• Resensi Buku Ulumul Hadits Nawir Yuslem

     RESENSI BUKU

    SUMBER HUKUM ISLAM YANG KEDUA

    Judul Buku: Ulumul Hadis
    Penulis: Dr. Nawir Yuslem, MA
    Penerbit: PT. Mutiara Sumber Widya
    Tahun Terbit: 2001
    Tebal: 496 hlm

    Buku Ulumul Hadis ini adalah karangan Dr. Nawir Yuslem, MA. Beliau adalah seorang Dosen tetap di Fakultas Syariah IAIN Sumatera Utara Medan. Pada waktu itu, beliau mempunyai 12 karya ilmiah yang ditulis. Salah satunya adalah buku ini. Sesuai target penulis yang hendak dicapai yaitu untuk memahami Ulumul Hadits yang mencakup pokok pembahasan sehingga dapat memahami kandungan Hadits. Juga, keunikan buku ini yaitu setiap bagian (pembahasan) sering diawali dengan definisi-definisi kemudian berlanjut pada pembagiannya-pembagiannya dan disertai dengan rujukan yang kuat dan dalil-dalil. Buku ini sangat membantu mahasiswa dalam menyelesaikan tugas-tugas perkuliahan. Buku ini bisa dibaca oleh siapa saja yang ingin mendalami ilmu Hadits, baik itu mahasiswa atau pembaca yang setingkat ataupun masyarakat umum. 

    Ilmu-ilmu Hadits memiliki peran yang sangat penting terhadap Hadits itu sendiri. Karena Ulumul Hadits, merupakan ilmu-ilmu yang membahas atau berkaitan dengan Hadits Nabi Muhammad Saw. Hadits menjadi rujukan kedua setelah Al-Qur’an dan menempati posisi yang penting dalam kajian ke Islaman. Hadits berfungsi sebagai tafsir dan penjelas terhadap ayat-ayat Al-Qur’an yang bersifat global, sebagai sumber hukum dalam penetapan maupun perumusan hukum maupun membahas permasalahan yang belum pernah dibahas dalam Al-Qur’an. 

    Sebagai sumber hukum Islam, bentuk hadits terbagi menjadi tiga, yaitu hadits Qauli, Fi’li dan Taqriri. Hadits-Hadits yang dapat dijadikan perumusan hukum dan pelaksanaan ibadah, ialah Hadits Shahih dan Hadits Hasan (Hadits yang diterima atau Maqbul). Sedangkan hadits yang ditolak dan tidak sah dijadikan perumusan hukum atau disebut dengan Hadits Mardud. Hadits ini banyak jumlah dan jenisnya, antara lain: Hadits Mawdhu’, Hadits Munkar, Hadits Matruk, Hadits Muallaq, Hadits Mu’dhal, Hadits Mursal, dan lain sebagainya yang termasuk klasifikasi Hadits Dha’if. Mengingat penulisan Hadits dilakukan ratusan tahun setelah Nabi Muhammad wafat, maka banyak terjadi silang pendapat terhadap keabsahan hadits. Adanya hadits-hadits palsu (Mawdhu’), mendorong adanya pengkodifikasian hadits sebagai upaya penyelamatan dari pemusnahan dan pemalsuan. Sehingga, suatu keharusan mempelajari ilmu-ilmu Hadits melalui buku ini supaya kita tidak terjerumus. 

    Di dalam buku ini memuat materi-materi yang sebagian besar mencakup bagian penting ilmu Hadits. Materi-materi itu terdiri dari 10 bab: Pengenalan terhadap Ulumul Hadits, adanya ilmu Dirayah, dan ilmu Riwayah, Pengertian dan Sejarah Ilmu Hadits; Hubungan Hadits dengan Al-Qur’an, Pengenalan tentang Hadits Nabi Muhammad Saw. baik itu bentuk-bentuknya, kedudukan serta Fungsinya terhadap Al-Qur’an; Penghimpunan dan Pengkodifikasian Hadits, baik itu sejarah maupun periodesasi dari masa Rasulullah sampai sekarang, Membahas Sanad dan Matan, kedua hal ini adalah unsur yang penting dalam eksistensi dan kualitas Hadits; Istilah-Istilah yang terdapat dalam Ulumul Hadits, banyak istilah terutama dalam hal periwayatan dan pengutipan; Pengklasifikasian Hadits, berdasarkan jumlah perawinya, berdasarkan kualitas Sanad dan Matan, dan tempat penyandarannya, hal ini diperlukan supaya dalam menyeleksi mana Hadits yang bisa dijadikan sumber hukum dan mana yang tidak; Pengenalan Hadis Palsu (Mawdhu’), yang tujuannya untuk menghancurkan umat dan agama Islam dari dalam, sejarah dan perkembangan, pengenalan ciri-cirinya, serta upaya penanggulangannya; Penelitian Sanad dan Matan Hadis, untuk mengenali kualitas suatu Hadis; Takhrij Hadits atau bagian dari kegiatan penelitian Hadits, manfaat dan tujuan, cara pelaksanaan serta contohnya; dan terakhir membahas Biografi Beberapa Ulama Hadis dari Kalangan Sahabat dan Pelopor Pengkodifikasian Hadis, Ulama dari kalangan sahabat/ angkatan pertama atau generasi yang menerima langsung Hadis-hadis dari Rasulullah Saw. seperti Anas ibn Malik, dalam hal ini dibatasi pada al-muktsirun fi al-Hadits mereka yang terbanyak menerima dan meriwayatkan Hadits, serta angkatan berikutnya yang berjasa dan mempelopori dan Pengkodifikasian Hadits, serta pemisahan antara yang shahih dan yang tidak, salah satunya ialah Umar bin Abdul ‘Aziz.    

    Keunggulan dan Kelemahan buku. Dari segi keunggulan, didalam buku ini dari cara penyusunannya yang sistematis dan bahasanya mudah di fahami, apalagi ditambah dengan kesimpulan dari materi persubbab seperti pada halaman 67. Terdapat banyak rujukan yang dicantumkan sehingga memperkuat pembuktian dan memperbanyak wawasan, serta dijelaskan secara lengkap mengenai pengertian ilmu hadits, bentuk-bentuknya, kedudukan dan fungsinya, sejarah pertumbuhan dan perkembangannya, serta proses penerimaan dan periwayatan hadits. Jadi tidak ada salahnya bagi para santri untuk mengoleksi buku ini agar memperdalam ilmu haditsnya. Sedangkan bagi umat Islam dan kaum terpelajar, mahasiswa perguruan tinggi Islam khususnya, buku ini dapat dijadikan acuan untuk memahami Ilmu Hadits dan mendapat wawasan ilmu ke Islaman klasik. Disamping keunggulan ada juga beberapa kelemahan, dalam buku ini sajian cover nya kurang menarik, dan halaman nya yang tebal sehingga pembaca agak jenuh.  

    Kesimpulannya, Hadits merupakan sumber ajaran Islam kedua setelah Al-Qur’an yang bersumber dari Rasulullah Saw. berupa perkataan, perbuatan, maupun ketetapan (taqrirnya). Buku ini menjelaskan Pengertian dan Sejarah Ilmu Hadits, Hubungan dengan Al-Qur’an, Pengumpulan dan Pengkodifikasian Hadits, Sanad dan Matan, Istilah-istilah yang terdapat dalam Ulumul Hadits, Hadits Mawdhu’, Penelitian Sanad dan Matan, Takhrij Hadits, serta Biografi Sahabat dan Pelopor Pengkodifikasian Hadits. Buku ini juga sangat informatif dan sangat menambah wawasan. Oleh sebab itu, buku ini sangat layak untuk dijadikan acuan bagi mahasiswa, dosen, peneliti, penulis, dan peminat studi keislaman lainnya. Akan tetapi, dalam buku ini sajian dari cover nya kurang menarik dan juga halaman buku yang tebal bisa membuat pembaca menjadi jenuh. Hendaknya, cover dan bagian isi buku di desain dengan warna ataupun gambar yang menarik dan cerah sehingga tidak membuat jenuh. 

  • You might also like

    Tidak ada komentar:

    Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

Cari Blog Ini

Video

Maps