• Cerpen : Menata Rasa


     MENATA RASA
    Oleh: IMN
    Melangkah pergi, membawa rasa yang telah mati
    ~I. M. N~

    Matahari telah menyemburkan sinarnya, tepat di pinggiran kota Metropolitan Jakarta. Tinggallah seorang perempuan yang hidup sendiri disebuah gubuk yang tak layak huni, atap yang dipenuhi bintang-bintang dan juga dinding yang berlubang. Dia anak tunggal yang lahir dari keluarga sederhana, ayahnya berprofesi sebagai penjual barang bekas dan ibunya adalah seorang rumah tangga. Dia lah Diandra Senja, seorang perempuan cantik, periang, rajin dan pemimpi yang besar. 

    Mimpi-mimpi untuk masa depannya yang direncanakan sudah tersusun manis. Tinggal menjalankannya saja seiring dengan berjalannya waktu. Bagi Diandra sosok orang tua sangatlah penting, orang tua merupakan sebagian hidupnya dan penyemangat diri. Entah apa hendak dikata, tetapi Tuhan berkehendak lain. Tuhan lebih menyayangi mereka. Mereka meninggal karena sakit di waktu yang hampir bersamaan disaat Diandra belum bisa membahagiakan mereka. Kejadian ini membuat Diandra trauma dan kehilangan tujuan hidupnya. 

    Tahun berganti tahun berlalu, membuat Diandra semakin terpuruk, semangatnya hilang seketika dan menjadikannya hidup sebatang kara. Hampir terpikir dibenaknya untuk bunuh diri karena sungguh malang hidupnya. 

    Deru angin malam  menerpa, Diandra merenungi hidupnya. Terbayang akan kebersamaan dengan orang tuanya dan mimpi besarnya dulu. Tetapi  hal tersebut membuat hati semakin sakit dan kecewa.

    "Untuk apa aku hidup?" (Teriak Diandra)

    "Semangatku telah mati." (Kata Diandra dengan tatapan mata yang nanar)

    "Tuhan... Kenapa Engkau ambil nyawa orang tuaku?" Hiks... Hiks.. (dengan nada keputus asaan)

    "Aku belum sempat membagiakan mereka, Tuhan." (Kata Diandra)

    "Mereka belum sempat melihat mimpi-mimpi ku jadi kenyataan, Hiks... Hiks... (Kata Diandra sambil menangis)

    "Aku sendirian disini, kenapa Engkau tidak mengambil nyawaku saja bersama mereka?" Hiks... Hiks... (kata Diandra sambil menangis tersedu-sedu)

    Masih dalam terlelap renenungan tadi, tiba-tiba terdengar ada yang mengetuk pintu gubuk lusuhnya. 
    Tok... Tok... (suara pintu diketok)

    "Diandra... Diandra... Kamu dimana? Ini kami, sahabatmu". (kata salah satu mereka sambil menunggu)

    Diandra tidak peduli dengan suara pintu tersebut karena saking kalutnya. 

    Setelah beberapa lama menunggu, dan sedikit mengintip kedalam melalui celah di lubang gubuk tersebut. Mereka berdua akhirnya memberanikan diri untuk membuka pintu sendiri sebab pintu tak kunjung dibuka.

    (Arissa Karla dan Ayyara Dea, mereka berdua merupakan sahabat dekat Diandra sejak SMA. Mereka berasal dari lulusan SMA yang sama yaitu angkatan 2017. Dari segi ekonomi bisa dibilang berkecukupan karena orang tua mereka merupakan pengusaha dan mereka juga tidak pilih-pilih dalam berteman baik. Waktu sekolah dulu mereka juga sering membantu Diandra. Sekarang, mereka sudah menempuh kuliah di Universitas Indonesia semester 6)

    Ceklek... (suara pintu terbuka)

    "Diandra !" (kata Arissa sambil berjalan menemui Diandra)

    "Ini kami. Maafin kami baru jenguk kamu." (kata Ayyara sambil memeluk Diandra)

    Mereka berpelukan bertiga. Diandra terpaku akan hal tersebut dan kemudian semakin mengeraskan tangisnya.

    Setelah 10 menit berlalu, Ayyara dan Arissa membujuk Diandra supaya mau berbicara akhirnya pun luluh. Dengan sabar dan hati-hati agar tidak membuat Diandra semakin sedih. Cerita demi cerita sudah Diandra bahas dengan temannya tersebut walaupun sambil sesegukan. Ayyara dan Arissapun tak menyangka dan meneteskan air mata mendengar cerita Diandra. Sungguh kehidupan temannya benar-benar sedang di uji oleh Tuhan, sebab waktu dulu hidup Diandra baik-baik saja, dengan orang tua lengkap walaupun hidup serba pas-pasan dan kadang juga sering di nyinyir oleh tetangga, hal tersebut tak menyurutkan semangat Diandra .  

    Empati yang besar membuat Ayyara berpikir untuk membantu Diandra supaya bisa hidup dengan layak. Ayyara meminta ayahnya untuk mempekerjakan Diandra di perusahaan ayahnya dan juga memberi tempat tinggal untuk sementara. 

    "Di, apa kamu mau ikut denganku?" (kata Ayyara)

    "Tidak, aku tidak mau Ay." (kata Diandra dengan nada sedih)

    "Kenapa Ndra?" (tanya Arissa) 

    "Banyak kenangan yang tersisa disini, harta yang aku punya sisa gubuk ini peninggalan orang tuaku." (kata Diandra)

    "Ayolah Ndra, jangan kamu terlalu berlarut dalam kesedihan. Kamu harus melanjutkan hidupmu." (kata Ayyara)

    "Betul, orang tuamu sudah tenang disana Di, jangan kamu memperberat mereka. Lebih baik kamu do'akan mereka ya." (kata Arissa dengan nada yang berhati-hati)

    Diandra terdiam, dia tidak terpikir akan hal itu. Setelah dibujuk, akhirnya Diandra mau untuk ikut dengan Ayyara. 

    "Ya, aku mau." (kata Diandra)

    Mendengar hal tersebut, Arissa dan Ayyara tentu senang dan kembali memeluk Diandra.

    Beberapa hari berikutnya, Ayyara sudah berjani untuk menjemput Diandra. Dia pergi bersama kakaknya untuk menjemput Diandra. 

    Perjalanan yang mereka tempuh sekitar 40 menit. Diperjalanan mereka asyik mengobrol. 

    "Kak, kakak makasih ya sudah bantuin Ay jemput Di." (kata Ayyara)

    "Loh loh, kok makasih sih. Apasih yang nggak buat adik kakak yang cantik ini." (kata Ben sambil tersenyum dan mengacak rambut Ayyara)

    (Ben Atmaja, kakak seorang Ayyara yang merupakan seorang CEO PT Atmaja Group. Umurnya 25 tahun, beda 5 tahun dengan Ayyara. Tentunya tampan, ramah, baik hati dan juga belum pernah bertemu dengan Diandra karena sewaktu SMA dulu Ben masih berada diluar negri melanjutkan studi S2 nya)

    "Ish kakak. Jangan dirusak rambut aku. Lama dandannya ini." (Kata Ayyara sambil cemberut)

    "Iya dek, maaf. Kakak belum pernah kedaerah sini." (Kata Ben)

    "Masa sih kak. Bentar lagi sampai kok kita." (Kata Ayyara)

    Setibanya disana, keadaan Diandra sudah mulai membaik.

    "Kak, bantuin dong bawaa barang Diandra." (Kata Ayyara sambil menatap Ben yang bengong)

    "Oh. Iya." (Kata Ben tergagap)

    Diperjalanan, Ayyara mengenalkan kakaknya kepada Diandra. 

    "Di, kenalin ini kakak aku, namanya Ben." (Kata Ayyara)

    "Saya Ben, kakaknya Ayyara. Salam kenal." (Kata Ben sambil mengulurkan tangan dan tersenyum)

    Diandra akhirnya tersadar dari lamunannya karena terlalu asik menyelam dipikirannya dan sambil melihat pemandangan kota. 

    "Iya, saya Diandra, teman Ayyara." (Kata Diandra sambil membalas uluran tangan Ben)

    Setelah 40 menit berlalu...

    Akhirnya mereka sampai di rumah mewah Ayyara. Rumah yang berlapis emas dengan halaman yang begitu luas. Mereka datang dengan disambut ramah dan baik oleh kedua orang tua Ayyara yaitu Bapak Handoko Atmaja dengan Ibu Clara. 

    Diandra  yang diperlakukan seperti itu jadi sungkan. Benar-benar berterima kasih atas kebaikan keluarga Ayyara yang mau membantunya. Diandra melongo ketika masuk kedalam rumah temannya ini. Ketika dulu waktu SMA, meski ia berteman dekat dengan Ayyara tapi belum pernah masuk kerumahnya. Banyak sekali barang-barang mewah yang terpajang, sampai akhirnya terfokus pada foto keluarga yang benar-benar terpancar kebahagiannya. Melihat hal itu, dada Diandra menjadi sesak. Ingatan terhadap orang tua nya menjadi muncul. 

    Ayyara  yang melihat raut wajah Diandra yang berubah tentunya langsung cepat menegur Diandra. Diandrapun langsung tersadar dari lamunannya bersamaan dengan sapaan orang tua Ayyara yang menyuruh Diandra langsung memasuki kamar diatas untuk istirahat. 

    "Bibi... Tolong bantu Diandra ya keatas, tunjukkan kamarnya dan bawakan barang-barangnya". (titah Ibu Clara) 

    "Iya, Bu. Mari non Diandra, sini barangnya bibi bawakan." (Kata Bibi mengiyakan permintaan Ibu Clara dan  membantu membawakan barang Diandra)

    "Hah... Iya, Bi."(kata Diandra sambil mengikuti Bibi naik tangga)

    Sesampainya diatas Diandra makin melongo melihat kamar yang ia tempati, tentu sangat indah dan terlihat nyaman, dengan satu ranjang ukuran King size, kamar mandi di dalamnya, 1 set meja belajar, meja rias lengkap yang serasi dengan walpaper yaitu dominasi putih dan pink. Tak seperti digubuknya hanya beralaskan tikar dan membuat sakit punggung ketika tidur. Tentu semua itu tak bisa di tukar dengan kenangan yang ada didalamnya. Membuat Diandra menitikkan air mata dan akhirnya dia tertidur. 

    Malampun datang menemui. Terlihat keluarga yang asyik bercanda dan mengobrol sambil menonton tv diruang keluarga. 

    "Ben, bagaimana kondisi perusahaan sekarang?" (tanya Pak Handoko)

    "Tenang, Pah. Semuanya Alhamdulillah bisa terhandle dengan baik". (jawab Ben dengan santai)

    "Kalian ini, malah bahas kerjaan. Nanti aja bahas yang itu. Kita makan malam dulu." (kata Ibu Clara)

    "Betul banget mah, Ayyara dah lapar banget (sambil mengusap perutnya, padahal dia juga sambil ngemil makanan-makanan ringan)". (jawab Ayyara dengan bersemangat)

    "Dasar kamu ini, makan mulu yang dipikir, pantesan aja gendut". (kata Ben)

    "Wah kakak. Ngajak ribut! Dari mananya Ayyara ini gendut. Wong aku cantik gini, pipi tirus, badan langsing". (kata Ayyara dengan nada cepat dan agak sedikit marah)

    Pletak (bunyi jitakan Ben ke dahi Ayyara) 

    "Ish... Aduh, kakak gak punya akhlak banget sama adiknya. Mah, kakak nakal". (kata Ayyara marah dan nada manja sambil bicara dengan Ibu Clara)

    "Udah-udah sayang. Dah tua jua masih aja berantem. Yok kita kita makan aja, makanannya udah siap". (kata Ibu Clara) 

    "Yaudah, Ayyara panggilin Diandra ya biar kita makan bareng". (titah Pak Handoko) 

    "Siap Papah." (kata Ayyara dengan semangat sambil berlari-lari)

    Ibu Clara, Pak Handoko dan Ben tersenyum melihat kelakuan Ayyara padahal sudah kuliah masih saja seperti anak-anak. 

    Ayyara langsung mengetuk pintu ketika sampai disana. Beberapa kali ketukan masih belum juga pintu dibuka. Ayyara sudah hampir berteriak memanggil Diandra untuk bangun dan makan malam bersama. Khawatir temannya ini kenapa-kenapa atau bunuh diri di dalam kamar. Setelah ketukan pintu yang terakhir dengan bertubi-tubi. Akhirnya Diandrapun bangun dan membuka pintu dengan wajah lesu khas orang bangun tidur.

    Ayyara melihat hal tersebut spontan langsung memeluk Diandra dan mengucap syukur berkali-kali, karena takut temannya ini berbuat macam-macam. 

    Diandra pun melongo, dan terlintas dipikirannya ada apa tiba-tiba datang langsung memeluk. Terheran jadinya. 

    Setelah kejadian itu, mereka berlima kemudian makan malam. Suasana agak sedikit canggunh bagi Diandra. Karena memang suasana yang baru baginya. Benar-benar bisa berkumpul dengan keluarga yang lengkap. 

    Melihat hal itu, Ben peka terhadap keadaan pun mulai berbincang-bincang ringan dengan Diandra begitupun dengan yang lain sehingga suasana tersebut berubah seketika. Tingkah konyol dan manja Ayyara yang jadi pewarna. Celotehan-celotehan Ben, tak jarang membuat Diandra tersenyum dan tertawa lepas. 

    BERSAMBUNG DI PART 2
    Makasih buat yang baca. Banyak typo bertebaran
  • You might also like

    Tidak ada komentar:

    Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

Cari Blog Ini

Video

Maps