BAB
I
PENDAHULUAN
A. A. Latar Belakang
Sebelum masuknya agama
Islam di Indonesia khususnya di tanah Jawa, wilayah Indonesia didominasi oleh
agama Hindu dan Buddha yang terlebih dahulu memasuki Indonesia pada masa
sekitar abad ke-4 Masehi. Orang-orang dari Gujarat datang ke kepulauan Jawa dan
Sulawesi membawa agama serta peradaban mereka. Kepercayaan yang berkembang
dikalangan masyarakat pada waktu itu yaitu kepercayaan akan adanya sebuah unsur
yang di dewakan, maka kemudian banyak sekali ditemukan peninggalan-peninggalan
yang berbentuk bangunan. Nusantara pada saat itu yang belum mengenal Islam
merupakan masyarkat yang majemuk.
Memasuki abad ke-7
ajaran agama Islam mulai masuk ke Indoneisa berdasarkan teori Makkah. Proses
masuknya ajaran agama Islam di Indonesia pertama kali melalui masyarakat pesisir pantai utara seperti Sunda Kelapa, Banten, Demak, Jepara, dan Gresik.
Ajaran agama Islam disebarkan oleh pedagangpedagang muslim dari Timur Tengah
maupun dari Gujarat dalam rangka urusan dagang. Mereka singgah di
pelabuhan-pelabuhan sepanjang pesisir pantai utara Jawa, selain untuk urusan
dagang para saudagar muslim tersebut juga berdakwah mensyiarkan agama Islam di
kalangan mayarakat Jawa.
Sementara itu, setelah Islam berkembang di daerah pesisir pantai utara, dalam literatur lainnya ditemukan bukti bahwa pada abad ke-15 dan ke-16 Masehi ajaran agama Islam juga disebar luaskan oleh ”Wali Sembilan atau sering menyebutnya dengan istilah Walisongo. Walisongo adalah sebuah nama organisasi dakwah, Walisongo adalah sekelompok wali yang berjumlah 9 (sembilan) orang. Para anggota Waliosongo tersebut antara lain: Raden Rahmad (Sunan Ampel), Syarih Hidayatullah ( Sunan Gunung Jati), Raden Mas Syahid (Sunan Kalijaga), Sunan Kudus, Sunan Drajat, Makdum Ibrahim (Sunan Bonang), Raden Paku (Sunan Giri), Sunan Gresik (Maulana Malik Ibrahim).
B. B. Rumusan Masalah
1.
Apa pengertian Walisongo?
2.
Siapa tokoh-tokoh Walisongo?
3. Bagaimana strategi dan metode dakwah Walisongo?
C. C. Tujuan Penulisan
1.
Untuk mengetahui tentang pengertian Walisongo.
2.
Untuk mengetahui tentang tokoh-tokoh
Walisongo.
3.
Untuk mengetahui tentang strategi dan
metode dakwah Walisongo.
BAB
II
PEMBAHASAN
A. A. Pengertian
Walisongo
Istilah wali berasal dari bahasa Arab, artinya tercinta, pembantu,
penolong dan pemimpin. Bentuk pluralnya
adalah auliya’. Al-Qur’an menyifati para wali Allah sebagai orang-orang yang
beriman dan bertaqwa kepada Allah. Tidak adak kekhawatiran pada mereka dan
tidak pula mereka bersedih hati. Wali Songo disini diartikan sekumpulan orang
(semacam dewan dakwah) yang dianggap memiliki hak untuk mengajarkan Islam
kepada masyarakat Islam di bumi Nusantara pada zamannya.[1]
Kata “wali” menurut istilah, ialah sebutan bagi orang-orang Islam yang
dianggap keramat, penyebar agama Islam, mereka dianggap “kekasih Allah”,
orang-orang yang dekat dengan Allah, dikaruniai tenaga gaib, mempunyai
kekuatan-kekuatan batin yang sangat berlebih, mempunyai ilmu yang sangat
tinggi.
Sebagian penulis berpendapat bahwa istilah Wali Songo berasal dari bahasa
Arab , yaitu wali dan tsana’(mulia), sehingga berarti para wali yang mulia.
Sebagian lagi berpendapat istilah Wali Songo berasal dari bahasa Jawa, yaitu
wali dan sana (baca: sono), yaitu tempat. Ada pula yang menyebut dengan Wali
Songo berarti sembilan wali atau bahkan ada yang menyatakan Wali Sanga.
Kemudian, ada empat pendapat mengenai arti Walisongo. Pertama adalah wali
yang sembilan, yang menandakan jumlah “wali” yang ada sembilan, atau “sanga”
dalam bahasa Jawa. Kedua menyebutkan bahwa kata songo/sanga berasal dari kata
“tsana” yang dalam bahasa Arab berarti mulia. Ketiga menyebut kata “sanga”
berasal dari bahasa Jawa, yang berarti tempat. Keempat mengatakan bahwa
“Walisongo” adalah sebuah majelis dakwah di Nusantara (yang meliputi Indonesia,
Malayu/Malaysia, dan sekitarnya) yang pertama kali didirikan oleh Sunan Gresik
(Maulana Malik Ibrahim) pada tahun 1404 Masehi (808 Hijriah).
Dari berbagai pendapat tersebut, yang paling kuat adalah berdasarkan
istilah dan fakta sejarah, yaitu bahwa Walisongo adalah sebuah dewan dakwah,
dewan mubaligh , organisasi ulama dalam bentuk lembaga dakwah para wali yang
berjumlah sembilan. Setiap ada yang wafat atau meninggalkan Jawa maka diangkat
wali lain sebagai penggantinya sehingga tetap berjumlah sembilan. Para Walisongo
adalah pembaharu masyarakat pada masanya. Pengaruh mereka terasa dalam beragam
bentuk manifestasi peradaban baru masyarakat jawa mulai dari perniagaan, pelayaran dan
perikanan, bercocok tanam dan persawahan, pengobatan, kebudayaan, kesenian,
pendidikan, kemasyarakatan, hingga kedalam masalah aqidah, politik, militer,
hukum, dan pemerintahan dikerajaan-kerajaan Islam.[2]
B. Tokoh-Tokoh
Walisongo
Ada pun nama-nama sembilan orang Walisongo yang
umumnya dikenal adalah Sunan Maulana Malik Ibrahim atau Sunan Gresik (wafat
Tahun 1419), Sunan Ampel (lahir tahun 1401), Sunan Giri atau dikenal pula sebagai
Raden Paku, Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah atau juga dikenal dengan
Fatahillah (wafat tahun 1570), Sunan Muria atau Raden Said, Sunan Kudus atau
dikenal pula sebagai Syekh Ja’far Shadiq, Sunan Drajat atau Raden Qasim, Sunan
Kali Jaga yang juga digelari sebagai Raden Mas Syahid, Sunan Bonang atau Raden
Ibrahim (1449-1525).
1. Sunan
Gresik
Sunan Gresik atau Maulana Malik Ibrahim adalah
keturunan ke-22 dari Nabi Muhammad. Ia diperkirakan lahir di Samarkand (As-Samarqandiy)
di Asia Tengah, pada paruh awal abad ke-14. Dalam cerita rakyat, ada yang
memanggilnya “Kakek Bantal” karena beliau sangat menyayangi dan dekat dengan
kaum yang kurang mampu. Sunan Gresik dianggap sebagai wali pertama yang
mendakwahkan Islam di Jawa. Ia mengajarkan cara-cara baru bercocok tanam dan
banyak merangkul rakyat kebanyakan, yaitu golongan masyarakat Jawa yang
tersisihkan pada masa akhir kekuasaan Majapahit. Malik Ibrahim berusaha menarik
hati masyarakat, yang tengah dilanda krisis ekonomi dan perang saudara. Ia
membangun pondokan tempat belajar agama di Leran, Gresik. Selain ahli ilmu
agama, Sunan Gresik juga ahli pertanian, ahli tata negara dan perintis lembaga
pendidikan pesantren. Beliau wafat pada tahun 1419 M (882 H), beliau dimakamkan
di Gapura Wetan Gresik.[3]
2. Sunan Ampel
Sunan Ampel bernama asli Raden
Rahmat, keturunan ke-22 dari Nabi Muhammad. Menurut riwayat, ia adalah putra
Ibrahim Zainuddin Al-Akbar dan seorang putri Champa yang bernama Dewi Condro
Wulan Putri Raja Champa terakhir dari Dinasti Ming. Sunan Ampel dilahirkan di
Aceh tahun 1401 M. Wejangan terkenal Sunan Ampel adalah MoLimo. Molimo ini
merupakan ajaran yang Moh (bhs Jawa= tidak mau atau menolak) pada lima kata
yang diawali huruf “M” dalam bahas Jawa, yaitu 1). Moh Madat (tidak mau
mengisap candu atau penggunaan obat-obatan terlarang), 2). Moh Madon (yang
artinya tidak mau main perempuan), 3). Moh Mabuk, 4). Moh Maling (tidak
mencuri), 5). Moh Main (tidak main judi). Sunan Ampel adalah sesepuh para wali
lainnya. Pesantrennya bertempat di Ampel Denta Surabaya, dan merupakan salah
satu pusat penyebaran agama Islam tertua di Jawa.
Ia menikah dengan Dewi
Condrowati yang bergelar Nyai Ageng Manila, putri adipati Tuban bernama Arya
Tejo dan menikah juga dengan Dewi Karimah binti Ki Kembang Kuning. Pernikahan
Sunan Ampel dengan Dewi Condrowati alias Nyai Ageng Manila binti Aryo Tejo,
berputera: Sunan Bonang, Siti Syari’ah alias Nyi Ageng Maloka, Sunan Drajat,
Siti Muthmainnah dan Siti Hafsah. Pernikahan Sunan Ampel dengan Dewi Karimah
putri Ki Kembang Kuning, berputera: Dewi Murtasiyah (istri Sunan Giri), Asyiqah
alias Dewi Murtasimah (istri Raden Fatah), Raden Husamuddin (Sunan Lamongan),
Raden Zainal Abidin (Sunan Demak), Pangeran Tumapel dan Raden Faqih (Sunan
Ampel 2). Sunan Ampel wafat di Desa Ampel Denta tahun 1481 M. Beliau dimakamkan
di Ampel Denta dekat Masjid Sunan Ampel Surabaya.
3. Sunan Giri
Sunan Giri (Raden Paku) Sunan Giri
atau Raden Paku adalah putra dari Maulana Ishaq dengan Dewi Sekardadu, yaitu
putri dari Menak Sembuyu penguasa wilayah Blambangan pada masa-masa akhir
kekuasaan Majapahit. Lahir di Blambangan tahun 1442, beliau memiliki beberapa
nama panggilan, yaitu Raden Paku, Prabu Satmata, Sultan Abdul Faqih, Raden
‘Ainul Yaqin dan Joko Samudro.
Sunan Giri merupakan murid dari
Sunan Ampel dan saudara seperguruan dari Sunan Bonang yang ahli Fiqih dan
menguasai ilmu Falak. Di masa menjelang keruntuhan Majapahit, ia dipercaya
sebagai Raja peralihae cn sebelum Raden Fatah naik menjadi Sultan Demak. Ketika
Sunan Ampel wafat, ia menggantikannya sebagai Mufti tanah Jawa.
Sunan Giri mendirikan pemerintahan
mandiri di Giri Kedaton, Gresik; yang selanjutnya berperan sebagai pusat dakwah
Islam di wilayah Jawa, Madura, Lombok, Kalimantan, Sulawesi, bahkan sampai ke
kepulauan Maluku. Salah satu keturunannya yang terkenal ialah Sunan Giri
Prapen, yang menyebarkan agama Islam ke wilayah Lombok dan Bima. Terdapat
beberapa karya seni tradisional Jawa yang sering dianggap berhubungkan dengan
Sunan Giri, di antaranya adalah permainan-permainan anak seperti Jelungan, dan
Cublak-cublak Suweng, serta beberapa gending (lagu instrumental Jawa) seperti
Asmaradana dan Pucung. Sunan Giri meninggal pada tahun 1506 M dan dimakamkan di
desa Giri kabupaten Gresik, provinsi Jawa Timur.
4. Sunan Bonang
Sunan Bonang Sunan Bonang atau Makhdum Ibrahim
adalah Putra Sunan Ampel yang lahir tahun 1465. Sunan Bonang banyak berdakwah
melalui kesenian untuk menarik penduduk Jawa agar memeluk agama Islam. Sunan
Bonang terkenal sebagai penggubah suluk Wijil dan tembang Tombo Ati, yang masih
sering dinyanyikan orang. Ia menimba ilmu ke Pasai bersama-sama Raden Paku.
Beliaulah yang mendidik Raden Fatah. Beliau diperkirakan wafat tahun 1525 M dan
dimakamkan di kompleks Masjid Agung Tuban Jawa Timur.
5. Sunan Kalijaga
Sunan Kalijaga lahir pada tahun 1450
dengan nama Raden Said. Dia adalah putra adipati Tuban yang bernama Tumenggung
Wilatikta atau Raden Sahur. Nama lain Sunan Kalijaga antara lain Lokajaya,
Syaikh Malaya, Pangeran Tuban, dan Raden Abdurrahman. Sunan Kalijaga menikah
dengan Dewi Saroh binti Maulana Ishak, dan mempunyai 3 putra: R. Umar Said
alias Sunan Muria, Dewi Rakayuh, dan Dewi Sofiah. Sunan Kalijaga banyak
menghasilkan karya seni berfalsafah Islam. Ia membuat wayang kulit dan cerita
wayang Hindu yang diislamkan. Selain itu, beliau menciptakan Tembang suluk
Lir-Ilir dan Gundul-gundul Pacul.
6. Sunan Drajat
Nama aslinya adalah Syarifudin
(putra Sunan Ampel, adik Sunan Bonang). Dakwah beliau terutama dalam bidang
sosial. Beliau juga mengkader para da’i yang berdatangan dari berbagai daerah,
antara lain dari Ternate dan Hitu Ambon. Sunan Drajat lebih banyak berdakwah
kepada masyarakat kebanyakan. Ia menekankan kedermawanan, kerja keras, dan
peningkatan kemakmuran masyarakat, sebagai pengamalan dari agama Islam.
Pesantren Sunan Drajat dijalankan secara mandiri sebagai wilayah perdikan,
bertempat di Desa Drajat, Kecamatan Paciran, Lamongan Jawa. Tembang macapat
Pangkur disebutkan sebagai ciptaannya. Gamelan Singomengkok peninggalannya
terdapat di Musium Daerah Sunan Drajat, Lamongan. Sunan Drajat wafat pada 1522
dan dimakamkan di daerah Drajat Lamongan Jawa.
7. Sunan Gunung Jati
Sunan Gunung Jati atau Syarif
Hidayatullah adalah putra Syarif Abdullah Umdatuddin putra Ali Nurul Alam putra
Syaikh Husain Jamaluddin Akbar. Dari pihak ibu, ia masih keturunan keraton
Pajajaran melalui Nyai Rara Santang, yaitu anak dari Sri Baduga Maharaja Prabu
Siliwangi dari Nyai Subang Larang, dan merupakan adik dari Kian Santang dan
Pangeran Walangsungsang yang bergelar Cakrabuwana/Cakra atau Mbah Kuwu Cirebon
Girang. Sunan Gunung Jati mengembangkan Cirebon sebagai pusat dakwah dan
pemerintahannya, yang sesudahnya kemudian menjadi Kesultanan Cirebon. Anaknya
yang bernama Maulana Hasanuddin, juga berhasil mengembangkan kekuasaan dan
menyebarkan agama Islam di Banten, sehingga kemudian menjadi cikal-bakal
berdirinya Kesultanan Banten
8.
Sunan Kudus
Sunan Kudus lahir dengan nama asli
Ja’far Shadiq, lahir pada pertengahan abad ke 15. Sunan Kudus memiliki peran
yang besar dalam pemerintahan Kesultanan Demak, yaitu sebagai panglima perang,
penasihat Sultan Demak, mursyid thariqah, dan hakim peradilan negara. Sunan
Kudus banyak berdakwah di kalangan kaum penguasa dan Priayi Jawa. Di antara
yang pernah menjadi muridnya, ialah Sunan Prawoto penguasa Demak Jawa Tengah,
dan Arya Penangsang Adipati Jipang Panolan. Salah satu peninggalannya yang
terkenal ialah Masjid Menara Kudus, yang arsitekturnya bergaya campuran Hindu
dan Islam dan merupakan salah satu warisan budaya Nusantara. Sunan Kudus wafat
pada tahun 1550 M.
9. Sunan
Muria
Sunan Muria dilahirkan dengan nama
asli Raden Prawoto atau Raden Umar Said putra Sunan Kalijaga. Beliau
menyebarkan Islam dengan menggunakan sarana gamelan, wayang, serta kesenian
daerah lainnya. Sunan Muria menikah dengan Dewi Sujinah, putri Sunan Ngudung.
Jadi, Sunan Muria adalah adik ipar dari Sunan Kudus Beliau dimakamkan di Gunung
Muria, di sebelah utara Kota Kudus Jawa Tengah.[4]
C. Strategi dan Metode Dakwah Walisongo
1. Strategi Dakwah Walisongo
Strategi dapat diartikan sebagai
tata cara dan usaha-usaha untuk menguasai dan mendayagunakan segala sumber daya
untuk mencapai tujuan. Dengan demikian, strategi dakwah yang dilakukan oleh
Walisongo itu bisa diartikan menjadi segala cara yang ditempuh oleh para wali
untuk mengajak manusia ke jalan Allah dengan memanfaatkan segala sumber daya
yang dimiliki. Beberapa strategi Walisongo dalam pelaksanaan dakwah dapat
dikemukakan antara lain sebagai berikut:
Pertama, pembagian wilayah dakwah.
para Walisongo dalam melakukan aktivitas dakwahnya antara lain sangat
memperhitungkan wilayah strategis. Beranjak dari sinilah, para Walisongo yang
dikenal jumlahnya ada sembilan orang tersebut melakukan pemilihan wilayah
dakwahnya tidak sembarangan. Penentuan tempat dakwahnya dipertimbangkan pula
dengan faktor geostrategis yang sesuai dengan kondisi zamannya. Kalau kita
perhatikan dari kesembilan wali dalam pembagian wilayah kerjanya ternyata
mempunyai dasar pertimbangan geostrategis yang mapan sekali. Kesembilan wali
tersebut membagi kerja dengan rasio 5:3:1. Para wali melihat realiatas
masyarakat yang masih dipengaruhi oleh budaya yang bersumber dari ajaran Hindu
dan Budha. Saat itu para Wali mengakui seni sebagai media komunikasi yang
mempunyai pengaruh besar terhadap pola pikir masyarakat. Oleh kerana itu, seni
dan budaya yang sudah berakar di tengah-tengah masyarakat menurut mereka perlu
dimodifikasi, dan akhirnya bisa dimanfaatkan untuk kepentingan dakwah.
Kedua, sistem dakwah dilakukan dengan
pengenalan ajaran Islam melalui pendekatan persuasif yang berorientasi pada
penanaman aqidah Islam yan disesuaikan dengan situasi dan kondisi yang ada.
Rangkaian penggunaan sistem dakwah ini, misalnya kita dapati ketika Raden
Rahmat atau Sunan Ampel dan kawan-kawan berdakwah kepada Adipati Aria Damar
dari Palembang. Berkat keramahan dan kebijaksanaan Raden Rahmat, akhirnya Raden
Aria Damar sudi masuk Islam bersama istrinya, yang diikuti pula oleh hampir
seluruh anak negerinya.
Ketiga, melakukan perang ideologi untuk
memberantas etos dan nilai-nilai dogmatis yang bertentangan dengan aqidah
Islam, di mana para ulama harus menciptakan mitos dan nilai-nilai tandingan
baru yang sesuai dengan Islam. Salah satu tugas utama dari para ulama yang
telah dikader oleh Raden Rahmat adalah menyebarkan ajaran Islam.
Keempat, melakukan pendekatan
terhadap para tokoh yang dianggap mempunyai pengaruh di suatu tempat dan
berusaha menghindari konflik. Salah satu azas dakwah yang dicanangkan oleh
Walisongo adalah menghindari konflik-konflik dengan cara melakukan pendekatan
kepada para tokoh setempat, diilhami oleh cara dakwah yang dilakukan oleh para
Nabi Muhammad saw, apa yang pernah dirintis oleh para Rasulullah untuk
memperkuat kedudukan Islam di tengah peradaban Jahiliyah dewasa itu, yang
kenyataannya relevan juga untuk diterapkan di Jawa oleh para Wali, meski dengan
taktik yang disesuaikan.
Kelima, berusaha mengguasai
kebutuhan-kebutuhan pokok yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat, baik
kebutuhan yang bersifat materil maupun spiritual. Faktor kebutuhan pokok amat
vital bagi masyarakat dewasa itu adalah menyangkut masalah air, baik air
sebagai kebutuhan keluarga sehari-hari maupun sebagai irigasi pertanian.[5]
2. Metode Dakwah Wali Songo
Keberhasilan dakwah para Wali Songo tentu juga tidak
terlepas dari metode yang mereka aplikasikan dalam pelaksanaan di lapangan.
Secara umum, dapat dikatakan bahwa metode dakwah para Walisongo tidak terlepas
dari metode ini digunakan oleh mereka dalam tokoh-tokoh khusus seperti pemimpin,
orang terpandang dan terkemuka dalam dalam masyarakat, seperti para bupati,
adipati, raja-raja ataupun menghadapi para bangsaan lainnya.
Metode al-hikmah sebagai sistem dan cara-cara berdakwah para
wali merupakan jalan kebijaksanaan yang diselenggarakan secara popular,
atraktif, dan sensational. Cara ini mereka pergunakan dalam menghadapi
masyarakat awam. Dengan tata cara yang amat bijaksana, masyarakat awam itu
mereka hadapi secara massal. Kadang-kadang terlihat sensasional bahkan ganjil
dan unik sehingga menarik perhatian umum. Dalam rangkaian metode ini kita
dapati misalnya, Sunan Kalijaga dengan gamelan Sekatennya. Beberapa metode
penting lainnya yang diterapkan oleh para walisongo sebagaimana dikemukakan
oleh Ridin Sofwan dkk (2000: 271-284) yaitu:
Pertama, metode pembentukan dan penanaman kader, serta
penyebaran juru dakwah ke berbagai daerah. Tempat yang dituju ialah daerah-
daerah yang sama sekali kosong dari penghuni atau kosong dari pengaruh Islam.
Kedua, dakwah melalui
jalur keluarga/perkawinan. Sunan Ampel misalnya, putri beliau yang bernama Dewi
Murthosiyah misalnya, dikawinkan dengan Raden Patah (Bupati Demak), Putri Sunan
Ampel yang bernama ‘Alawiyah’ dikawinkan dengan Syarif Hidayatullah (Sunan
Gunung Jati). Sedangkan Putri beliau yang bernama Siti Sariyah dikawinkan
dengan Usman haji dar Ngudung.
Ketiga, mengembangkan pendidikan pesantren yang mula-mula
dirintis oleh Syekh Maulana Malik Ibrahim adalah suatu model pendidikan Islam
yang mengambil bentuk pendidikan biara dan asrama yang dipakai oleh pendeta dan
biksu dalam mengajar dan belajar. Oleh sebab itu, pesantren di masa itu
pengaruhnya masih terlihat sampai saat ini.
Keempat, dengan mengembangkan kebudayaan Jawa. Dalam
kebudayaan Jawa Walisongo memberikan andil yang sangat besar. Bukan hanya pada
pendidikan dan pengajaran, tetapi juga meluas pada bidangbidang hiburan, tata
sibuk (perintang waktu luang), kesenian dan aspek-aspek lain dibidang
kebudayaan pada umumnya.
Kelima, metode dakwah melalui sarana dan prasarana yang
berkait dengan masalah perekonomian rakyat. Misalnya untuk efisiensi dalam
perekonomian para wali berijtihad tentang kesempurnaan alat-alat pertania,
perabotan dapur, dan barang pecah belah. Dalaam pada itu, Sunan Kaslijaga
menyumbangkan karya- karya yang berkenaan dengan pertanian seperti filsafat
bajak dan cangkul. Dengan membuat jasa dalam bidang kemamuran rakyat melalui
penyempurnaan sarana dan prasara menjadi lebih sempurna, beliau berharap dapat
menarik perhatian dan ketaatan masyarakat agar menuruti ajakan Sunan Kalijaga
serta wali-walinya.
Keenam, dalam mengembangkan dakwa Islamiyah di tanah Jawa
para wali menggunakan sarana politik untuk mencapai tujuannya. Berangkat dari
pemikiran ini, maka kehadiran keraton Demak tidak mungkin diabaikan begitu saja
peranannya dalam sejarah penyebaran Isalam pada masa itu. Pentingnya kekuasan
politik bagi kelangsungan dakwah ini tentunya didasari oleh para Walisongo,
sehingga tidaklah mengherankan kalau mereka juga banyak terlibat dalam
percaturan politik ini. Kebanyakan para wali adalah panglima perang, penasehat
saja, atau juga penguasa itu sendiri. Pada saat Demak menyerang Majapahit,
misalnya, yang menjadi penglima perang adalah Sunan Ngudung, yang kemudain
digantikan oleh Sunan Kudus, dan dibantu oleh wali yang lain. Dimanfaatkannya
jalur kekuasaan dalam dakwah dapat dilihat juga pada proses pendirian masjid
Demak. Masjid ini adalah masjid yang didirikan bersama oleh para wali sebagai
pusat dakwah mereka. Namun tidak seperti pada umumnya, masjid ini tidak
dikelola oleh seorang wali.
Masjid Demak adalah masjid keraton yang pengelolaannya
langsung dibawah penguasaan sultan bertahta dengan demikian, dapat dikatakan
bahwa pusat dakwah walisanga tidak di tempat salah seorang wali atau pun masing–masing
wali, tetapi di pusat kekuasaan politik di keraton. Selain itu, pada jaman
Demak ini pula dikenal adanya semacam lembaga dakwah yang beranggotakan para
wali dan dipimpin langsung oleh sultan.[6]
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Ada
empat pendapat mengenai arti Walisongo. Pertama adalah wali yang sembilan, yang
menandakan jumlah wali yang ada sembilan, atau sanga dalam bahasa Jawa. Kedua
menyebutkan bahwa kata songo/sanga berasal dari kata “tsana” yang dalam bahasa
Arab berarti mulia. Ketiga menyebut kata “sana” berasal dari bahasa Jawa, yang
berarti tempat. Keempat mengatakan bahwa Walisongo adalah sebuah majelis dakwah
di Nusantara (yang meliputi Indonesia, Malayu/Malaysia, dan sekitarnya) yang pertama
kali didirikan oleh Sunan Gresik (Maulana Malik Ibrahim) pada tahun 1404 Masehi
(808 Hijriah).
Ada pun nama-nama sembilan orang Walisongo yang
umumnya dikenal adalah Sunan Maulana Malik Ibrahim atau Sunan Gresik (wafat
Tahun 1419), Sunan Ampel (lahir tahun 1401), Sunan Giri atau dikenal pula sebagai
Raden Paku, Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah atau juga dikenal dengan
Fatahillah (wafat tahun 1570), Sunan Muria atau Raden Said, Sunan Kudus atau
dikenal pula sebagai Syekh Ja’far Shadiq, Sunan Drajat atau Raden Qasim, Sunan
Kali Jaga yang juga digelari sebagai Raden Mas Syahid, Sunan Bonang atau Raden
Ibrahim (1449-1525).
Dalam penyampaian dakwah para wali mempunyai strategi
dan metode yang mana hal itu dapat memperluas penyebaran Islam. Walisongo
dipercaya sebagai peletak batu pertama Islam di pulau Jawa. Kiprah Walisongo
dalam peta dakwah Islam di Indonesia pada umumnya, di pulau Jawa khususnya
memang merupakan fakta sejarah yang tidak terebantahkan.
B. Saran
Pada penyusunan makalah ini kami sangat menyadari masih
banyak terdapat kekurangan-kekurangan didalamnya baik berupa bahasa maupun cara
penyusunannya. Sehingga kritik dan saran yang membangun
sangat diharapkan untuk perbaikan makalah ini. Harapan pemakalah, semoga
makalah ini dapat memberi pengetahuan baru dan bermanfaat bagi kita semua.
DAFTAR PUSTAKA
Abdullah, Raxhmad, 2015, Wali Songo Glora Dakwah Dan Jihad Ditanah
Jawa (1404-1482 M), Solo: Al-Wafi.
Hatmansyah, 2015, Strategi dan Metode Dakwah Walisongo, Jurnal Al-Hiwar, 3 (5), 10-17.
H. Darsono, T. Ibrahim, 2009, Tonggak Sejarah Kebudayaan Islam Kelas IX
MTs, Solo: Tiga Serangkai.
Kemenag RI, 2015, Buku Siswa Sejarah Kebudayaan Islam Pendekatan Saintifik Kurikulum 2013
Kelas IX MTs, Jakarta: Kemenag RI.
Mas’udi, 2015, DAKWAH
NUSANTARA (Kerangka Harmonis Dakwah Walisongo dalam Diseminasi Ajaran Islam di
Nusantara), AT-TABSYIR: Jurnal Komunikasi Penyiaran Islam, 3 (2), 280-298.
[1] Mas’udi, DAKWAH NUSANTARA (Kerangka Harmonis Dakwah
Walisongo dalam Diseminasi Ajaran Islam di Nusantara), AT-TABSYIR: Jurnal
Komunikasi Penyiaran Islam, Vol. 3, No.2, 2015, hal. 286.
[2] Rachmad Abdullah, Wali Songo Glora Dakwah Dan Jihad Ditanah
Jawa (1404-1482 M), Solo: Al-Wafi, 2015, hal. 68.
[3] H. Darsono, T. Ibrahim, Tonggak Sejarah Kebudayaan Islam Kelas IX
MTs, Solo: Tiga Serangkai, 2009, hal. 55.
[4] Kemenag RI, Buku Siswa Sejarah Kebudayaan Islam
Pendekatan Saintifik Kurikulum 2013 Kelas IX MTs, Jakarta: Kemenag RI,
2015, hal. 33-36.
[5] Hatmansyah, Strategi
dan Metode Dakwah Walisongo, Jurnal Al-Hiwar, Vol. 03, No. 05, 2015,
hal. 13.
[6] Ibid., hal. 14-16.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar