• Makalah Tafsir Tarbawi: Tafsir Ayat Al-Qur’an yang berkaitan dengan Fungsi Al-Qur’an Sebagai Pedoman Hidup dan Dasar Penyelenggaraan Pendidikan

     

    BAB I

    PENDAHULUAN

     

    A.    Latar Belakang        

    Pendidikan agama Islam merupakan pendidikan formal yang harus diberikan kepada peserta didik.

    Abdul Wahab Khallaf mendefinisikan Al-Qur’an adalah Kalam Allah yang diturunkan melalui Malaikat Jibril kepada hati Rasulullah anak Abdullah dengan lafadz bahasa arab dan makna hakiki untuk menjadi hujjah bagi Rasulullah atas kerasulannya dan menjadi pedoman bagi manusia dengan penunjuknya serta beribadah membacanya.

    Adapun definisi Al-Qur’an menurut sebagian besar ulama Ushul Fiqih adalah Kalam Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW dalam bahasa arab yang dinukilkan kepada generasi sesudahnya secara mutawatir, membacanya merupakan ibadah, tertulis dalam mushaf; dimulai dari surat Al-Fatihah dan ditutup dengan surat An-Nash.

    Dari definisi-definisi diatas, disini dapat disimpulkan beberapa  ciri khas Al-Qur’an, antara lain sebagai berikut:

    1.      Al-Qur’an merupakan kalam Allah yang diturunkan kepada nabi Muhammad SAW.

    2.      Bahasa Al-Qur’an adalah bahasa Arab.

    3.      Al-Qur’an menjadi pedoman dan petunjuk bagi umat manusia.

    4.      Al-Qur’an dinukilkan kepada beberapa generasi sesudahnya secara mutawatir.

    5.      Membaca Al-Qur’an merupakan ibadah, dan membaca setiap kata dalam al-Qur’an mendapat pahala dari Allah.

    6.      Al-Qur’an dimulai dari surat Al-Fatihah dan diakhiri dengan surat An-Nash.

    Nabi Muhammad SAW sebagai pendidik pertama, pada awal masa pertumbuhan Islam telah menjadikan Al-Qur’an sebagai dasar pendidikan agama Islam disamping Sunnah beliau sendiri. Kedudukan al-Qur’an sebagai sumber pokok/ dasar Pendidikan Agama Islam dapat dipahami dari ayat al-Qur’an itu sendiri.

     

    B.     Rumusan Masalah

    1.      Bagaimana Tafsir Al-Qur’an Surah. Al-An’am/6: 91-92

    2.      Bagaimana Tafsir Al- Qur’an Surah Al-Baqarah/2: 1-5, 97, 185

    3.      Bagaimana Tafsir Al- Qur’an Surah. Ali Imron/3: 7, 164

    4.      Bagaimana Tafsir Al-Qur’an Surah. Al-Isra’/17: 9, 82

     

     

    C.    Tujuan penulisan

    1.      Untuk mengetahui bagaimana Tafsir Al-Qur’an Surah. Al-An’am/6: 91-92

    2.      Untuk mengetahui bagaimana Tafsir Al- Qur’an Surah Al-Baqarah/2: 1-5, 97, 185

    3.      Untuk mengetahui bagaimana Tafsir Al- Qur’an Surah. Ali Imron/3: 7, 164

    4.      Untuk mengetahui bagaimana Tafsir Al-Qur’an Surah. Al-Isra’/17 

     

     

    BAB II

    PEMBAHASAN

     

    Tafsir Ayat Al-Qur’an yang berkaitan dengan Fungsi Al-Qur’an Sebagai Pedoman Hidup dan Dasar Penyelenggraan Pendidikan

    A.      QS. Al-An’am/6: 91-92

    a.  QS. Al-An’am/6: 91

    وَمَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ إِذْ قَالُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ عَلَىٰ بَشَرٍ مِنْ شَيْءٍ ۗ قُلْ مَنْ أَنْزَلَ الْكِتَابَ الَّذِي جَاءَ بِهِ مُوسَىٰ نُورًا وَهُدًى لِلنَّاسِ ۖ تَجْعَلُونَهُ قَرَاطِيسَ تُبْدُونَهَا وَتُخْفُونَ كَثِيرًا ۖ وَعُلِّمْتُمْ مَا لَمْ تَعْلَمُوا أَنْتُمْ وَلَا آبَاؤُكُمْ ۖ قُلِ اللَّهُ ۖ ثُمَّ ذَرْهُمْ فِي خَوْضِهِمْ يَلْعَبُونَ

    “Dan mereka tidak menghormati Allah dengan penghormatan yang semestinya, di kala mereka berkata: "Allah tidak menurunkan sesuatupun kepada manusia". Katakanlah: "Siapakah yang menurunkan kitab (Taurat) yang dibawa oleh Musa sebagai cahaya dan petunjuk bagi manusia, kamu jadikan kitab itu lembaran-lembaran kertas yang bercerai-berai, kamu perlihatkan (sebahagiannya) dan kamu sembunyikan sebahagian besarnya, padahal telah diajarkan kepadamu apa yang kamu dan bapak-bapak kamu tidak mengetahui(nya)?" Katakanlah: "Allah-lah (yang menurunkannya)", kemudian (sesudah kamu menyampaikan Al Quran kepada mereka), biarkanlah mereka bermain-main dalam kesesatannya.”[1]

    Tafsir Jalalain menafsirkan ayat tersebut sebagai berikut : (Dan mereka tidak menghormati) orang-orang Yahudi itu (Allah dengan penghormatan yang semestinya) artinya mereka sama sekali tidak mengagungkan-Nya dengan pengagungan yang seharusnya, atau mereka tidak mengetahui-Nya dengan pengetahuan yang semestinya (di kala mereka mengatakan) kepada Nabi saw., yaitu sewaktu mereka mendebat Nabi saw. dalam masalah Alquran ("Allah tidak menurunkan sesuatu pun kepada manusia." Katakanlah,) kepada mereka ("Siapakah yang menurunkan kitab Taurat yang dibawa oleh Musa sebagai cahaya dan petunjuk bagi manusia, kamu jadikan kitab itu) dengan memakainhya pada tiga tempat (lembaran-lembaran kertas) kamu menuliskannya pada lembaran-lembaran kertas yang bercerai-berai (kamu perlihatkan sebagiannya) kamu tidak suka menampakkan kesemua isinya (dan kamu sembunyikan sebagian besarnya) sebagian besar dari apa yang terdapat di dalam kandungannya, seperti mengenai ciri-ciri Nabi Muhammad saw. (padahal telah diajarkan kepadamu) hai orang-orang Yahudi di dalam Alquran (apa yang kamu dan bapak-bapak kamu tidak mengetahuinya?") karena tidak terdapat di dalam kitab Taurat, maka hal itu membuat kamu ragu dan berselisih paham tentang Taurat antara sesamamu. (Katakanlah, "Allahlah") yang menurunkannya; jika mereka tidak mengatakannya, maka tidak ada jawaban lain kecuali jawaban itu (kemudian biarkanlah mereka di dalam kesibukan mereka) dalam kebatilan mereka (bermain-main).[2]

    Sedangkan tafsir ayat di atas menurut Quraish Shihab adalah orang-orang kafir itu tidak memandang Allah, kasih sayang, dan kebijaksanaan-Nya sebagaimana mestinya, karena mereka mengingkari akan diturunkannya kerasulan kepada salah seorang di antara manusia. Wahai Nabi, tanyakan kepada orang-orang musyrik dan sekutu mereka dari orang-orang Yahudi, "Siapa yang menurunkan kitab yang dibawa Mûsâ, yang bagaikan cahaya yang menyinari, dan hidayah yang membimbing? Kitab yang kalian tulis pada lembaran-lembaran kertas yang terpisah-pisah, kalian perlihatkan bagian yang sesuai dengan hawa nafsu, dan kalian sembunyikan banyak bagian yang bisa membawa kalian untuk mempercayai al-Qur'ân. Juga kitab yang darinya kalian banyak mengetahui hal-hal yang sebelumnya kalian dan bapak-bapak kalian tidak mengetahuinya." Jawablah, wahai Nabi, dengan mengatakan, "Allahlah yang menurunkan Tawrât." Lalu biarkanlah mereka berlalu dalam kesesatan dan bermain-main seperti anak kecil.

     

    b.      QS. Al-An’am/6: 92

    وَهَٰذَا كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ مُبَارَكٌ مُصَدِّقُ الَّذِي بَيْنَ يَدَيْهِ وَلِتُنْذِرَ أُمَّ الْقُرَىٰ وَمَنْ حَوْلَهَا ۚ وَالَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْآخِرَةِ يُؤْمِنُونَ بِهِ ۖ وَهُمْ عَلَىٰ صَلَاتِهِمْ يُحَافِظُونَ

     

    “Dan ini (Al Quran) adalah kitab yang telah Kami turunkan yang diberkahi; membenarkan kitab-kitab yang (diturunkan) sebelumnya dan agar kamu memberi peringatan kepada (penduduk) Ummul Qura (Mekah) dan orang-orang yang di luar lingkungannya. Orang-orang yang beriman kepada adanya kehidupan akhirat tentu beriman kepadanya (Al Quran) dan mereka selalu memelihara sembahyangnya.”

    Tafsir Jalalain menafsirkan ayat tersebut sebagai berikut : (Dan ini) Alquran ini (adalah kitab yang Kami turunkan yang diberkahi; membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya) yaitu kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya (dan agar kamu memberi peringatan) dengan memakai ta dan ya diathafkan kepada makna kalimat sebelumnya, yang artinya, Kami menurunkan Alquran untuk diambil keberkahannya, dipercayai dan agar kamu memberi peringatan dengannya (kepada penduduk Umul Qura/Mekah dan orang-orang yang ada disekitarnya) yaitu penduduk kota Mekah dan umat lainnya (dan orang-orang yang beriman kepada adanya kehidupan akhirat tentu beriman kepadanya, dan mereka selalu memelihara salatnya) karena takut akan siksaan akhirat.

    Sedangkan tafsir ayat di atas menurut Quraish Shihab adalah bahwa Al-Qur'ân yang Kami turunkan, sebagaimana halnya Tawrât, adalah kitab yang mempunyai banyak kebaikan, kekal sampai hari kiamat, membenarkan dan membawa berita tentang penurunan kitab-kitab sebelumnya dengan maksud untuk memberi kabar gembira kepada orang-orang Mukmin, dan menakut- menakuti orang-orang musyrik Makkah dan sekitarnya dengan murka Allah apabila tidak tunduk kepadanya. Orang-orang yang mempercayai hari pembalasan itu, mempercayainya karena harapan mereka untuk mendapatkan pahala dan takut siksaan. Dari itu, mereka kemudian selalu berdisiplin untuk mengerjakan salat dengan sempurna.

    Pelajaran yang dapat di ambil dari QS. Al-An’am/6: 91-92 diatas yaitu : kita sebagai umat islam harus beriman dan mengamalkan isi al-quran yang telah Allah turunkan melalui rasul-Nya dan menjadikan Al-Quran sebagai pedoman hidup sekaligus juga dasar atau sumber utama dalam memberikan pendidikan agama Islam kepada keluarga dan masyarakat agar menjadi petunjuk ke jalan yang lurus dan tidak tersesat seperti kaum-kaum terdahulu.

    B.            QS. Al-Baqarah/2: 1-5, 97, 185

    a.       QS. Al-Baqarah/2: 1-5

    ·           Ayat 1

    الم

    “Alif laam miim.”

    Tafsir Jalalain menafsirkan ayat (Alif laam miim) Allah yang lebih mengetahui akan maksudnya. Sedangkan tafsir ayat di atas menurut Quraish Shihab adalah bahwa Allah Swt. memulai dengan huruf-huruf eja ini untuk menunjukkan mukjizat al-Qur'ân, karena al-Qur'ân disusun dari rangkaian huruf-huruf eja yang digunakan dalam bahasa bangsa Arab sendiri. Meskipun demikian, mereka tidak pernah mampu untuk membuat rangkaian huruf-huruf itu menjadi seperti al-Qur'ân. Huruf-huruf itu gunanya untuk menarik perhatian pendengarnya karena mengandung bunyi yang berirama.

    ·           Ayat 2

    ذَٰلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ ۛ فِيهِ ۛ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ

    “Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa”

    Tafsir Jalalain menafsirkan ayat tersebut sebagai berikut : (Kitab ini) yakni yang dibaca oleh Muhammad saw. (tidak ada keraguan) atau kebimbangan (padanya) bahwa ia benar-benar dari Allah swt. Kalimat negatif menjadi predikat dari subyek 'Kitab ini', sedangkan kata-kata isyarat 'ini' dipakai sebagai penghormatan. (menjadi petunjuk) sebagai predikat kedua, artinya menjadi penuntun (bagi orang-orang yang bertakwa) maksudnya orang-orang yang mengusahakan diri mereka supaya menjadi takwa dengan jalan mengikuti perintah dan menjauhi larangan demi menjaga diri dari api neraka.

    Sedangkan tafsir ayat di atas menurut Quraish Shihab adalah bahwa inilah kitab yang sempurna, yaitu al-Qur'ân yang telah Kami turunkan. Orang-orang yang berakal sehat tidak akan dihinggapi rasa ragu bahwa al-Qur'ân diturunkan oleh Allah Swt. dan membenarkan apa-apa yang tercakup di dalamnya berupa hukum, kebenaran dan petunjuk yang berguna bagi orang-orang yang siap mencari kebenaran, menghindari bahaya dan sebab yang menjurus kepada hukuman.

    ·           Ayat 3

    الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ

    “(yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebahagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka.”

    Tafsir Jalalain menafsirkan ayat tersebut sebagai berikut : (Orang-orang yang beriman) yang membenarkan (kepada yang gaib) yaitu yang tidak kelihatan oleh mereka, seperti kebangkitan, surga dan neraka (dan mendirikan salat) artinya melakukannya sebagaimana mestinya (dan sebagian dari yang Kami berikan kepada mereka) yang Kami anugerahkan kepada mereka sebagai rezeki (mereka nafkahkan) mereka belanjakan untuk jalan menaati Allah.

    Sedangkan tafsir ayat di atas menurut Quraish Shihab adalah bahwa Mereka itu adalah orang-orang yang percaya dengan teguh yang disertai dengan ketundukan dan penyerahan jiwa kepada yang gaib--yaitu hal-hal yang tidak dapat ditangkap oleh panca indera, seperti malaikat dan hari kemudian, karena dasar beragama adalah beriman kepada yang gaib--melaksanakan salat dengan benar, tunduk dan khusyuk kepada Allah. Dan orang-orang yang menginfakkan sebagian dari apa yang dianugerakan oleh Allah kepada mereka di jalan kebaikan dan kebajikan.

    ·         Ayat 4

    وَالَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ وَبِالْآخِرَةِ هُمْ يُوقِنُونَ

    “Dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al Quran) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat.”

    Tafsir Jalalain menafsirkan ayat tersebut sebagai berikut : (Dan orang-orang yang beriman pada apa yang diturunkan kepadamu) maksudnya Alquran, (dan apa yang diturunkan sebelummu) yaitu Taurat, Injil dan selainnya (serta mereka yakin akan hari akhirat), artinya mengetahui secara pasti.

    Sedangkan tafsir ayat di atas menurut Quraish Shihab adalah bahwa Mereka beriman kepada al-Qur'ân yang diturunkan kepadamu, Muhammad, yang mengandung hukum dan kisah, dan melaksanakan yang diperintahkan. Mereka beriman kepada kitab-kitab Allah yang diturunkan kepada nabi-nabi dan rasul-rasul sebelummu seperti Tawrât, Injîl dan lain-lainnya, karena pada prinsipnya, risalah-risalah Allah itu satu. Dan ciri-ciri mereka adalah percaya dengan teguh akan datangnya hari kiamat, yaitu hari hisab, pembalasan dan hukuman.

     

    ·         Ayat 5

    أُولَٰئِكَ عَلَىٰ هُدًى مِنْ رَبِّهِمْ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

     

    “Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung.”

    Tafsir Jalalain menafsirkan ayat tersebut sebagai berikut : (Merekalah), yakni orang-orang yang memenuhi sifat-sifat yang disebutkan di atas (yang beroleh petunjuk dari Tuhan mereka dan merekalah orang-orang yang beruntung) yang akan berhasil meraih surga dan terlepas dari siksa neraka. Sedangkan tafsir ayat di atas menurut Quraish Shihab adalah bahwa  mereka yang mempunyai ciri-ciri sifat sebagaimana disebutkan adalah golongan yang telah dipersiapkan dan ditetapkan untuk memperoleh petunjuk ketuhanan. Mereka adalah satu-satunya golongan yang bakal mendapatkan kemenangan, pahala yang diharapkan dan didambakan, oleh sebab upaya dan kerja keras mereka dengan melaksanakan semua perintah dan menjauhi segala larangan.

    b.      QS. Al-Baqarah/2: 97

    قُلْ مَنْ كَانَ عَدُوًّا لِجِبْرِيلَ فَإِنَّهُ نَزَّلَهُ عَلَىٰ قَلْبِكَ بِإِذْنِ اللَّهِ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ وَهُدًى وَبُشْرَىٰ لِلْمُؤْمِنِينَ

    “Katakanlah: Barang siapa yang menjadi musuh Jibril, maka Jibril itu telah menurunkannya (Al Quran) ke dalam hatimu dengan seizin Allah; membenarkan apa (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjadi petunjuk serta berita gembira bagi orang-orang yang beriman.”

    Tafsir Jalalain menafsirkan ayat tersebut sebagai berikut : (Katakanlah) kepada mereka, ("Barang siapa yang menjadi musuh Jibril) maka silakan ia binasa dengan kebenciannya itu! (Maka sesungguhnya Jibril itu menurunkannya) maksudnya Alquran (ke dalam hatimu dengan seizin) atau perintah (Allah, membenarkan apa-apa yang berada di hadapannya) yaitu kitab-kitab suci yang turun sebelumnya (dan menjadi petunjuk) dari kesesatan (serta berita gembira) berupa surga (bagi orang-orang yang beriman).

    Sedangkan tafsir ayat di atas menurut Quraish Shihab adalah bahwa Sebagian mereka beranggapan bahwa mereka memusuhi dan ingkar terhadap al-Qur'ân karena mereka adalah musuh-musuh Jibrîl yang telah menyampaikan kitab ini kepadamu. Maka katakanlah kepada mereka, wahai Nabi, "Barangsiapa yang menjadi musuh Jibrîl, maka ia adalah musuh Allah. Sebab, Jibrîl tidak membawa kitab ini dari dirinya sendiri, tetapi ia menurunkannya atas perintah Allah untuk membenarkan kitab-kitab samawi yang terdahulu dan juga untuk membenarkan kitab mereka sendiri. Juga sebagai petunjuk dan kabar gembira bagi orang-orang yang beriman."

    c.       QS. Al-Baqarah/2: 185

    شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ ۚ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ ۖ وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ ۗ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

    “(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka),  maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.”

    Tafsir Jalalain menafsirkan ayat tersebut sebagai berikut : Hari-hari tersebut adalah (bulan Ramadan yang padanya diturunkan Alquran) yakni dari Lohmahfuz ke langit dunia di malam lailatulkadar (sebagai petunjuk) menjadi 'hal', artinya yang menunjukkan dari kesesatan (bagi manusia dan penjelasan-penjelasan) artinya keterangan-keterangan yang nyata (mengenai petunjuk itu) yang menuntun pada hukum-hukum yang hak (dan) sebagai (pemisah) yang memisahkan antara yang hak dengan yang batil. (Maka barang siapa yang menyaksikan) artinya hadir (di antara kamu di bulan itu, hendaklah ia berpuasa dan barang siapa sakit atau dalam perjalanan, lalu ia berbuka, maka wajib baginya berpuasa sebanyak hari yang ditinggalkannya itu pada hari yang lain) sebagaimana telah diterangkan terdahulu. Diulang-ulang agar jangan timbul dugaan adanya nasakh dengan diumumkannya 'menyaksikan bulan' (Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesempitan) sehingga oleh karenanya kamu diperbolehkan-Nya berbuka di waktu sakit dan ketika dalam perjalanan. Karena yang demikian itu merupakan `illat atau motif pula bagi perintah berpuasa, maka diathafkan padanya. (Dan hendaklah kamu cukupkan) ada yang membaca 'tukmiluu' dan ada pula 'tukammiluu' (bilangan) maksudnya bilangan puasa Ramadan (hendaklah kamu besarkan Allah) sewaktu menunaikannya (atas petunjuk yang diberikan-Nya kepadamu) maksudnya petunjuk tentang pokok-pokok agamamu (dan supaya kamu bersyukur) kepada Allah Taala atas semua itu.

    Kemudian tafsir ayat di atas menurut Quraish Shihab adalah bahwa waktu yang ditetapkan Allah sebagai hari wajib puasa itu adalah bulan Ramadan yang sangat tinggi kedudukannya dalam pandangan Allah. Di bulan itu Allah menurunkan al-Qur'ân sebagai petunjuk bagi semua manusia menuju jalan kebenaran melalui keterangan-keterangan yang jelas sebagai pengantar menuju kebajikan dan pembatas antara yang benar (haqq) dan yang palsu (bâthil) selamanya, sepanjang masa dan usia manusia. Maka barangsiapa yang hadir menyaksikan bulan ini dalam keadaan sehat dan tidak sedang dalam perjalanan, maka ia wajib berpuasa. Tapi barangsiapa yang sakit, dan puasa akan membahayakan dirinya, atau sedang dalam perjalanan, ia diperbolehkan tidak berpuasa tapi tetap diwajibkan mengganti puasa yang ditinggalkan itu pada hari yang lain. Allah tidak ingin memberati hamba- Nya dengan perintah-perintah, tapi justru Dia menghendaki keringanan bagi mereka. Allah telah menjelaskan dan memberi petunjuk tentang bulan suci itu agar kalian melengkapi jumlah hari puasa dan membesarkan nama Allah atas petunjuk dan taufik-Nya.

    Dari penjelasan tentang QS. Al-Baqarah/2: 1-5, 97, 185 dapat diambil sebuah kesimpulan bahwa Al-Qur’an adalah pedoman hidup, petunjuk bagi orang-orang yang beriman dan bertaqwa. Al-Qur’an juga memberikan kita pendidikan/pelajaran untuk membedakan yang baik dan buruk, yang Haq dan Bathil. Dalam kaitannya dengan dengan Filsafat (Ilmu) Pendidikan Islam dimensi Epistemologi, melalui ayat-ayat di atas, kita dapat mengetahui bahwa hakikat sumber ilmu itu adalah dari Allah SWT, karena Malaikat Jibril menurunkan Ayat-ayat Al-Qur’an ke dalam hati Nabi Muhammad SAW atas ijin Allah SWT.

    C.      QS. Ali Imron/3: 7, 164

    a.       QS. Ali Imron Ayat 7

    هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ مِنْهُ آيَاتٌ مُحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتٌ ۖ فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاءَ تَأْوِيلِهِ ۗ وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلَّا اللَّهُ ۗ وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ يَقُولُونَ آمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ رَبِّنَا ۗ وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَابِ

     

    “Dialah yang menurunkan Al Kitab (Al Quran) kepada kamu. Di antara (isi)nya ada ayat-ayat yang muhkamaat, itulah pokok-pokok isi Al qur'an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari ta'wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta'wilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: "Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami". Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal.”[3]

    Tafsir Jalalain menafsirkan ayat tersebut sebagai berikut : (Dialah yang menurunkan kepadamu Alquran, di antara isinya ada ayat-ayat yang muhkamat) jelas maksud dan tujuannya (itulah dia pokok-pokok Alquran) yakni yang menjadi pegangan dalam menetapkan (sedangkan yang lainnya mutasyabihat) tidak dimengerti secara jelas maksudnya, misalnya permulaan-permulaan surah. Semuanya disebut sebagai 'muhkam' seperti dalam firman-Nya 'uhkimat aayaatuh' dengan arti tak ada cacat atau celanya, dan 'mutasyaabiha' pada firman-Nya, 'Kitaaban mutasyaabiha,' dengan makna bahwa sebagian menyamai lainnya dalam keindahan dan kebenaran. (Adapun orang-orang yang dalam hatinya ada kecenderungan pada kesesatan) menyeleweng dari kebenaran, (maka mereka mengikuti ayat-ayat mutasyabihat untuk membangkitkan fitnah) di kalangan orang-orang bodoh dengan menjerumuskan mereka ke dalam hal-hal yang syubhat dan kabur pengertiannya (dan demi untuk mencari-cari takwilnya) tafsirnya (padahal tidak ada yang tahu takwil) tafsirnya (kecuali Allah) sendiri-Nya (dan orang-orang yang mendalam) luas lagi kokoh (ilmunya) menjadi mubtada, sedangkan khabarnya: (Berkata, "Kami beriman kepada ayat-ayat mutasyaabihat) bahwa ia dari Allah, sedangkan kami tidak tahu akan maksudnya, (semuanya itu) baik yang muhkam maupun yang mutasyabih (dari sisi Tuhan kami," dan tidak ada yang mengambil pelajaran) 'Ta' yang pada asalnya terdapat pada 'dzal' diidgamkan pada dzal itu hingga berbunyi 'yadzdzakkaru' (kecuali orang-orang yang berakal) yang mau berpikir. Mereka juga mengucapkan hal berikut bila melihat orang-orang yang mengikuti mereka.

    Kemudian tafsir ayat di atas menurut Quraish Shihab adalah bahwa Dialah yang telah menurunkan al-Qur'ân kepadamu. Di antara hikmah-Nya, sebagian ayat al-Qur'ân muhkamât: jelas arti dan maksudnya, dan yang lain mutasyâbihât: sulit ditangkap maknanya oleh kebanyakan orang, samar bagi orang-orang yang belum mendalam ilmunya. Ayat-ayat mutasyâbihât itu diturunkan untuk memotivasi para ulama agar giat melakukan studi, menalar, berpikir, teliti dalam berijtihad dan menangkap pesan-pesan agama. Orang-orang yang hatinya condong kepada kesesatan, mengikuti ayat-ayat mutasyâbihât untuk menebar fitnah dan untuk menakwilkan sesuka hati mereka. Takwil yang benar dari ayat-ayat tersebut tak dapat diketahui kecuali oleh Allah dan orang-orang yang mendalam ilmunya. Mereka berkata, "Kami meyakini itu datangnya dari Allah. Kami tidak membedakan keyakinan kepada al-Qur'ân antara yang muhkam dan yang mutasyâbih." Tidak ada yang mengerti itu semua kecuali orang-orang yang memiliki akal sehat yang tidak mengikuti keinginan hawa nafsu.

    b.        QS. Ali Imron Ayat 164

     

    “Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus diantaramereka seorang Rasul dari golongan mereka sendiri,yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al kitab dan Al hikmah. dan Sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar benar dalam kesesatan yang nyata.”

    Tafsir Jalalain menafsirkan ayat tersebut sebagai berikut : (Sesungguhnya Allah telah memberi karunia kepada orang-orang beriman ketika Dia mengirim kepada mereka seorang rasul dari kalangan mereka sendiri) maksudnya seorang Arab seperti mereka untuk mengawasi dan memberi pengertian, jadi bukan dari kalangan malaikat dan tidak pula dari bangsa asing (yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya) yakni Alquran (dan menyucikan mereka) membersihkan mereka dari dosa (serta mengajarkan kepada mereka Alkitab) yakni Alquran (dan hikmah) yakni sunah (dan sesungguhnya mereka) ditakhfifkan dari wainnahum (adalah sebelumnya) yakni sebelum kebangkitannya (benar-benar dalam kesesatan yang nyata) atau jelas.

    Kemudian tafsir ayat di atas menurut Quraish Shihab adalah bahwa Allah telah berbuat baik kepada orang-orang Mukmin terdahulu yang hidup bersama Nabi, dengan mengutus kepada mereka seorang rasul dari bangsa mereka sendiri. Yaitu, seorang rasul yang membacakan ayat-ayat kitab suci, membersihkan mereka dari keyakinan yang salah, dan mengajari mereka ilmu al-Qur'ân dan teladan. Sebelum diutusnya rasul itu, mereka berada dalam kebodohan, kebingungan dan perasaan tidak berarti.

    Pada Tafsir Fi Zhilalil Qur‟an dijelaskan “...Dan mengajarkan kepada mereka al-Kitab dan al-Hikmah...” orang-orang yang dituju dalam firman ini adalah orangorang pribumi yang bodoh-bodoh, yang tidak tahu tulis baca dan lemah pikirannya. Mereka tidak mempunyai pengetahuan sedikitpun yang berbobot untuk ukuran internasional dalam bidang apapun. Mereka pun tidak mempunyai cita-cita yang besar dalam kehidupan mereka yang melahirkan pengetahuan yang bertaraf  internasional dalam bab apapun.

    Maka risalah inilah yang menjadikan mereka  sebagai guru jagad, hukama atau pemberi kebijakan dunia, dan pemilik akidah, pemikiran, sistem sosial, dan tata aturan yang menyelamatkan manusia secara keseluruhan dari Jahiliahnya  pada masa itu. Mereka dinantikan peranannya dalam perjalanan ke depan untuk menyelamatkan kemanusiaan dari kejahiliahan modern yang mengekspresikan segala ciri khas jahiliyah tempo dulu, baik dalam bidang akhlak, sistem sosial kemasyarakatan, maupun mengenai pandangan mereka terhadap sasaran dan tujuan hidup, meskipun sudah terbuka bagi mereka ilmu-ilmu yang berkaitan dengan materi, produk-produk perindustrian, dan kemajuan peradaban.

    “...Sesungguhnya  sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” Mereka, sebelum kedatangan Nabi SAW., benar-benar pada kesesatan dalam konsepsi dan keyakinan, pemahaman terhadap kehidupan, tradisi, dan perilaku, peraturan dan perundang-undangan, dan bidang kemasyarakatan dan moral.

    Kandungan yang dapat kita peroleh dari QS. Ali Imron/3: 7, 164 adalah bahwa Allah SWT memberitakan tentang keagunganNya dan kesempurnaan pengaturanNya, yaitu bahwa Dia-lah yang Esa yang menurunkan kitab yang agung ini, yang tidak ditemukan dan tidak akan ditemukan tandingannya dan semisalnya dalam petunjuk, keindahan bahasa, kemukjizatan dan kebaikannya bagi makhluk. Dan bahwasanya Al-Qur’an mencakup yang muhkam yang jelas sekali artinya, yang terang yang tidak serupa dengan lainnya, dan juga mencakup ayat-ayat mutasyabihat yang mengandung beberapa arti yang tidak ada satupun dari arti-arti itu yang lebih kuat hanya dengan ayat tersebut hingga disatukan dengan ayat yang muhkam. Ayat-ayat mutasyabihat itu diturunkan untuk memotivasi para ulama (ahli ilmu agama/umum) agar giat melakukan studi, pendidikan, pengajaran, menelaah, menalar, berpikir, teliti dalam berijtihad dan menangkap pesan-pesan agama. Orang-orang yang hatinya condong kepada kesesatan, mengikuti ayat-ayat mutasyâbihât untuk menebar fitnah dan untuk menakwilkan sesuka hati mereka.

    Orang-orang yang dalam hatinya ada penyakit, penyimpangan dan penyelewengan karena niat mereka yang buruk akhirnya mereka mengikuti ayat-ayat yang mutasyabih tersebut, mereka mengambil-nya sebagai dalil demi memperkuat tulisan-tulisan mereka yang batil dan pemikiran-pemikiran mereka yang palsu, hanya untuk mengobarkan fitnah dan penyimpangan terhadap kitabullah, serta menjadikannya sebagai tafsiran untuknya sesuai dengan jalan dan madzhab mereka yang akhirnya mereka itu tersesat dan menyesatkan.

    Adapun orang-orang yang berilmu lagi mendalam ilmunya yang ilmu dan keyakinan telah mencapai hati mereka, lalu membuah-kan bagi mereka perbuatan dan pengetahuan maka mereka ini mengetahui bahwa al-Qur’an itu semuanya dari sisi Allah, dan bahwa semua yang ada di dalamnya adalah haq, baik yang mutasyabih maupun yang muhkam, dan bahwasanya yang haq itu tidak akan saling bertentangan dan saling berbeda. Dan karena ilmu mereka bahwa ayat-ayat yang muhkam mengandung makna yang tegas dan jelas, dan kepadanya mereka mengembalikan ayat-ayat mustasyabih yang sering menimbulkan kebingungan bagi orang-orang yang kurang ilmu dan pengetahuannya.

    D.      QS. Al-Isra’/17: 9, 82

    a.       QS. Al-Isra’/17: 9

    إِنَّ هَٰذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ وَيُبَشِّرُ الْمُؤْمِنِينَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْرًا كَبِيرًا

    “Sesungguhnya Al Quran ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi khabar gembira kepada orang-orang Mu'min yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar.”

    Tafsir Jalalain menafsirkan ayat tersebut sebagai berikut : (Sesungguhnya Alquran ini memberikan petunjuk kepada) jalan (yang lebih lurus) lebih adil dan lebih besar (dan memberi kabar gembira kepada orang-orang mukmin yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar.) Kemudian tafsir ayat di atas menurut Quraish Shihab adalah bahwa Sesungguhnya al-Qur'ân memberikan petunjuk kepada manusia menuju jalan yang paling lurus dan selamat untuk mencapai kebahagiaan yang hakiki di dunia. Al-Qur'ân juga memberikan kabar gembira bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasul-Nya, yang tunduk kepada kebenaran dan melakukan perbuatan yang saleh berupa pahala yang besar pada hari kiamat.

     

    b.      QS. Al-Isra’/17: 82

    وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ ۙ وَلَا يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إِلَّا خَسَارًا

    “Dan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian.”

    Tafsir Jalalain menafsirkan ayat tersebut sebagai berikut : (Dan Kami turunkan dari) huruf min di sini menunjukkan makna bayan atau penjelasan (Alquran suatu yang menjadi penawar) dari kesesatan (dan rahmat bagi orang-orang yang beriman) kepadanya (dan Alquran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim) yakni orang-orang yang kafir (selain kerugian) dikarenakan kekafiran mereka. Kemudian tafsir ayat di atas menurut Quraish Shihab adalah bahwa Bagaimana kebenaran itu tidak akan menjadi kuat, sedang Kami telah menurunkan al-Qur'ân sebagai penawar keraguan yang ada dalam dada, dan rahmat bagi siapa yang beriman kepadanya. Al-Qur'ân itu tidak menambah apa-apa kepada orang-orang yang zalim selain kerugian, oleh sebab kekufuran mereka.

    Dari kedua penafsiran tersebut tentang QS. Al-Isra’ ayat 9 dan 82  dapat kita simpulkan bahwa Al-Qur’an itu adalah sebagai pedoman hidup karena menunjuki kita jalan yang lurus. Kemudian pada ayat ke 82 surah Al-Isra’ dapat kita artikan bahwa bagi orang yang sakit kebodohan, kesesatan, ragu-ragu dan ingkar, dengan turunnya Al-Quran ini, dapat sebagai penyembuh atau obat penawar bila orang tersebut mau beriman. Dengan demikian maka dapat mengambil manfaat, menghafal, dan memperhatikan petunjuk Allah SWT. Dan dialah yang menyembuhkan dari sakit.[4]

    Al-Quran telah membebaskan kaum muslimin dari kebodohan sehingga mereka menjadi bangsa yang menguasai dunia pada masa kekhalifahan Umayyah dan Abbasiyah. Kemudian mereka kembali menjadi umat yang terbelakang karena mengabaikan ajaran-ajaran Al-Quran. Dahulu mereka menjadi umat yang disegani, tetapi kemudian menjadi pion-pion yang dijadikan umpan oleh musuh dalam percaturan dunia. Karena mereka dulu melaksanakan ajaran Al-Quran, negeri mereka menjadi pusat dunia ilmu pengetahuan, perdagangan dunia, dan sebagainya serta pernah hidup makmur dan bahgia. Ayat ini memperingatkan kaum muslimin bahwa mereka akan dapat memegang peranan kembali ke dunia, jika mau mengikuti Al-Quran dan berpegang teguh pada ajarannya dalam semua bidang kehidupan.

    Sebaliknya jika mereka tidak mau melaksanakan ajaran Al-Quran dengan sungguh-sungguh, mengutamakan kepentingan pribadi  di atas kepentingan agama dan masyarakat, serta hanya mementingkan kehidupan dunia, maka Allah akan menjadikan musuh-musuh mereka sebagai penguasa atas diri mereka, sehingga menjadi orang asing atau budak di negeri sendiri. Cukup pahit pengalaman kaum Muslimin akibat mengabaikan ajaran Al-Quran. Al-Quran menyuruh mereka bersatu dan bermusyawarah, tetapi mereka berpecah belah karena masalah-masalah khilafiah yang kecil dan lemah, sedangkan masalah-masalah yang penting dan besar diabaikan.


    BAB III

    PENUTUP


    A.       Kesimpulan

                Kedudukan Al-Qur’an sangat utama dalam hukum Islam karena langsung  diturunkan oleh Allah SWT. Di dalamnya memuat jawaban segala persoalan, baik yang menyangkut hubungan antara manusia dengan Allah (hablun minallah) maupun antar sesama manusia (hablun minannas). Allah swt. telah menurunkan Al-Quran melalui malaikat jibril kepada Nabi Muhammad saw. untuk disampaikan kepada umatnya. Al-Quran merupakan pedoman bagi manusia sebagai petunjuk untuk menemukan makna dari kehidupan yang sebenarnya. Al-Quran mengandung beberapa ayat yang didalamnya berisi mengenai akidah, ibadah, akhlak, hukum-hukum, peringatan, kisah-kisah, dan dorongan untuk berfikir. Maka dari itulah Al-Quran merupakan pedoman bagi manusia dalam menjalani kehidupan.

    Konsep pendidikan menurut Al-Qur’an diarahkan pada upaya menolong anak didik agar dapat melaksanakan fungsinya mengabdi kepada Allah. Seluruh potensi yang dimiliki anak didik, yaitu potensi intelektual, jiwa dan jasmani harus dibina secara terpadu dalam keselarasan, keserasian dan keseimbangan yang tergambar dalam sosok manusia seutuhnya. Hal ini harus pula berimplikasi terhadap materi, metode dan lain-lain yang berhubungan dengannya, sehingga membentuk suatu sistem pendidikan yang sempurna. Deskripsi kependidikan yang diberikan oleh Al-Qur’an Nampak memperlihatkan sosok yang komprehensif mulai dari tujuan, materi, metode, evaluasi dan sebagainya.

    Namun demikian pada semua aspek pendidikan itu, Al-Qur’an Nampak lebih memposisikan dirinya sebagai pemandu dalam prinsip, dan tidak memasuki kawasan yang lebih bersifat teknis. Mengenai bagaimana tujuan yang dirumuskan, materi disusun, guru-guru dilatih dan evaluasi dilakukan, semua itu diserahkan pada daya kreativitas dan ijtihad manusia. Dengan demikian keterlibatan manusia secara intens dalam pendidikan amat dituntut.

    B.       Saran

    Makalah ini tentunya masih sangat jauh dari kata sempurna dan kami sangat mengharapkan saran dan kritik guna membangun agar kami dapat memperbaiki kesalahan dalam makalah kami. Karena ada pepatah mengatakan semakin ilmu itu digali maka semakin banyak yang tidak kita ketahui, dan dengan adanya makalah ini dapat memberikan ilmuyang bermanfaatuntuk mengetahui Fungsi Al-Qur’an Sebagai Pedoman Hidup dan Dasar Penyelenggraan Pendidikan


    DAFTAR PUSTAKA

     

    Depag. 2009. Al-Qur‟an dan Terjemahnya. Surabaya: Duta Ilmu.

    Quthb, Sayyid. 2000. Fi Zhilalil Qur’an, terj. As’ad Yasin, dkk. Jakarta: Gema Insani.

    Ramayulis. 2006. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Kalam Mulia.

    Syafe’I, Rachmat. 2007. Ilmu Ushul Fiqih. Bandung: PT. Pustak                                                                                                                

     

        


    [1] Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Kalam Mulia, 2006), Cet Ke-5, hal. 122. Di akses pada tanggal 08 November 2020, pada pukul 09:45 wib.

    [2] Rachmat Syafe’I, Ilmu Ushul Fiqih, (Bandung: PT. Pustaka Setia, 2007), cet ke-3, hal. 50. Di akses pada tanggal 08 November 2020, pada pukul 08:00 wib.

    [3] Depag, Al-Qur‟an dan Terjemahnya, (Surabaya: Duta Ilmu, 2009), hlm. 92. Di akses pada tanggal 08 November 2020, pada pukul 14:20 wib.

    [4] Sayyid Quthb, Fi Zhilalil Qur‟an, terj. As‟ad Yasin, dkk...(Jil.2, Jakarta: Gema Insani Tahun 2000). hlm. 205. Di akses pada tanggal 08 November 2020, pada pukul 20:50 wib.

  • You might also like

    Tidak ada komentar:

    Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

Cari Blog Ini

Video

Maps