadah kepada Allah Swt. Secara ikhlas. Ikhlas berarti melaksanakan perbuatan semata-mata untuk mendapatkan rida Allah Swt. Tidak bercampur dengan hal-hal lain. Dalam menjalankan ibadah, seseorang tersebut tidak memasukkan unsur-unsur yang dapat mengurangi nilai ibadah, misalnya riya’, karena riya’ walaupun sedikit akan mengurangi nilai ibadah tersebut dan tidak dapat dikatakan ikhlas. Surah ini merupakan pernyataan komitmen manusia dengan Allah Swt. Yang merupakan pernyataan sikap, baik hidup maupun mati semata-mata untuk mendapatkan rida dari-Nya. Orang ikhlas banyak memperoleh manfaat dalam kehidupan, misalnya kesulitan hidupnya dapat terbantu oleh ibadah yang diterima oleh Allah Swt.
Secara garis besar kandungan QS. Al-An’am ayat 162-163 dapat disimpulkan:
1. Perintah Allah Swt. Pada umat-Nya untuk berkeyakinan bahwa salatnya, hidupnya, dan matinya hanyalah semata mata untuk Allah Swt.
2. Allah Swt. Adalah Tuhan semesta alam, tidak ada sekutu bagi-Nya.
3. Perintah Allah Swt. Pada umat manusia untuk ikhlas dalam berkeyakinan, beribadah, beramal, dan menjadi orang pertama dalam kaumnya yang berserah diri kepada-Nya.
4. Senantiasa beramal shaleh dan menjauhkan segala larangan-larangan Allah Swt. Agar selamat di dunia dan akhirat.
B. Memahami QS. Al-Bayyinah (98) : 5
وَمَاࣤ أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ ٗۙحُنَفَاࣤءَوَيُقِيْمُواالصَّلٰوةَوَيُؤْتُواالزَّكٰوةَوَذٰلِكَ دِيْنُ الْقَيِّمَةِۗ
1. Arti Kosa Kata/ Kalimat (Mufradat)
Terjemahan Lafal Terjemahan Lafal
Yang lurus حُنَفَاࣤءَ Mereka tidak diperintah وَمَاࣤ أُمِرُوا
Melaksanakan salat ءَوَيُقِيْمُواالصَّلٰوَةَ Kecuali menyembah Allah إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ
Dan menunaikan zakat وةَوَيُؤْتُواالزَّكٰوةَ Dengan ikhlas مُخْلِصِينَ
Agama yang lurus دِيْنُ الْقَيِّمَةِۗ
Semata karena (menjalankan) Agama لَهُ الدِّينَ
2. Terjemah
Padahal mereka hanya diperintahkan menyembah Allah Swt. Dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama, dan juga agar melaksanakan salat dan menunaikan zakat; dan demikian itulah agama yang lurus (benar). (QS. Al-Bayyinah (98): 5)
3. Penjelasan Ayat
Kandungan pokok surah Al-Bayyinah ayat 5 yaitu :
a. Perintah untuk beribadah kepada Allah Subhanahu Wata’ala dan menaati ajaran Allah Subhanahu Wata’ala dengan lurus (tidak bercampur dengan riya’ dan syirik).
b. Sebagai seorang muslim, wajib hukumnya untuk mendirikan sholat lima waktu dalam sehari semalam, sholat itu sangat besar artinya, karena merupakan tiang agama dan ibadah yang perama dihisab diakhirat.
c. Perintah untuk menunaikan zakat. Oleh karena itu, dalam setiap harta ada hak Allah Subhanahu Wata’ala yang harus dikeluarkan untuk orang yang berhak menerimanya. Zakat berfungsi untuk menyucikan harta dan untuk menumbuh kembangkannya.
Dari segi bentuknya, ibadah dibedakan menjadi 5, yaitu:
1. Ibadah qauliyah (ucapan), seperti membaca al-Qur’an, berdo’a dan berdzikir.
2. Ibadah jismiyah (fisik), seperti berpuasa dan menolong orang.
3. Ibadah maliyah (melibatkan harta), seperti memberi zakat, infaq, sedekah.
4. Ibadah qauliyah wa jismiyah (ucapan dan perbuatan), seperti shalat.
5. Ibadah qauliyah, jismiyah, dan maliyah (bacaan, perbuatan dan harta), seperti haji.
Ditinjau dari cakupannya, ibadah dibedakan menjadi dua, yaitu:
1. Ibadah ‘ammah (umum), yaitu segala perbuatan yang dilakukan semata-mata karena Allah Swt., untuk mendapatkan rida-Nya seperti, menolong orang, mencari nafkah, menyerukan kebaikan, serta mencegah kejahatan. Ibadah seperti ini disebut juga dengan ibadah gairu mahiah.
2. Ibadah khassah (khusus), yaitu ibadah yang telah ditetapkan oleh nash tentang kaifiyah (tata cara) pelaksanaanya, seperti shalat, puasa, zakat dan haji. Ibadah seperti ini disebut juga dengan ibadah mahiah.Dengan demikian, segala bentuk ibadah yang telah diperintahkan oleh Allah Swt., baik itu shalat, puasa, atau zakat, haruslah disertai kerelaan dan keikhlasan hanya kepada Allah Swt. Dengan keikhlasan dalam beribadah, menjadikan ma-nusia selalu ingat pada Allah Swt. dan menjalankan segala perintahNya dalam kehidupan sehari hari.
C. Memahami Hadits tentang Keikhlasan dalam Beribadah
عَنْ عَاٳِشَةَ رَضِىَ اللّٰهُ عَنْهَاأَنَّ نَبِىَّ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَليْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقُومُ مِنْ اللَّيْلِ حَؾَّ تَتفَطَّرَقَدَمَاهُ فَقَالَتْ عَاإِشَةُ لِمَ تَصْنَعُ هٰذَا يَارَسُولَ اللّٰهِ وَقَدْغَفَرَاللّٰهُ لَكَ مَاتَقَدَّمَ مِنْ ذَ نْبِكَ وَمَاتَأَخَّرَقَلَ ٲَفَلَا ٲَحِبُّ أَنْ أَكُــوْنَ عَبدًاشَكُوْرًافَلَمَّاكَثُرَلَحْمُهُ صَلَّى جَالِسًا فَإِذَا أَرَادَ أَنيَرْكَعَ قَامَ
أَثُمَّ ركَعَ ﴿ رواهالبخارى﴾ فَق
‘
1. Arti Kosa Kata/ Kalimat (Mufradat)
Terjemahan Lafal Terjemahan Lafal
Dan yang akan datang وَمَاتَأَخَّر Melaksanakan shalat malam يَقُومُ مِنْ اللَّيْلِ
Apakah aku tidak suka ٲَفَلَا ٲَحِبُّ Hingga bengkak حَؾَّ تَتفَطَّرَ
Menjadi أَنْ أَكُــوْنَ Kedua kakinya قَدَمَاهُ
Hamba yang bersyukur عَبدًاشَكُوْرًا Kenapa engkau melakukan ini لِمَ تَصْنَعُ هٰذَا
Gemuk كَثُرَلَحْمُهُ Allah telah mengampunimu وَقَدْغَفَرَاللّٰهُ لَكَ
Beliau hendak ruku أَرَادَ أَنيَرْكَعَ Dosamu yang telah lalu. مَاتَقَدَّمَ مِنْ ذَ نْبِكَ
2. Terjemah
Dari Aisyah ra. bahwa Nabi saw. melaksanakan shalat malam hingga kaki beliau bengkak-bengkak. Aisyah berkata: Wahai Rasulullah Saw., kenapa Engkau melakukan ini padahal Allah Swt. telah mengampuni dosamu yang telah berlalu dan yang akan datang? Beliau bersabda: “Apakah aku tidak suka jika menjadi hamba yang bersyukur?” Dan tatkala beliau gemuk, beliau shalat sambil duduk, apabila beliau hendak ruku’ maka beliau berdiri kemudian membaca beberapa ayat lalu ruku’.
3. Penjelasan Hadits
Hadits tersebut menjelaskan betapa Rasul Saw. yang tidak memiliki kesalahan dan dosa karena beliau ma’sum, masih senantiasa melaksanakan ibadah shalat malam bahkan sampai bengkak-bengkak kakinya. Beliau adalah teladan kita, insan ciptaan Allah Swt. yang paling mulia. Dasar beliau melaksanakan ibadah yang sedemikian itu, bukanlah mengharap pujian, beliau melaksanakan dengan dasar ikhlas hanya untuk mencari keridaan Allah Swt. semata, dan berbagai ekspresi rasa syukur kepada Allah Swt.
Menurut pengarang kitab Manazilus-Sa’irin, ikhlas itu ada tiga derajat, yaitu:
1. Tidak melihat amal sebagai amal, tidak mencari imbalan dari amal dan tidak puas terhadap amal.
2. Malu terhadap amal sambil tetap berusaha. Artinya merasa amalnya itu belum layak dilakukan karena Allah Swt., tetapi amal itu tetap diupayakan.
3. Memurnikan amal, maksudnya adalah melakukan amal berdasarkan ilmu agama.
Rasul saw. telah meneladani kita yang sedemikian indah, karenanya kita su-dah selayaknya untuk meniru yang dilakukan Rasul saw. yang telah diampuni dosa yang telah lalu maupun yang akan datang saja beribadah sedemikian ikhlas, kita yang tidak ada jaminan ampunan dosa seharusnya melebihi atau paling tidak menirunya.
D. Perilaku Orang yang Ikhlas dalam Beribadah
Sikap dan perilaku yang dapat diterapkan sebagai penghayatan dan pengamalan QS. Al-An’am (6): 162-163 sebagai berikut.
1. Selalu beribadah kepada Allah Swt. Secara ikhlas, serta menghindari riya’, dan syirik.
2. Senantiasa ikhlas dalam beramal dan mengharap keridaan Allah Swt.
3. Selalu melaksanakan amal saleh agar selamat dunia dan akhirat.
Sikap dan perilaku dapat diterapkan sebagai penghayatan dan pengamalan QS. Al-Bayyinah (98): 5 sebagai berikut.
1. Senantiasa beribadah kepada Allah Swt. Secara ikhlas.
2. Senantiasa melaksanakan salat lima waktu sehari semalam.
3. Senantiasa menunaikan zakat.
Sikap dan perilaku dapat diterapkan sebagai penghayatan dan pengamalan Hadits tentang keikhlasan dalam beribadah sebagai berikut.
1. Senantiasa beribadah kepada Allah Swt. Secara ikhlas.
2. Senantiasa tidak mengingat amalan baik yang telah diperbuat karena terkadang akan menimbulkan kemalasan dalam beribadah.
3. Selalu bersyukur kepada Allah Swt. Atas segala nikmat yang Dia berikan.
BAB III
TELAAH
A. Telaah Formatif
Menurut kami, telaah materi Al-Qur’an Hadits indahnya ikhlas dalam beribadah secara formatif dapat dilihat pada buku siswa Al-Qur’an Hadits Pendekatan Saintifik Kurikulum 2013 pada halaman 125-135 sudah sesuai dengan paparan materinya. Baik itu dari Kompetensi Inti (KI), Kompetensi Dasar (KD), Tujuan Pembelajarannya. Serta pembuatan Kompetensi Dasar (KD) dalam kurikulum 2013 di buku ini sudah sesuai dengan menggunakan kata operasional yang sudah ditetapkan.
Media gambar yang digunakan dalam hal 127-128 sudah sesuai, begitupun materinya runtut dan ada simpulan di setiap akhir pembahasan. Namun materinya tidak terlalu detail hanya membahas secara umum. Pada bagian evaluasi sudah sesuai baik itu dari penerapan, soal dan tugas maupun proses pemberian nilai atau skor.
1. Pendekatan
Istilah pendekatan berasal dari bahasa Inggris “approach” yang salah satu artinya adalah “pendekatan”. Dalam pengajaran, approach di artikan sebagai a way of beginning something “cara memulai sesuatu”. Karena itu, pengertian pendekatan dapat diartikan cara memulai belajar-mengajar. Pendekatan mengajar yang digunakan guru akan sangat mempengaruhi kadar kegiatan siswa. Pendekatan itu sendiri diartikan sebagai proses penyampaian atau penyajian materi pelajaran agar si siswa mudah memahaminya. Pendekatan dipilih berdasarkan model dan strategi yang sudah ditetapkan
Pendekatan pembelajaran dapat diartikan sebagai titik tolak ukur atau sudut pandang kita terhadap proses pembelajaran, yang merujuk pada pandangan tentang terjadinya suatu proses yang sifatnya masih sangat umum, di dalamnya mewadahi, menginspirasi, menguatkan, dan melatari metode dengan cakupan teoritis tertentu.
Dilihat dari pendekatannya, pembelajaran terdapat dua jenis pendekatan, yaitu;
a. Pendekatan pembelajaran yang berorientasi atau berpusat pada siswa (student centered approach), dimana pada pendekatan jenis ini guru melakukan pendekatan dengan memberikan kesempatan kepada siswa untuk berperan aktif dalam proses pembelajaran.
b. Pendekatan pembelajaran yang berorientasi atau berpusat pada guru (teacher centered approach), dimana pada pendekatan jenis ini guru menjadi subjek utama dalam proses pembelajaran.
Jadi, dari penjelasan pendekatan pembelajaran diatas pendekatan yang cocok untuk digunakan dalam materi ini adalah pendekatan yang berorientasi atau berpusat pada siswa (student centered approach) karena pendekatan ini dimana pendidik memberi siswa kesempatan untuk berperan aktif dalam proses pembelajaran agar siswa dapat dengan cepat memahami dan dapat mengimplementasikan pembelajarannya dikehidupan sehari-harinya.
2. Metode
Metode yang cocok dalam mengajar materi tentang “Indahnya Ikhlas Dalam Beribadah” ini menurut kami adalah metode ceramah, metode inkuiri, metode Tanya jawab, metode resitasi atau pemberian tugas, dan metode suri tauladan. Serta dengan menggunakan model Contekstual Learning (CTL).
a. Metode ceramah diperlukan untuk menyampaikan materi ini berkaitan dengan ayat/hadits, terjemahannya dan, indahnya ikhlas dalam beribadah.
b. Metode inkuiri diperlukan untuk mengidentifikasi indahnya iklas dalam beribadah.
c. Metode Tanya jawab diperlukan saat memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya mengenai hal yang tidak dimengertinya. Dengan banyaknya peranyaan yang bersifat keingintahuan, maka berarti seorang guru telah berhasil memberikan stimulus kepada siswa untuk membuat siswa ingin belajar lebih dalam lagi mengenai materi ini.
d. Metode resitasi atau pembetrian tugas dapat digunakan untuk meminta siswa mengerjakan soal-soal yang berkaitan dengan materi ini untuk mengukur aspek kognitifnya.
e. Metode suri tauladan diperlukan untuk memberikan stimulus siswa bahwa Nabi Muhammad SAW adalah sosok yang dapat ditiru akhlaknya. Dengan demikian akan memudahkan pencapaian indicator tentang indahnya iklas dalam beribadah dalam kehidupan sehari-hari.
3. Model
Menurut kami, model yang cocok digunakan adalah Kontekstual (CTL, Contextual Teaching and Learning) Pembelajaran kontekstual adalah pembelajaran yang dimulai dengan sajian atau tanya jawab lisan (ramah, terbuka, negosiasi) yang terkait dengan dunia nyata kehidupan siswa (daily life modeling), sehingga akan terasa manfaat dari materi yang akan disajkan, motivasi belajar muncul, dunia pikiran siswa menjadi konkret, dan suasana menjadi kondusif-nyaman dan menyenangkan. Pensip pembelajaran kontekstual adalah aktivitas siswa, siswa melakukan dan mengalami, tidak hanya menonton dan mencatat, dan pengembangan kemampuan sosialisasi.
4. Teknik
Teknik pembelajaran dapat diatikan sebagai cara yang dilakukan seseorang dalam mengimplementasikan suatu metode secara spesifik. Dalam hal ini, guru pun dapat berganti-ganti teknik meskipun dalam koridor metode yang sama. Jadi, teknik pembelajaran yang kami gunakan adalah sesuai dengan metode yang diatas dan cara mengimplementasikannya sesuai dengan kondisi kelas.
5. Media
Media yang cocok digunakan untuk materi ini adalah seperti penggunaan LCD (PPT), dan buku-buku yang menunjang materi yang berhubungan dengan pembahasan materi kami.
6. Alokasi Waktu
Alokasi waktu yang disediakan dalam kurikulum k13 untuk mengajar materi ini hanya sebanyak 3 jam dalam 1 kali pertemuan. Menurut kami alokasi waktu yang disediakan itu sudah sesuai dengan muatan materi yang disajikan anya memang untuk melihat standar kompetensi.
B. Telaah Substantif
1. Standar Kompetensi
Standar kompetensi dari materi tentang (Indahnya Ikhlas dalam Beribadah) yang diajarkan pada kelas X MA ini ialah menunjukkan sikap ikhlas dalam beribadah. Menurut kami, standar kompetensi yang diharapkan setelah siswa mempelajari materi ini sudah pas, Yakni menekankan pada pemahaman siswa tentang betapa pentingnya menghayati dan mengamalkan ajaran agama dan penerapan perilaku ikhlas dalam beribadah hanya kepada Allah.
2. Kompetensi Dasar
Menurut kami, kompetensi dasar mengenai (Indahnya Ikhlas dalam Beribadah), mengajarkan kepada siswa untuk memiliki sikap ikhlas dalam beribadah, kemudian dapat menunjukkan perilaku ikhlas dalam beribadah sebagai implementasi dari Al-Qur’an, dan Hadits mengenai sikap ikhlas. Dengan melihat materi yang disajikan dalam buku paket siswa Al-Qur’an Hadits kelas X MA ini, menurut kami materinya sudah sesuai dengan indikator yang ada.
3. Tujuan Pembelajaran
Adapun relevansi materi dengan pencapaian tujuan pembelajaran, tentunya mengajak siswa untuk dapat menjelaskan, menunjukkan, dan menerapkan sikap dari keikhlasan dalam beribadah.
4. Materi
Materi yang ditelaah oleh penulis adalah materi Al-Qur’an Hadis kelas X semester II Madrasah Aliyah buku Siswa. Indahnya Ikhlas dalam Beribadah. Pada materi ini dipaparkan beberapa poin materi tentang keikhlasan dalam beribadah. Pertama, memahami QS. Al-An’am (6): 162-163, QS. Al-Bayyinah (98): 5, dan hadis yang berhubungan dengan keikhlasan dalam beribadah yang terdiri dari arti kosa kata/kalimat (mufradat), terjemah ayat dan juga penjelasan ayat. Kedua, dibahas tentang ikhlas dalam beribadah sebagai implementasi dari penghayatan dan pemahaman ayat dan hadis yang dapat dipelajari dalam bab ini.
Penjelasan dalam QS. Al-An’am (6) ayat 162-163 mengenai kata (نُسُك) nusuk pada umumnya diartikan sembelihan, tetapi yang dimaksud pada ayat ini bukan saja sembelihan tetapi lebih luas yaitu ibadah, termasuk sholat dan sembelihan itu. Demikian juga ibadah disebut nusuk untuk melukiskan bahwa ia seharusnya suci, murni dikerjakan penuh dengan ikhlas semata-mata hanya mencari ridha Allah.
Kemudian disebutkannya kata shalat sebelum kata ibadah (walaupun shalat adalah salah satu dari ibadah) hal ini mempunyai tujuan untuk menunjukkan betapa penting ibadah shalat tersebut bagi manusia. Karena shalat merupakan bentuk kewajiban yang tidak dapat ditinggalkan oleh setiap orang yang mengaku sebagai muslim, apapun alasannya. Hal ini berbeda dengan kewajiban-kewajiban lainnya.
Pada ayat berikutnya (163), Allah masih menyuruh Nabi untuk menegaskan bahwa tiada sekutu bagi Allah sebagai manifestasi tauhid. Hal ini menjadi dasar diperintahkannya beliau menjadi utusan Allah. Atas perintah ini, nabi Muhammad pun diminta menyatakan, “Aku adalah orang yang pertama-tama berserah diri (muslim)”. Dalam pengertian, beliau adalah orang yang paling sempurna kepatuhan dan penyerahan dirinya kepada Allah.
Penjelasan dalam QS. Al-Bayyinah (98): 5 bahwa agama yang lurus ini bercirikan tiga hal, yaitu adanya ketundukan dan kepatuhan hanya kepada Allah, mendirikan shalat dan menunaikan zakat. Ada dua kata kunci dalam ayat ini untuk mencapai ketundukan dan kepatuhan secara murni kepada Allah, yaitu kata mukhlisin dan hunafa’.
Kata (مخلصين) mukhlishin adalah berbentuk isim fa’il berasal dari kata (خلص) khalusha yang artinya murni setelah sebelumnya diliputi kekeruhan. Dari sini ikhlas merupakan usaha memurnikan dan menyucikan hati sehingga benar-benar tertuju kepada Allah semata, sedang sebelum keberhasilan itu hati masih biasanya diliputi atau dihinggapi oleh hal-hal selain Allah, seperti pamrih dan yang semacamnya.
Kata ( نفاء ح) hunafa’ adalah berbentuk jamak dari kata mufrod (حنيف) hanif yang biasa diartikan lurus atau cenderung kepada sesuatu (kebajikan). Sedangkan penyebutan shalat dan zakat secara khusus mempunyai arti akan pentingnya menjalin hubungan baik dengan Allah dan sesama manusia.
Hadits tentang ikhlas:
رَضِيَ الّلهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ الّلهِ صَلَّى الّلهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : عَنْ اَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ الّلهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ الّلهِ صَلَّى الّلهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِنَّ الّلهَ تَعَالَى لاَ يَنْظُرُ اِلَى اَجْسَامِكُمْ وَلاَ اِلَى صُوَرِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُاِلَى قُلُوْبِكُمْ
Dari Abu Hurairah ra berkata: Rasulullah SAW bersabda: Sesungguhnya Allah tidak melihat bentuk badan dan rupamu, tetapi ia melihat/memperhatikan niat dan keikhlasan dalam hatimu”. (HR. Muslim).
Allah SWT tidak melihat fisik umatnya khususnya dalam konteks ibadah melainkan tergantung pada seberapa ikhlas ia melakukan ibadah tersebut. Seperti telah dinyatakan pada hadits lain yang artinya : “Segala sesuatu tergantung pada niatnya”.
عَنْ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ وَلِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لدُنْيَا يُصِيبُهَا أَوِ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْه
Dari Umar radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Amal itu tergantung niatnya, dan seseorang hanya mendapatkan sesuai niatnya. Barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, dan barang siapa yang hijrahnya karena dunia atau karena wanita yang hendak dinikahinya, maka hijrahnya itu sesuai ke mana ia hijrah.” (HR. Bukhari, Muslim, dan empat imam Ahli Hadits)
Hadist diatas menjelaskan tentang niat dan ikhlas dalam beramal atau berbedah dalam Islam merupakan pilar utama dalam ibadah bahkan menjadi ruhnya ibadah. Hal tersebut disebabkan karena amal seorang mukmin baru akan bernilai ibadah yag diterima oleh Allah jika memenuhi dua syarat: niat ikhlas (karena Allah) dan benar (sesuai dengan tuntunan Rasulullah SAW). Para ulama meyakini bahwa niat ikhlas (amal batin) lebih utama dari amal lahir (perbuatan), meskipun kedua-duanya mutlaq diperlukan adanya niat yang artinya bermaksud, berkeinginan atau bertekad. Ia merupakan amalan batin atau hati yang karenanya tidak harus dilafadzkan. Sementara ikhlas artinya menjadikan Allah sebagai niat utama, tujuan utama atau sebab utama dalam melakukan suatu amal.
Menurut kami, materi yang dipaparkan secara keseluruhan sudah cukup mewakili untuk memenuhi seluruh tujuan pembelajaran. Namun, dari paparan tersebut tidak terlalu mendetail dibahas. Begitupun dengan Hadits tentang ikhlas dalam beribadah
Materi indahnya ikhlas dalam beribadah berkorelasi atau berhubungan dengan materi keakidahan yaitu materi tauhid, bahwa iman kepada Allah dan beribadah hanya karena Allah. Selain itu, materi akhlak yaitu akhlak terpuji dengan berperilaku ikhlas.
Keterpaduan isi, dan kompetensi, yakni menekankan keterpaduan keterkaitan Qur’an Hadits, dan akidah, serta keteladanan. Pencapaian kompetensi pada setiap level/kelas dirancang dapat mengaitkan keterkaitan beberapa unsur, yaitu : pembelajaran Qur’an Hadits, dan akidah, dan unsur keteladanan,serta keterpaduan aspek pengetahuan, sikap, dan pengamalan.
BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Kandungan QS. Al-An’am (6): 162-163 bahwa perintah Allah Swt. untuk yakin shalat, hidup dan mati hanyalah semata-mata untuk Allah Swt. Ikhlas beribadah, beramal dan bertawakal kepada Allah serta untuk beramal shaleh dan menjauhkan diri dari segala larangan-Nya.
Kandungan QS. Al-Bayyinah (98): 5 bahwa perintah untuk beribadah kepada Allah Swt, menaati ajaran Allah, perintah untuk menunaikan zakat. Kandungan Hadits tentang keikhlasan dalam beribadah bahwa Nabi Muhammad Saw. sebagai teladan dan ikhlas dalam beribadah. Jadi dari bab indahnya ikhlas dalam beramal yang disajikan pada kelas X madrasah aliyah ini sudah sesuai dengan standar kompetensi, kompetensi dasar, indikator, tingkat pemahaman siswa. Maupun evaluasi yang ada dalam buku ini sudah sesuai dengan standar kompetensi, kompetensi dasarnya dan dapat mengukur sejauh mana pengetahuan, pemahaman, dan aplikasi siswa terhadap materi ini.
B. Saran
Pada penyusunan makalah ini kami sangat menyadari masih banyak terdapat kekurangan-kekurangan didalamnya baik berupa bahasa maupun cara penyusunannya. Sehingga kritik dan saran yang membangun sangat diharapkan untuk perbaikan makalah ini. Harapan pemakalah, semoga makalah ini dapat memberi pengetahuan baru dan bermanfaat bagi kita semua.
DAFTAR PUSTAKA
https://afifahchen.wordpress.com/2011/06/18/keikhlasan-dalam-beribadah/, diakses pada tanggal 25 September 2020, pukul 20:25.
Kemenag RI, 2015, Buku Siswa Al-Qur’an Hadits Pendekatan Saintifik Kurikulum 2013 MA Kelas X, Jakarta: Kemenag RI.
Team Musyawarah guru Bina PAI MA, Al-Hikmah: Modul Qur’an Hadits Kelas X Semester genap, Sragen: Akik Pusaka, 2008
Tim Al-Fath, Al-Qur’an Hadits Kelas X Semester Genap, Gresik: CV. Putra Kembar Jaya, 2008
Tidak ada komentar:
Posting Komentar