• Makalah Transfer Belajar


    A. Pengertian Transfer Belajar 
               Transfer belajar adalah sebuah frase yang terdiri dari kata, yaitu transfer dan belajar. Transfer itu sendiri adalah kata diambil dari bahasa inggris, yaitu “transferyang berarti pergantian serah terima atau pemindahan. Sedangkan belajar adalah serangkaian kegiatan jiwa-raga untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku sebagai hasil pengalaman individu dalam interaksi dengan lingkungannya yang menyangkut kognitif, afektif dan psikomotorik.[1]
    Transfer Belajar merupakan masalah yang sangat penting dalam psikologi pendidikan. Secara praktis semua program pendidikan dibangun atas dasar bahwa semua manusia mempunyai kemampuan untuk mentransfer apa yang mereka pelajari dari satu situasi ke situasi yang lain.[2]
    Pengetahuan dan keterampilan siswa sebagai hasil belajar pada masa lalu seringkali mempengaruhi proses belajar yang sedang dialaminya sekarang. Inilah yang disebut Transfer Belajar atau Transfer of Learning ini mengandung arti pemindahan keterampilan hasil belajar dari satu situasi ke situasi lainnya (Reber 1988). Kata “Pemindahan Keterampilan” tidak berkonotasi hilangnya keterampilan melakukan sesuatu pada masa lalu karena diganti dengan keterampilan baru pada masa sekarang.[3]
    Menurut L. D. Crow and A. Crow: “The carry-over of thinking, feeling, or working, of knowledge of skills, from one learning area to another usually is reffered to as the transfer of training.” (Pemindahan-pemindahan kebiasaan berpikir, perasaan atau pekerjaan, ilmu pengetahuan atau ketrampilan, dari suatu keadaan belajar yang lain biasanya disebut transfer latihan/belajar).[4]
    Slameto merumuskan bahwa transfer adalah pengaruh hasil belajar yang telah diperoleh pada waktu yang lalu terhadap proses dan hasil belajar yang dilakukan kemudian. Muhibbin Syah menyatakan bahwa transfer belajar terjadi bila pengetahuan dan keterampilan anak didik sebagai hasil belajar pada masa lalu seringkali memengaruhi proses belajar yang sedang dialaminya sekarang.
    Dari beberapa rumusan transfer belajar oleh para ahli di atas, meskipun terdapat perbedaan dalam susunan kata-kata dan kalimat, namun intinya sama, yaitu “pemindahan”. Pemindahan di sini jangan dikonotasikan sebagai hilangnya suatu kemampuan atau keterampilan yang sudah dimiliki pada masa lalu, karena diganti dengan kemampuan atau keterampilan yang baru pada masa sekarang. Definisi diatas dipahami sebagai “pemindahan pengaruh” atau pengaruh kemampuan atau keterampilan melakukan sesuatu yang dikuasai terhadap kemampuan atau keterampilan melakukan sesuatu yang lain yang akan dikuasai.[5]
    Memperoleh keuntungan berarti bahwa pemindahan atau pengalihan hasil belajar itu berperan positif, yang mempermudah dan menolong dalam menghadapi tugas belajar yang lain dalam rangka kurikulum sekolah, atau dalam mengatur kehidupan sehari-hari; transfer belajar demikian disebut “transfer positif. Misalnya, pengetahuan tentang letak geografis suatu daerah, akan sangat membantu dalam memahami masalah perekonomian yang dihadapi oleh penghuni daerah itu; keterampilan mengendarai sepeda motor roda empat, sikap menggunakan Bahasa Indonesia yang benar dan baik, yaitu diperoleh dibidang studi bahasa Indonesia di sekolah, akan sangat membantu dalam mengomunikasikan pikiran dan perasaan kepada orang lain selama bertahun-tahun sesudah tamat sekolah.
     “Mengalami hambatan” berarti bahwa pemindahan atau pengalihan hasil belajar itu berperan negatif, yaitu mempersukar dan mempersulit dalam menghadapi tugas belajar yang lain dalam rangka kurikulum sekolah, atau dalam mengatur kehidupan sehari-hari; transfer belajar yang demikian disebut “transfer negatif. Misalnya, pengetahuan akan  sejumlah kata dalam bahasa Belanda, akan menghambat dalam mempelajari sejumlah kata dalam bahasa Jerman, karena dua kata dalam kedua bahasa itu mungkin sama ucapannya dan hampir sama ejaannya, tetapi konsep yang terkandung dalam kedua kata itu berlainan, seperti kata “leren” (belajar) dalam bahasa belanda dan kata “lebren (mengajar) dalam bahasa Jerman. Keterampilan mengemudikan kendaraan bermotor dalam arus lalu lintas yang bergerak disebelah kiri jalan, yang diperoleh selama seseorang selama tinggal di Indonesia, akan menimbulkan kesulitan bagi orang itu bila ia pindah ke salah satu negara Eropa, yang lalu lintasnya bergerak disebelah kanan.
    Terdapat kasus yang menimbulkan kesan terjadinya pemindahan atau pengalihan hasil belajar sebagaimana dijelaskan, tetapi sebenarnya bukan kasus transfer belajar. Misalnya, seorang siswa telah belajar memantulkan bola dengan menggunakan tangan kanan; kemudian ternyata siswa mampu juga memantulkan bola dengan tangan kirinya, tanpa mengadakan latihan khusus memantulkan bola dengan tangan kirinya. [6]
     Salah satu tujuan kongnitif kompleks yang penting bagi murid adalah mampu memahami apa yang telah mereka pelajari dan mengaplikasikannya ke situasi baru. Salah satu tujuan sekolah adalah murid mempelajari sesuatu yang dapat mereka aplikasikan diluar sekolah, sekolah tidak berfungsi efektif jika murid dapat  menjelaskan tes bahasa dengan baik.[7]

    B. Jenis-jenis Transfer Belajar

                     Transfer dapat dibagi dua kategori yakni transfer positif dan negatif. Menurut Theory Of Identical Element yang dikembangkan oleh E.L Thorndike. Transfer positif  biasanya terjadi bila ada kesamaan elemen anatara materi yang lama dan sebaliknya. Keterampilan yang sebelumnya sudah dimiliki menjadi penghambat belajar keterampilan lainnya . Dapatkah teori E.L.Thorndike ini kita jadikan pedoman dalam memahami transfer belajar yang hakiki.

                Menurut Gagne, seorang educations psychologist atau pakar psikologis pendidikan yang masyhur, transfer dalam belajar dapat digolongkan ke dalam empat kategori.

    1. Transfer positif, yaitu transfer yang berefek baik terhadap kegiatan belajar selanjutnya.

    2. Transfer negatif, yaitu transfer yang berefek buruk terhadap kegiatan belajar selanjutnya.
    3. Transfer vertikal, yaitu transfer  yang berefek baik terhadap kegiatan belajar pengetahuan atau keterampilan yang lebih tinggi.
    4. Transfer lateral, yaitu transfer yang berefek baik terhadap kegiatan belajar pengetauan atau keterampilan yang sederajat.[1]
    a.  Ragam Transfer Belajar
         1. Transfer positiff
    Transfer positif dapat terjadi dalam diri seorang siswa apabila guru membantu untuk belajar dalam situasi tertentu yang mempermudah siswa tersebut belajar dalam situasi-situasi lainnya. Seorang anak yang telah dapat mengendarai “sepeda”, misalnya dapat lebih mudah, lebih efektif dan efesien jika ia belajar mengendarai kendaraan bermotor roda dua. Jadi, keterampilan mengendarai sepeda mempunyai pengaruh yang signifikan untuk menguasai keterampilan mengendarai kendaraan bermotor roda dua dalam situasi yang lain.[2]
          2. Transfer Negatif
    Transfer negatif dapat dialami seorang siswa apabila ia belajar dalam situasi tertentu yang memiliki pengaruh merusak terhadap keterampilan atau pengetahuan yang dipelajari dalam situasi-situasi lainnya. Dengan demikian, pengaruh keterampilan atau pengetahuan yang telah dimiliki oleh siswa sendiri tak ada hubungannya dengan kesulitan yang dihadapi siswa tersebut ketika mempelajari pengetahuan atau keterampilan lainnya. Jadi, kesulitan belajar mengetik sepuluh jari seperti yang dicontohkan diatas belum tentu disebabkan oleh kebiasaan mengetik dua jari yang sebelumnya sudah dikuasai. Menghadapi kemungkinan terjadinya transfer belajar negatif itu, yang penting bagi guru ialah menyadari dan sekaligus menghindarkan para siswanya dari situasi-situasi belajar tertentu yang diduga keras akan berpengaruh negatif terhadap kegiatan belajar para siswa tersebut pada masa yang akan datang.[3]
           3. Transfer Vertikal
    Transfer Vertikal atau tegak lurus dapat terjadi dalam diri seorang siswa apabila pelajaran yang telah dipelajari dalam situasi tertentu membantu siswa tersebut dalam menguasai pengetahuan atau keterampilan yang lebih tinggi atau rumit. Misalnya, anak didik sekolah dasar, yang telah menguasai prinsip penjumlahan dan pengurangan pada waktu menduduki kelas II akan mudah mempelajari perkalian pada waktu dia menduduki kelas III. Dengan demikian, penguasaan materi pelajaran kelas II merupakan prasyarat untuk mempelajari materi pelajaran kelas III.
           4.  Transfer Lateral
    Transfer lateral (ke arah samping) dapat terjadi dalam diri seorang siswa apabila ia mampu menggunakan materi yang telah dipelajarinya untuk mempelajari materi  yang sama kerumitannya dalam situasi-situasi yang lain. Dalam hal ini, perubahan waktu dan tempat tidak mengurangi mutu hasil belajar siswa tersebut.[4]
    .     C.     Teori-teori Transfer Belajar 
                          1.  Teori disiplin formal
                  Berdasarkan aliran psikologi daya atau yang terkenal juga dengan nama fakultas (Fakulty Theory). Menurut teori ini jiwa tersusun dan bermacam-macam daya, antara lain daya itu ialah pikiran, ingatan, fantasi, latihan, perasaan. Bila suatu daya telah baik karena latihan-latihan maka daya itu akan berfungsi dalam segala lapangan. Misalnya daya pikir  telah baik karena latihan yang berwujud pelajaran berhitung, maka daya pikir itu akan menjadi baik untuk memecahkan segala masalah yang mempergunakan tenaga pikiran. Orang dengan sendirinya akan pandai memecahkan masalah dalam ilmu pasti, bahasa, aljabar dan kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, transfer terjadi secara mekanistis.
    Demikian pula bila ingatan orang telah menjadi baik karena menghafal syair-syair atau pantun, maka orang itu dengan sendirinya akan pandai memecahkan masalah ingatannya dalam bahasa, ilmu bumi, sejarah dan pengetahuan lain yang membutuhkan tenaga ingatan.
    Pada umumnya teori disiplin formal berpendapat bahwa ilmu pasti dan ilmu hitung bahasa Yunani kuno dan bahasa latin merupakan mata pelajaran yang paling baik untuk mendisiplinkan pikiran.
    Pandangan teori disiplin formal mengenai mata pelajaran bagi jiwa dapat dianalogikan dengan gerak badan bagi jasmani. Bila gerak badan dapat memperkuat daya jiwa. Bila orang telah dapat mengangkat halter seberat 100 kg maka ia akan dapat mengangkat segala sesuatu yang beratnya 100 kg. Bila orang sudah baik berfikir dalam berhitung, akan baik juga berfikir dalam segala lapangan.
    2.     Teori Komponen-komponen Identik
    Teori ini dikemukakan oleh Torndike. Menurut Torndike transfer dari suatu situasi ke situasi yang lain, baru bisa terjadi bila di antara dua situasi itu terdapat unsur-unsur yang identik (sama). Besar kecilnya transfer tergantung kepada banyak sedikitnya unsur yang identik.
    Makin banyak unsur yang identik makin besar kemungkinan terjadinya transfer, sebaliknya makin sedikit unsur yang identik, makin sedikit pula kemungkinan timbul transfer. Yang dimaksud unsur oleh Torndike tidak terbatas mengenai isi bahan pelajaran, tetapi termasuk juga sikap mengajar, cara belajar dan segala sesuatu yang berhubungan dengan proses belajar.
    3.      Teori Generalisasi
                Pencipta teori generalisasi ini ialah Charles Judd. Ia menyamakan proses transfer dengan proses generalisasi. Ia memberi tekanan pada abilitas untuk memahami dan mengerti serta pemakaian prinsip-prinsip dari suatu bahan ke bahan yang lain. Maka dari itu menurut Judd untuk menentukan transfer bukanlah isi bahan pelajaran, melainkan kemampuan anak mengambil prinsip-prinsip dari pada bahan itu untuk dipergunakan menghadapi masalah baru. Dengan demikian yang penting ialah kemampuan menggeneralisasi prinsip-prinsip dari suatu bahan ke situasi lain yang spesifik.
                Bila teori generalisasi kita bandingkan dengan teori Thorndike maka terdapat perbedaan yang pokok. Teori Thorndike mementingkan unsur yang identik. Teori Generalisasi mementingkan mempergunakan prinsip, bila Thorndike bentuk transfer terjadi secara mekanistis, teori generalisasi berpendapat, transfer baru bisa terjadi bila ada aktivitas dari dalam, artinya adanya aktivitas dari individu itu sendiri untuk membentuk transfer.[5] [6]
    C.     Faktor-faktor yang Mempengaruhi Timbulnya Transfer Belajar
    Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kemampuan siswa dalam timbulnya transfer belajar adalah sebagai berikut:                                                  
    1.      Kesamaan antara dua situasi belajar
    Semakin dekat dengan hubungan antara dua situasi belajar, semakin besar kemungkinan terjadinya transfer. Contohnya, jika siswa telah mempelajari contoh-contoh hewan mamalia seperti anjing, kucing, kuda dan kambing mereka mungkin mengidentifikasi sapi sebagai hewan mamalia karena sapi memiliki kesamaan dengan contoh-contoh yang sudah dipelajari. Sebaliknya, siswa tidak akan mentransfer konsep mamalia pada kelelawar karena tidak berkaitan erat dengan contoh yang diberikan.
    2.      Keberagaman pengalaman pembelajar
    Semakin beragam pengalaman yang dimiliki oleh pembelajar, maka akan semakin lengkap konsep yang dimiliki, dan akhirnya akan mempermudah ia dalam melakukan transfer belajar. Contohnya, jika dalam mempelajari konsep reptil diberikan contoh-contoh ular, buaya, kadal, dan cicak akan membantu siswa dalam memahami konsep reptil secara mendalam. Sebaliknya jika contohnya kurang beragam maka pemahaman siswa menjadi tidak mendalam dan mereka akan mengalami kesulitan dalam melakukan transfer belajar.
    3.      Kualitas pengalaman pembelajar
    Semakin baik kualitas pengalaman pembelajar maka semakin memudahkan ia dalam melakukan transfer belajar. Contohnya, dalam belajar pemecahan masalah, jiaka masalah yang dipelajari untuk dipecahkan dapat diterapkan dalam realita dan bermakna bagi kehidupan pembelajar, maka transfer akan mudah terjadi terhadap masalah-masalah lainnya.
    4.      Konteks pengalaman pembelajar
    Agar terjadi transfer, pengetahuan dan keterampilan yang dipelajari dalam konteks harus diterapkan pada konteks yang lain. Semakin luas konteks yang digunakan maka semakin mudah bagi pembelajar untuk melakukan transfer belajar. Contohnya, dalam belajar pemecahan masalah, aplikasi prinsip-prinsip dan generalisasi harus dibuat dalam konteks dunia nyata.
    5.      Kedalaman pemahaman dan latihan
    Semakin banyak waktu yang digunakan oleh pelajar untuk mempelajari sebuah topik, maka semakin besar kemungkinan transfer untuk terjadi. Banyaknya waktu yang digunakan untuk belajar menyebabkan pemahaman menjadi mendalam, sehingga transfer mudah dilakukan. Selain itu, kedalaman pemahaman juga dipengaruhi oleh tingkat intensitas melakukan latihan dan diskusi dengan sesama pembelajar.
    Menurut Syaiful Bahri, faktor yang dapat memengaruhi timbulnya transfer belajar adalah sebagai berikut:
    1.         Taraf intelegensi dan sikap
    Faktor ini berasal dari anak didik, dan berkisar pada masalah kapasitas dasar (kemampuan dasar), sikap, minat, anak didik, dan lain sebaginya. Kapasitas dasar atau kemampuan dasar adalah membantu timbulnya transfer belajar. Anak yang pandai cenderung memiliki transfer yang tinggi, dan sebaliknya anak yang kurang pandai memiliki transfer yang rendah (minim). Oleh karena itu, tidak dapat mempertahankan suatu informasi yang telah di dapat dalam jumlah yang cukup banyak. Di samping itu, bahwa timbulnya transfer tidak otomatis, melainkan timbul dengan sengaja. Sikap atau usaha yang disengaja ini akan menimbulkan transfer. Ini berarti apa yang telah dipelajari oleh anak didik, dapat dimanfaatkan dan dipraktikkan sesuai dengan situasi dan kondisi di mana ia berada. Demikian juga sikap guru dan usaha anak didik untuk melakukan perbuatan belajar, juga memengaruhi jumlah transfer belajar.
    2.      Metode guru dalam mengajar
    Faktor ini berasal dari guru dan berkisar antara lain padapenguasaan persiapan, alat peraga, pemilihan bahan, dan sebagainya. Dengan bahan yang sama akan menghasilkan hasil yang berbeda, karena disebabkan perbedaan dalam pemakaian metode mengajar. Hasil belajar yang dihasilkan dengan menggunakan metode diskusi akan berlainan hasilnya dengan metode ceramah.
    3.      Isi mata pelajaran
    Hubungan antara mata pelajaran yang satu dengan mata pelajaran yang lain menjadi penengah yang sangat menimbulkan transfer belajar. Suatu mata pelajaran yang dapat dikuasai apabila dijadikan landasan untuk menguasai mata pelajaran lain yang relevan, baikkaidah maupun prinsip-prinsipnya. Penguasaan kaidah mata pelajaran bahasa Indonesia misalnya, dapat dipelajari atau mempelajari mata pelajaran bahasa Inggris, begitu pula sebaliknya. Penguasaan keterampilan membuat surat tertentu dapat ditransfer kepada keterampilan lain yang masih dalam ruang lingkup tulis menulis surat dan sebagainya. [7][8]





    DAFTAR PUSTAKA



    Djamarah, Bahri, Syaiful. 2011. Psikologi Belajar, Jakarta: Rineka Cipta.
    Mustaqim. 2008.Psiologi Pendidikan, Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
    Santrock, Johan W. 2004. Psikologi Pendidikan, Jakarta: Kencana.
    Winkel W.S. 2004. Psikologi Pengajaran, Yogyakarta: Media Abadi.
    Wahab, Rohmalina. 2015. Psikologi Belajar, Jakarta: RajaGrafindo Persada.
    Wahib, Abdul dan Mustaqim. 2010. Psikologi Pendidikan, Jakarta: Rineka Cipta.
    Syah, Muhibbin. 2010. Psikologi Pendidikan, Bandung: Rosda.


    [1] Muhibbin Syah, Op. Cit, hlm. 165.
    [2] Syaiful Bahri Djamarah, Op. Cit., hlm. 226-227.
    [3] Muhibbin Syah, Op. Cit., hlm. 225-226.
    [4] Ibid., hlm. 166.
    [5] Mustaqim dan Abdul Wahib, Op. Cit. hlm. 99-102.
    [6] Johan W.santrock, Psikologi Pendidikan, Jakarta : Kencana, 2004, hlm. 379-380.
    [7]  Rohmalina Wahab, Op. Cit. hlm. 188-191.
     



    [1] Rohmalina Wahab, Psikologi Belajar, Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2015, hlm. 185.
    [2] Mustaqim dan Abdul Wahib, Psikologi Pendidikan, Jakarta: Rineka Cipta, 2010, hlm. 98-99.
    [3] Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan, Bandung: Rosda, 2010, hlm. 164.
    [4] Mustaqim, Psikologi Pendidikan, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2008, hlm.64.
    [5] Syaiful Bahri Djamarah, Psikologi Belajar, Jakarta: Rineka Cipta, 2011, hlm. 223.
    [6] W.S.Winkel, Psikologi Pengajaran, Yogyakarta: Media Abadi, 2004, hlm. 514-515.
    [7] Johan W.santrock, Psikologi Pendidikan, Jakarta: Kencana, 2004, hlm. 376-377.
  • You might also like

    Tidak ada komentar:

    Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

Cari Blog Ini

Video

Maps