• Makalah IPI Lembaga Pendidikan Islam Dunia dan Kesejarahannya

    MAKALAH LEMBAGA PENDIDIKAN ISLAM

    BAB I
    PENDAHULUAN
    A.    Latar Belakang
    Islam adalah doktrin agama, yang diturunkan oleh Allah SWT. Kepada hamba-Nya melalui para Rasul. Oleh karena itu Islam itu memiliki sifat yang universal keranah kehidupan apa pun, termasuk dalam ranah pendidikan. Karena pendidikan islam merupakan salah satu displin ilmu keislaman yang membahas ojek-objek diseputar pendidikan.
    Lembaga pendidikan Islam bukanlah lembaga beku, tetapi fleksibel berkembang dan menurut kehendak waktu dan tempat. Seiring dengan sangat luasnya perkembangan penduduk yang mayoritas Islam, maka akan banyak dari setiap individu berkeinginan untuk memperoleh aktivitas belajar mengajar yang menumbuhkan berbagai macam perkembangan pola pikir yang ada di masyarakat, oleh sebab itu, karena perkembangan aspek social dalam pendidikan, maka didirikanlah berbagai macam lembaga pendidikan Islam yang teratur dan terarah.
    B.     Rumusan Masalah
    1.      Apakah yang dimaksud dengan  Kelembagaan Pendidikan Islam?
    2.      Apa saja Bentuk-Bentuk Lembaga Pendidikan Islam?
    3.      Apa saja Lembaga Pendidikan Islam yang ada di Dunia?
    4.      Bagaimana keadaan Lembaga Pendidikan Pada Masa Awal Islam?
    5.      Bagaimana keadaan Lembaga Pendidikan Islam di Masa Pertumbuhan dan Kejayaan Pendidikan Islam?
    C.    Tujuan Penulisan
    1.      Untuk mengetahui yang dimaksud dengan  kelembagaan pendidikan Islam.
    2.      Untuk mengetahui bentuk-bentuk lembaga pendidikan Islam.
    3.      Untuk mengetahui lembaga pendidikan Islam yang ada di dunia.
    4.      Untuk mengetahui keadaan lembaga pendidikan pada masa awal Islam.
    5.      Untuk mengetahui keadaan lembaga pendidikan Islam di masa pertumbuhan dan kejayaan pendidikan Islam.

    BAB II
    PEMBAHASAN
    A.    Pengertian Kelembagaan Pendidikan Islam
    Secara etimologi lembaga adalah asal sesuatu, acuan, sesuatu yang memberi bentuk pada yang lain, badan atau organisasi yang bertujuan mengadakan suatu penelitian keilmuan atau melakukan sesuatu usaha. Dari pengertian di atas dapat dipahami bahwa lembaga mengandung dua arti, yaitu: 1) pengertian secara fisik, materil, kongkrit, dan 2) pengertian secara non-fisik, non-materil, dan abstrak.[1]
    Dalam bahasa inggris, lembaga disebut institute (dalam pengertian fisik), yaitu sarana atau organisasi untuk mencapai tujuan tertentu, dan lembaga dalam pengertian non-fisik atau abstrak disebut institution, yaitu suatu system norma untuk memenuhi kebutuhan. Lembaga dalam pengertian fisik disebut juga dengan bangunan, dan lembaga dalam pengertian nonfisik disebut dengan pranata.[2]
    Lembaga menurut bahasa adalah “badan” atau “organisasi” (tempat berkumpul).Badan (lembaga) pendidikan menurut Ahmad D. Marimba adalah organisasi atau kelompok manusia yang karena satu dan lain hal memikul tanggung jawab pendidikan kepada si terdidik. Sesuai dengan badan tersebut.[3]
    Secara terminologi, Amir Daiem mendefinisikan lembaga pendidikan  dengan orang atau badan yang secara wajar mempunyai tanggung jawab terhadap pendidikan. Rumusan definisi yang dikemuka kan Amir Daiem ini memberikan penekanan pada sikap tanggung jawab seseorang terhadap peserta didik, sehingga dalam realisasinya merupakan suatu keharusan yang wajar bukan merupakan keterpaksaan. Definisi lain tentang lembaga pendidikan adalah suatu bentuk organisasi yang tersusun relatif tetap atas pola-pola tingkah laku, peranan-peranan relasi-relasi yang terarah dalam mengikat individu yang mempunyai otoritas formal dan sangsi hukum, guna tercapainya kebutuhan-kebutuhan sosial dasar.[4]
    Daud Ali dan Habibah Daud menjelaskan bahwa ada dua unsur yang kontradiktif dalam pengertian lembaga, pertama pengertian secara fisik, materil, kongkrit dan kedua pengertian secara non fisik, non materil dan abstrak. Terdapat dua versi pengertian lembaga dapat di mengerti karena lembaga ditinjau dari segi fisik menampakkan suatu badan dan sarana yang didalamnya ada beberapa orang yang menggerakkannya, dan ditinjau dari aspek non fisik lembaga merupakan suatu sistem yang berperan membantu mencapai tujuan.[5]
    Lembaga pendidikan Islam ialah suatu bentuk organisasi yang diadakan untuk mengembangkan lembaga-lembaga Islam yang baik yang permanen, maupun yang berubah-ubah dan mempunyai pola-pola tertentu dalam memerankan fungsinya, serta mempunyai struktur tersendiri yang dapat mengikat individu yang berada dalam naungannya, sehingga lembaga ini kekuatan hukum tersendiri.[6]
    Berdasarkan pengertian diatas dapat dipahami bahwa lembaga pendidikan islam adalah tempat atau organisasi yang menyelenggarakan pendidikan islam, yang mempunyai struktur yang jelas dan bertanggungjawab atas terlaksananya pendidikan Islam. Oleh karenaitu, lembaga pendidikan Islam tersebut harus dapat menciptakan suasana yang memungkinkan terlaksananya      pendidikan dengan baik, menurut tugas yang diberikan kepadanya, sepertisekolah (madrasah yang melaksanakan proses pendidikan Islam).

    B.     Bentuk-Bentuk Lembaga Pendidikan Islam
    Bentuk-bentuk Lembaga pendidikan secara umum:
    1.      Keluarga Sebagai Lembaga Pendidikan Islam
    Dalam Islam, keluarga dikenal dengan istilah usrah, nasl, ‘ali, dan nasb. Keluarga dapat diperoleh melalui keturunan (anak, cucu), perkawinan (suami, istri), persusuan, dan pemerdekaan.[7] Pentingnya serta keutamaan keluarga sebagai lembaga pendidikan islam disyaratkan dalam al-Quran:[8] Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka”. (Q.S. al-Tahrim : 6)
    Sebagai pendidik anak-anaknya, ayah dan ibu memiliki kewajiban dan memiliki bentuk yang berbeda karena keduanya berbeda kodrat. Ayah berkewajiban mencari nafkah untuk mencukupi kebutuhaan keluarganya melalui pemanfaatan karunia Allah SWT di muka bumi (QS. Al-Jumu’ah : 10) dan selanjutnya dinafkahkan pada anak istrinya (QS. al-Baqarah: 228, 233). Kewajiban ibu adalah menjaga, memelihara dan mengelola keluarga di rumah suaminya, terlebih lagi mendidik dan merawat anaknya. Dalam sabda Nabi SAW. dinyatakan: “Dan perempuan adalah pemimpin di rumah suaminya dan akan ditanyai dari pimpinannya itu” (HR. Bukhari-Muslim).[9]
    Sebagai pendidikan yang pertama dan utama, pendidikan keluarga dapat mencetak anak agar mempunyai kepribadian yang kemudian dapat dikembangkan dalam lembaga-lembaga berikutnya, sehingga wewenang lembaga-lembaga tersebut tidak diperkenankan mengubah apa yang telah dimilikinya, tetapi cukup dengan mengombinasikan antara pendidikan yang diperoleh dari keluarga dengan pendidikan lembaga tersebut, sehingga masjid, pondok pesantren dan sekolah merupakan tempat peralihan dari pendidikan keluarga.[10]
    2.      Sekolah/Madrasah Sebagai Lembaga Pendidikan Islam
    Madrasah adalah isim masdar dari kata darasa yang berarti sekolah atau tempat untuk belajar. Dalam perkembangan selanjutnya, madrasah sering dipahami sebagai lembaga pendidikan yang berbasis keagamaan. Adapun sekolah sering dipahami sebagai lembaga pendidikan yang berbasis pada ilmu pengetahuan pada umumnya. Madrasah sebagai lembaga pendidikan merupakan fenomena yang merata di seluruh negara, baik pada negara-negara Islam, maupun negara lainnya yang di dalamnya terdapat komunitas masyarakat Islam.[11]
    Pendapat tersebut didukung oleh al-Maqrizi, sebagaimana dikutip oleh Maksum, menjelaskan bahwa madrasah merupakan prestasi abad kelima Hijriah. Menurutnya, madrasah belum dikenal pada masa sahabat dan tabi’in, melainkan sesuatu yang baru dikenal setelah abad keempat Hijriah. Senada dengan Syalabi adalah Mehdi Nakosteen dan Michael Stanton, menurutnya madrasah yang didirikan oleh Nizam al-Mulk merupakan institusi pendidikan dalam bentuk baru (a new type of school) yang pada era sebelumnya belum ada. Madrasah juga merupakan institusi pendidikan par excellent di dunia Islam. Demikian halnya George Maqdisi, dan Hisam Nasambe, serta sejarawan Philip K Hitti, menegaskan bahwa madrasah merupakan evolusi dari lembaga pendidikan Islam sebelumnya yaitu Kuttab atau Maktab, masjid dan masjid Khan, yang pada umumnya diasosiasikan kepada perdana mentri Nizam al-Mulk, ini disebabkan keberhasilannya dalam mendirikan madrasah Nizamiyah di Baghdad pada tahun antara 457 dan 459 H. (1065 dan 1067 M), dan selanjutnya mempopulerkan  madrasah dengan cara mendirikan banyak madrasah lain yang serupa di Iraq.
    Madrasah Nizamiyah merupakan prototype madrasah dalam peradaban Islam, merupakan lembaga pendidikan resmi dan pemerintah terlibat dalam menetapkan tujuan pendidikannya, menentukan kurikulumnya, memilih guru, dan memberikan subsidi financial kepada madrasah. Bahkan madrasah Nizamiyah merupakan lembaga yang menghasilkan pegawai-pegawai pemerintah. Ketenaran madrasah Nizamiyah, dibandingkan dengan madrasah-madrasah lainnya, menurut Michael Stanton disebabkan karena madrasah ini menjadi salah satu lembaga pendidikan yang sangat dikenal pada abad kesebelas, dan menjadi cetak biru (blue print) bagi pengembangan madrasah-madrasah serupa di dunia Islam. Selainitu, para ilmuwan hingga saat ini dapat lebih memahami keberadaannya, karena ketersediaan dokumen tentang pendirian dan perkembangannya.[12]

    C.    Lembaga Pendidikan Islam Dunia
    1.      Lembaga Pendidikan Islam Amerika dan Kesejarahnnya
    Salah satu sekolah berbasis Islam yang ada di Amerika adalah As-Salam Day School. Sekolah yang dipimpin oleh Abdul Mun’in Jitmound yang berasal dari Thailand ini merupakan sekolah Islam kelima di Amerika Serikat yang memiliki akreditasi ganda dari lembaga pendidikan Islam dan Non-Islam. Sekolah yang telah berdiri selama dua puluh lima tahun ini menjadi satu satunya sekolah di bagian Misouri yang memegang tiga akreditasi sekaligus, yaitu dari negara bagian Missouri, badan pendidikan Islam di Amerika Utara (CISNA) dan lembaga akreditasi nasional.
    Menurut Abdul Mun'im untuk memperoleh akreditasi dari CISNA, sebuah sekolah harus mengimplementasikan dan mempromosikan ajaran Islam dalam system pendidikannya. Akreditasi ini memberikan validasi bagi sekolah yang telah mengajarkan Qur'an, bahasa Arab, studi Islam dan pengetahuan lain berbasis Islam terutama bagi para orang tua dan siswanya. Sekolah dengan murid berjumlah tiga ratus siswa yang tersebar dari TK hingga kelas 11 ini memiliki 49 orang staff dan pengajar, di antaranya seorang guru asal Indonesia, Rita Pritarini yang mengajar Al-Qur'an, bahasa Arab, dan studi Islam.
    As-Salam Day School menyelenggarakan pendidikan sebagai berikut :
    1.      The Early Childhood Center, Sekolah Anak Usiadini Al-Salam Day School yang memiliki misi untuk membantu setiap anak mencapai potensi penuh di semua bidang dalam kehidupanan kini bermula dari sebuah ruangan di lantai dasar bangunan As-Salam Day School yang sekarang digunakan sebagai ruang penyimpanan. Kemudian pada tahun 2014, dengan dukungan penuh dari masyarakat yang terus menerus, bangunan seluas 8200 kaki persegi yang terletak di 1400 Wyncrest ini dibeli kemudian direnovasi dan dirancang khusus untuk memenuhi kebutuhan semua anak-anak mulai usia 6 minggu hingga Kindergarten (TK). The Early Childhood Center dalam pengajarannya berusaha mengembangkan potensi anak secara keseluruhan yang meliputi kecerdasan emosional, sosial, intelektual, fisik dan spiritual Program dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan setiap anak di setiap tingkat kelas. Mulai di tempat penitipan anak dari usia 6 minggu hingga 18 bulan dan 18 bulan hingga 2 tahun, tiga kelas prasekolah yang terdiri dari usia 3 sampai 5 dan terakhir dua kelas TK yang dipenuhi dengan peserta didik yang bersemangat, usia 5 dan 6. Tujuan lain dari The Early Childhood Center adalah untuk membina anak-anak yang bahagia, cerdas, yang tidak hanya menyerap ajaran Islam dan akademis, tetapi juga dapat mempraktekkannya di dunia luar sekolah. Dengan tujuan untuk menciptakan fondasi Islam yang kuat, dan menghasilkan umat yang hebat, anak-anak di ECC belajar:
    a.       Untuk memiliki pemahaman dan cinta kepada Allah (SWT).
    b.      Untuk mengetahui siapa Nabi Muhammad (SAW) melalui kegiatan mendongeng dan bermain.
    c.        Untuk mencintai Alquran sebagai kitab Allah.
    d.       Wudhu (sholat) dan sholat (sholat) dan mempraktikkannya.
    e.       Dasar-dasar bahasa Arab melalui permainan, teka-teki, kegiatan, gerakan.
    f.       Untuk mengenali huruf-huruf alfabet Arab .
    g.      Untuk menghafal kosakata seperti warna, angka, hewan, bagian tubuh, dll.
    h.       Untuk mendengarkan dan membaca nasheeds Arab yang menambah kosa kata dalam bahasa Arab.
    i.         Untuk membaca dunia Islam dalam bahasa Arab
    j.        Untuk menikmati dan menghafal lagu-lagu Islami yang mengembangkan karakter dan mempromosikan kebanggaan menjadi seorang muslim.
    2.      Elementary ( Dasar ) Pada jenjang pendidikan dasar, Al-Salam Day School berkomitmen untuk memberikan setiap anak pengalaman pendidikan terbaik. Kurikulum di Elementary ADS yang dirancang untuk memenuhi kebutuhan unik untuk setiap anak yang terdaftar. Kelas khusus seperti seni, komputer, dan pendidikan jasmani adalah bagian yang sangat penting dari program pendidikan di Al-Salam Day School. Kelas tersebut berkontribusi secara signifikan terhadap kes ejahteraan sosial dan spiritual siswa.
    3.      Secondary School Sekolah menengah Al-Salam Day School mengajaran berbagai pelajaran yang mencakup Sains, Model UN, Matematika, ACT Prep, Studi Sosial, pendidikan karir dan teknis, Pendidikan Jasmani, Seni Rupa, dan Lainnya.
    Salah satu sekolah Islam yang terkenal di Amerika adalah Sekolah Noor-Ul-Iman di kampus Brunswick Selatan. Negara bagian Maryland yang tak jauh dari Virginia dan Washington D.C. juga ada sekolah Islam yang berkembang cukup pesat. Sekolah tersebut adalah Al-Huda School Darus Salam berlokasi di 5301 Edgelwood Road, College Park, Maryland, 20740. Sekolah Al-Huda sendiri didirikan tahun 1995 dengan maksud untuk memberikan pendidikan kepada anak didik agar ajaran Islam yang dipeluk tidak musnah ditelansituasi. Pelajaran akhlak sangat ditekankan, guna mengantisipasi kebrutalan anak remaja seperti terjadi di AS dalam penembakan terhadap guru atau teman sekolahnya. Bahasa Arab diperkenalkan dengan penggunaan langsung dalam kehidupan sekolah. Metode pembelajaran bahasa Arab sebagai bahasa kedua sama dengan cara yang dipakai dalam pengajaran bahasa Inggris sebagai bahasa kedua. Pada prinsipnya kurikulum yang dipakai  adalah standar yang diberlakukan di Montgomery, ditambah dengan bahasa Arab, Alqur’an,dan pelajaran keislamanlainnya.[13]
    2.      Lembaga Pendidikan Islam di Inggris
    Salah satu lembaga pendidikan Islam yang dibahas adalah masjid. Masjid tidaknya difungsikan sebagai beribah tetapi jugauntuk kegiatan belajar. Bagi aktivis wanita muslimah dalam menyuarakan pendapat, bahkan pada setiap masjid disiapkan konsultasi syariah khusus wanita dan oleh wanita muslimah. Adapun pendanaan masjid dikelola oleh warga Muslim setempat dengan cara fund raising (pengumpulan dana), makan malam bersama, iftar (buka puasa bersama tiap ramadhan), pengumuman setelah shalat jum’at, bahkan melalui iklan-iklan di televisi. Ada keunikan tersendiri dalam fund raising, yang diadakan dalam satu waktu atau satu event. Dana yang terkumpul diupdate setiap detik dan ditampilkan di LCD dalam masjid serta di website-website resmi masjid.
    Selanjutnya ialah pemasyarakatan hukum Islam yang sedang marak di Inggris. Hukum Syariah atau Sharia Law tengah marak di Inggris dalam hal penegakan hukum berpakaian, hukum lain dalam Islam, berdakwah, hingga ke ranah ekonomi yakni bank syariah. Mengenai hukum berpakaian terdapat kebebasan berpakaian di Inggris tapi disisi lain telah terjadi perdebatan sengit mengenai niqab/cadar di Inggris.Selanjutnya, berdakwah dianggap salah satu bentuk ijin bagi setiap muslim jika ingin hidup di daerah non muslim. Mereka biasa berdakwah dengan mengunakan segala media (radio atau tv channel) bahkan ditengah umum. Dipusat kota London biasa mereka adakan meja da’wah dimana mereka membagikan setiap CD Islami dan Alqur’an secara gratis. Adapun Bank Syariah menjadi trend di Inggris mengingat kebutuhan para penduduk muslim harus terpenuhi dalam hal perbankan.[14]
    3.      Lembaga Pendidikan Islam di Arab Saudi
    Sistem pendidikan di Arab Saudi memisahkan antaralaki-laki dan perempuan sesuai dengan syariat Islam. Secara umum, system pendidikan dibagi menjadi 3 bagian utama:
    1.      Pendidikan umum untuk laki-laki.
    2.      Pendidikan umum untuk perempuan.
    3.      Pendidikan Islam untuk laki-laki
    Untuk pendidikan umum, baik laki-laki dan perempuan mendapat kurikulum yang sama dan ujian tahunan yang sama pula. Pendidikan umum dibagi menjadi 4 bagian:
    1)      Pendidikan Dasar yang terdiridari SD (6-12 tahun). 2.   
    2)      Pendidikan Menengah (12 – 15 tahun)
    3)      Pendidikan Sekunder (15-18 tahun).
    4)      Pendidikan Tinggi (UniversitasatauAkademi).
     Pendidikan Islam tradisional bagi laki-laki difokuskan untuk membentuk calon-calon anggota dewan ulama.[4] Kurikulum untuk sekolah Islam tradisional juga sebagian menggunakan kurikulum pendidikan umum, tetapi fokusnya pada Studi Islam dan Bahasa Arab. Untuk pendidikan agama, dilakukan di bawah supervise dari Universitas Islam Imam Saud (Riyadh) dan Universitas Islam Madinah (Madinah). Namun demikian, di universitas-universitas umum, pelajaran agama Islam merupakan mata kuliah wajib apapun jurusan yang diambil mahasiswa.
    4.      Pendidikan Tinggi Universitas
          Untuk pendidikan tinggi universitas, tingkatannya sama seperti universitas pada umumnya, yaitu: Strata 1 (Bachelor), Strata 2 (Master), dan Strata 3 (Doctor). Untuk S1, waktu yang dibutuhkan adalah 4 tahun (minimal), tetapi untuk teknik, medis, dan farmasi dibutuhkan minimal 5 tahun untuk menyelesaikannya. Untuk S2 (Master) dibutuhkan minimal 2 tahun untuk menyelesaikannya dengan syarat harus sudah menyelesaikan S1.
          Ada dua jalur untuk S2, dengan tesis (by thesis) atau dengan kuliah (by course). Apabila kita mengambil jalur tesis, maka setelah menyelesaikan matakuliah yang sudah ditentukan, kita harus menyelesaikan tesis kurang lebih selama satu tahun( 2 semester), sedangkan untuk jalur kuliah, kita hanya perlu menyelesaikan seluruh matakuliah yang telah ditentukan, namun dengan jumlah matakuliah yang lebih banyak.
          Untuk S3, lama waktu yang dibutuhkan adalah 3 tahun setelah menyelesaikan S2. untuk S3, kita harus menyelesaikan matakuliah dan mengumpulkan disertasi yang merupakan hasil riset independen yang telah dilakukan. Selain itu, tambahan syarat kadang-kadang diperlukan, seperti: minimal mempublikasikan jurnal internasional atau konferensi internasional.
          Sebagai tambahan, ada beberapa universitas khusus untuk perempuan yang sebagian besar berfokus kepada ilmu pendidikan. Jenjang yang tersedia untuk universitas khusus perempuan ini mulai dari S1 sampai S3.
          Universitas besar di Arab Saudi di antaranya King Saud University, King Fahd University of Petroleum and Mineral, King Abdul Aziz University, King Faisal University, dan universitasbaru King Abdullah University of Science and Technology (KAUST).
    5.      Pendidikan Tinggi Non Universitas
    a.       Technical College
    Pendidikan tinggi ini setara dengan diploma yang harus diselesaikan selama 3 tahun. Bidang-bidang yang tersedia: control otomatis, system elektrikal otomatis, otomotif, perlengkapan elektrik, instalasi elektrik, kimia industri, elektronik industri, dan teknik produksi.
    b.      Higher Technical Institute
    Pendidikan ini seperti layaknya D1 yang dapat diselesaikan selama 1 tahun saja.
    c.       Higher Technical Institutes for Financial and Commercial Science
    Pendidikan tinggi
    ini khusus untuk ilmu keuangan dan komersial. Kurikulum yang tersedia adalah: akuntansi, korespondensi komersil dan bisnis, bahasa Ingris, asuransi, kebudayaan Islam, pemasaran dan periklanan, pembelian dan inventori, dan kesekretariatan. Lama pendidikan yang harus ditempuh adalah selama 2 tahun.
    d.      The Institute of Public Administration
    Lama studi untuk jenis pendidikan tinggi ini adalah selama 2 sampai 3 tahun. Bidang-bidang yang tersedia adalah: perbankan (2 tahun), pemrosesan data elektronik (2.5 tahun), administrasi rumah sakit (2 tahun), ilmu kepustakaan (3 tahun), ilmu personil (2 tahun), ilmu kesekretariatan (2 tahun), dan ilmu pergudangan (2 tahun).
    e.       Teacher Training College
    Untuk pendidikan keguruan terbagi menjadi 3 jurusan: guru sekolah dasar dan menengah pertama (primary school), guru sekolah menengah atas (secondary school), dan guru pendidikan lanjut (higher education).[15]

    D.    Lembaga Pendidikan Pada Masa Awal Islam
          Dalam menelusuri bagimana system dan perkembangan ilmu dalam Islam di Masa klasik (sejak masa Nabi Muhammad), penting sekali dengan terlebih dahulu melihat keberadaan lembaga-lembaga pendidikan Islam yang ada, karena dengan melihat perkembangan lembaga-lembaga pendidikan yang ada, setidaknya akan dapat melihat bagaimana system yang diberlakukan dalam lembaga pendidikan tersebut.
          Apalagi kondisi sosiokultural masyarakat Arab pra-Islam terutama pada masyarakat Mekkah dan Madinah sangat mempengaruhi pola pendidikan periode Nabi di Mekkah dan Madinah. Secara kuantitas orang-orang yang masuk Islam pada Fase Mekkah lebih sedikit daripada orang-orang yang masuk Islampada fase Madinah. Hal tersebut diantaranya disebabkan oleh watak dan budaya nenek moyang mereka sedangkan masyarakat Madinah lebih mudah memasuki ajaran Islam karena saat kindisi masyarakat khususnya Aus dan Khazraj sangat membutuhkan seorang pemimpin, untuk melenturkan pertikaian sesame mereka dan sebagai pelindung dari ancaman kaum Yahudi, disamping sifat penduduknya yang lebih ramah yang dilator belakangi kondisi geografis yang lebih nyaman dan subur.
          Sejak Nabi Muhammad diutus menjadi Rasul dan diperintah untuk menyampaikan risalahnya kepada umat manusia, pendidikan dan pengajaran merupakan kegiatan pertama yang dilakukan. Nabi. Meskipun penyampaian risalah tersebut dalam bentuk kegiatan dakwah, tetapi dakwah itu sendiri tidak dapat dipisahkan dari masalah pendidikan dan pengajaran, karena dakwah juga pada intinya adalah menanamkan nilai-nilai keagamaan, dan mengajak manusia untuk melaksanakannya dalam kehidupan sehari-sehari.
          Pada tahap awal pendidikan dan pengajaran yang dilakukan. Nabi ditujukan untuk keluarga dan sahabat-sahabat dekat beliau. Kegiatan tersebut dilakukan secara sembunyi-sembunyi di rumah Arqam bin Abi al-Arqam yang terletak di bukit Shafa. Menurut Syalabi, rumah Arqarn ini merupakan lembaga pendidikan Islam pertama yang digunakan oleh Nabi. Di rumah Arqam, Nabi mengajar para sahabat dan pengikut-pengikutnya tentang dasar-dasar ajaran agama Islam serta menyampaikan wahyu yang diturunkan Allah kepada beliau. Di samping itu. Nabi juga melakukan pembinaan terhadap pribadi-pribadi muslim agar menjadi kader-kader yang kuat, tangguh serta berjiwa besar dalam menghadapi sernua cobaan dan tantangan.
          Dipilihnya rumah Arqarn sebagai tempat pendidikan sangat terkait dengan keamanan dan ketenangan belajar.Rumah ini agak terlindung dari penglihatan musuh, sehingga pembelajaran dapat berjalan dengan tenang. Semua sahabat yang ikut belajar di sana dapat belajar dengan baik dan menguasai pelajaran yang mereka terima dari Rasul. Hal yang dipentingkan Nabi ketika itu hanya sebuah tempat belajar yang tenang, jauh dari gangguan kafir qurasy.
          Institusi pendidikan berikutnya yang digunakan. Nabi sebagai pusat pembelajaran Islam setelah rumah Arqarn adalah mesjid. Ketika Nabi hijrah ke Madinah bersama umat Islam lainnya, hal yang pertama dilakukan Nabi adalah membangun mesjid, dan mesjid tersebut terkenal dengan mesjid Quba. Mesjid Quba dijadikan sebagai tempat beribadah, tempat berkumpul, tempat bermusyawarah, dan tempat belajar.[16]
               
    E.     Lembaga Pendidikan Islam di Masa Pertumbuhan dan Kejayaan Pendidikan Islam
          Masa ini berlangsung antara wafatnya Rasulullah Saw. sampai akhir masa pemerintahan Bani Umayyah yang diwarnai dengan berkembangnya ilmu-ilmu naqliah. Dalam masa ini berkembang pula pusat-pusat Pendidikan Islam dikota-kota yang telah dikuasai pemerintahan Islam disamping kota Madinah.
          Pusat Pendidikan Islam pada masa ini masih berlokasi pada masjid-masjid dalam bentuk halaqah atau ditempat pertemuan lainnya. Pusat Pendidikan Islam tersebut merupakan madrasah terkenal dikota-kota besar, yaitu:
    1.      Madrasah Makkah
    2.      Madrasah Madinah
    3.      Madrasah Basrah
    4.      Madrasah Kufah
    5.      Madrasah Damsyik
    6.      Madrasah Fistat (Mesir)
          Sebelum berkembangnya lembaga pendidikan formal berupa madrasah atau universitas dalam Pendidikan Islam, muncul terlebih dahulu Lembaga Pendidikan non-formal yang akhirnya sedikit demi sedikit berkembang menjadi lembaga pendidikan formal, meskipun tidak seluruhnya demikian. Lembaga pendidikan tersebut adalah:
    1)      Kuttub, memberikan bimbingan untuk belajar membaca dan menulis (tingkat dasar), Lembaga ini berkembang menjadi lembaga tingkat dasar.
    2)      Toko-toko kitab, disamping berfungsi sebagai tempat penjualan buku-buku atau kitab, juga toko ini berfungsi sebagai tempat pertemuan para ulama, pujangga dan ilmuwan, dengan diskusi dalam berbagai masalah ilmu pengetahuan.
    3)      Majelis, majelis ini diadakan khalifah untuk membahas berbagai macam ilmu pengetahuan. Pada zaman Khulafaur Rasyidin majelis ini dipindahkan keistana, yang diundang hanya orang tertentu saja. Disini sering diadakan perlombaan syair, perdebatan atau diskusi para ulama.
    4)      Perpustakaan, sebagai tempat meminjamkan buku-buku, melalui buku para murid menambah ilmu dari ulama masa itu. Para ulama pun menyeddiakan perpustakaan pribadi yang disediakan untuk muridnya.
    5)      Masjid, berfungsi sebagai tempat Pendidikan. Masjid dilengkapi dengan fasilitas pendidikan seperti perpustakaan dan ruangan khusus untuk belajar-mengajar, seperti tempat pendidikan anak-anak, tempat halaqah bagi para ulama dan murid-muridnya dan tempat berdiskusi.


    BAB III
    PENUTUP
    A.    Kesimpulan
    Lembaga pendidikan Islam ialah suatu bentuk organisasi yang diadakan untuk mengembangkan lembaga-lembaga Islam yang baik yang permanen, maupun yang berubah-ubah dan mempunyai pola-pola tertentu dalam memerankan fungsinya, serta mempunyai struktur tersendiri yang dapat mengikat individu yang berada dalam naungannya, sehingga lembaga ini kekuatan hukum tersendiri. Bentuk-bentuk lembaga pendidikan islam antara lain: keluarga dan sekolah/madrasah.  Contoh negara yang menerapkan lembaga pendidikan Islam antara lain: Amerika Serikat, Inggris dan Arab Saudi.
    Lembaga pendidiakan pada masa awal Islam bermula pada zaman Rasulullah Saw. Pada tahap awal pendidikan dan pengajaran yang dilakukan. Nabi ditujukan untuk keluarga dan sahabat-sahabat dekat beliau. Kegiatan tersebut dilakukan secara sembunyi-sembunyi di rumah Arqam bin Abi al-Arqam. Institusi pendidikan berikutnya yang digunakan. Nabi sebagai pusat pembelajaran Islam setelah rumah Arqarn adalah mesjid. Pusat pendidikan Islam pada masa pertumbuhan dan kejayaan endidikan Islam masih berlokasi pada masjid-masjid dalam bentuk halaqah atau ditempat pertemuan lainnya.
    B.     Saran
    Lembaga pendidikan Islam di dunia beraneka ragam macamnya. Setiap lembaga pendidikan yang ada di dunia memiliki kelebihan dan kekurangannya masih-masing. Jadi, kita bisa mengambil sisi positif dari lembaga-lembaga tersebut untuk diterapkan di negara kita. Terakhir, penuis berharap para pembaca untuk mengkaji lebih dalam lagi referensi yang telah penulis cantumkan agar dapat menambah wawasan kita perihal kelembagaan pendidikan Islam di dunia.



    DAFTAR PUSTAKA

    Abuddin Nata. 2010.  Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Kencana.
    Abdul Mujib dan Jusuf Mudzakkir. 2008. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Kencana.
    AhmadD  Marimba. 1987. Pengantar Filsafat Pendidikan Islam. Bandung: Al-       Ma`Arif.
    Burhanuddin Abdullah. 2010.  Pendidikan Islam Sebagai Sebuah Disiplin Ilmu.     Yogyakarta:    PustakaPrisma Grafika.
    https://www.academia.edu/12081272/Pendidikan_di_Arab_Saudi, diakses pada    tanggal 21 Maret 2020, pukul 14:30.
    https://youchenkymayeli.blogspot.com/2015/12/islam-di-inggris.html, diakses         pada tanggal 21 Maret 2020, pukul 11:00.
    Husin. “Pendidikan Agama Islam Di Amerika Serikat (Lembaga Pendidikan           Islam). 2018. Al-Madrasah. Vol. 2, No. 2.
    Mahfud Junaedi. “Madrasah: dari Nizamiyyah hingga Pesisiran Jawa”. Nadwa.   Vol. 8  No. 1. 2014.
    Muhaimin. 1993. Pemikiran Pendidikan Islam. Bandung: Trigenda Karya.
    Nyayu Soraya. “Lembaga Pendidikan Islam Periode Awal Dalam Perspektif          Sejarah. 2016, Tadrib, Vol. II No. 2.
    Ramayulis. 2011. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Kalam Mulia.



    [1] Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Kalam Mulia, 2011), Cet ke.9, hlm. 277.
    [2] Ibid
    [3]AhmadD.Marimba, Pengantar Filsafat Pendidikan Islam, (Bandung: Al-Ma`Arif, 1987), hlm. 56.
    [4] Ibid. hlm. 278.
    [5] Ibid.
    [6]Muhaimin, Pemikiran Pendidikan Islam, (Bandung: Trigenda Karya, 1993),  hlm. 286.
    [7] Abdul Mujib dan Jusuf Mudzakkir, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta:Kencana, 2008), Cet ke 2, hlm. 226.
    [8] Ramayulis, Op Cit., hlm. 283.
    [9] Abdul Mujib dan Jusuf Mudzakkir, Loc Cit.
    [10] Ibid. hlm. 227.
    [11] Abuddin Nata, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Kencana, 2010), Hlm. 199.
    [12]Mahfud Junaedi, Madrasah: dari Nizamiyyah hingga Pesisiran Jawa, Nadwa, Vol. 8, No. 1, 2014, hlm. 96-97.
    [13]Husin, Pendidikan Agama Islam Di Amerika Serikat (Lembaga Pendidikan Islam), 2018, Al-Madrasah, Vol. 2, No. 2, hlm. 12-17.
    [14]https://youchenkymayeli.blogspot.com/2015/12/islam-di-inggris.html, diakses pada tanggal 21 Maret 2020, pukul 11:00.
    [15]https://www.academia.edu/12081272/Pendidikan_di_Arab_Saudi, diakses pada tanggal 21 Maret 2020, pukul 14:30.
    [16] Nyayu Soraya, Lembaga Pendidikan Islam Periode Awal Dalam Perspektif Sejarah, 2016, Tadrib, Vol. II No. 2.

    [17] Burhanuddin Abdullah, Pendidikan Islam Sebagai Sebuah Disiplin Ilmu, (Yogyakarta: PustakaPrisma Grafika, 2010), hlm. 112-116.

  • You might also like

    Tidak ada komentar:

    Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

Cari Blog Ini

Video

Maps