Menyikapi Covid-19, Wabah atau Musibah?
Covid-19, sebuah wabah penyakit yang menjadi musibah bagi umat manusia, tidak hanya bagi satu atau dua negara, tetapi bahkan seluruh dunia. Musibah global, yang menciptakan ketakutan dan kecemasan seluruh penduduk bumi. Adanya fenomena covid-19 ini, perlu bagi kita, utamanya kaum muslim yang beriman dan berakal, memahami apa yang sedang terjadi.
Covid memang merupakan sebuah musibah, namun sebagai umat muslim, kita harus meyakini bahwa selalu ada hikmah dibalik setiap musibah. Musibah sendiri dapat digolongkan menjadi 3, yakni:
1. Musibah yang fungsinya untuk mengangkat derajat bagi orang yang ditimpa. Contohnya musibah yang menimpa para anbiya, rasul, orang-orang shaleh.
2. Musibah yang fungsinya untuk mengurangi dosa orang mukmin secara umum, yang mencampurkan diri mereka antara kemaksiatan dan ketaatan. Adanya musibah yaitu sebagai sarana penggugur dosa-dosa yang telah dilakukan.
3. Musibah yang fungsinya sebagai adzab, hukuman, bagi orang-orang yang tidak bisa mengambil ibrah atau pelajaran dari musibah tersebut.
Kejadian yang ada, bukanlah kebetulan belaka. Virus covid-19 (corona), adalah bagian dari ciptaan Allah, yang khusus dari inilah membuat manusia ketakutan, terancam, bukan hanya bagi orang kafir, orang muslimpun harus menahan, tidak bisanya umrah, haji, sujud di depan kabah, bahkan untuk konteks Indonesia, di dalam negeripun Allah SWT dalam tanda kutip “menahan kita untuk tidak mendatangi rumahnya”, sholat jumat ditiadakan, sholat fardlu berjamaah di masjid ditiadakan, banyak hal baik yang akhirnya tertunda karena efek adanya corona.
Musibah yang terjadi pada manusia, bisa timbul sebab adanya kaitan dengan maksiat. Sesuatu terjadi, tentu bukan karena tidak adanya munasabat atau kaitan. Allah SWT berfirman dalam Q.S As-Syura ayat 30. _“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu, maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri”.
Salah satu tujuan Allah SWT menurunkan sebuah musibah, tentunya sebagai teguran dari-Nya. Apalagi musibah yang sifatnya merata, seperti dengan adanya covid-19. _“Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang dzalim saja diantara kamu. Dan ketahuilah Allah amat keras siksaan-Nya”_ (Q.S Al-Anfal: 25). Suatu musibah, yang tidak hanya menimpa kaum dzalim saja, maka solusinya adalah bertaubat. Yang paling penting dari semuanya adalah tadarruk, yakni kembali kepada Allah SWT.
Lalu, ikhtiar apa yang perlu dilakukan, dan bagaimana agar musibah tersebut segera diangkat oleh Allah? Tentunya doa dan usahalah yang perlu dilakukan. Berdoa agar Allah berkenan mengampuni dosa-dosa kita dan menjaga kita semua, sembari berikhtiar untuk melindungi diri dari terkena wabah penyakit tersebut. Islam mengajarkan agar hambanya kembali kepada agamanya, termasuk dalam menyikapi penyakit covid-19
_“Kalau kalian mendengar wabah thaun di suatu negeri, janganlah kalian memasuki negeri tersebut. Namun apabila wabah thaun tersebut menyebar di negeri kalian, janganlah kalian keluar dari negeri tersebut menghindar dari penyakit itu.”_ (H.R Bukhari-Muslim). Pernah suatu ketika, kira-kira pada 17, 18 Hijriyah, pada zaman khalifah Umar bin Khattab, terdapat wabah thaun yang menyebabkan 20.000 s.d. 25.000 jiwa pada waktu itu meninggal. Pada saat yang bersamaan juga, Umar bin Khattab sedang berperang melawan Romawi, akan memasuki suatu tempat. Terdapat kabar, bahwa tempat yang akan dimasuki oleh Umar dan umat muslim lainnya adalah kawasan wabah thaun. Setelah bermusyawarah dengan para sahabat, Umarpun memutuskan untuk tidak memasuki wilayah yang dikabarkan terkena wabah thaun. Keputusan Umar tersebut didukung oleh sahabat Abdurrahman bin Auf, yang pernah mendengar bahwa Rasulullah pernah melarang umatnya untuk masuk ke dalam tempat yang terkena wabah thaun. Larangan untuk berhaji dan umrah merupakan hal yang tepat ditengah situasi seperti sekarang ini. Kakbah kan selalu dipegang orang, bukan hanya untuk kaum Arab, tetapi kaum muslim yang lain juga. Penutupan haji dan umrah bukan baru sekali, tetapi sudah beberapa kali, seperti pada saat peperangan dan perebutan kekuasaan. Penutupan kakbah hanya dilakukan sementara waktu, bukan untuk seterusnya.
Pada intinya, menyikapi wabah penyakit covid-19 yang sedang terjadi, secara umum yang harus dilakukan diantaranya:
1. Berdzikir, berdoa dan bertaubat kepada Allah SWT.
2. Mengisolasi tempat adanya wabah, melarang orang luar daerah untuk masuk ke dalam wilayah terjangkit, serta melarang orang di daerah terjangkit untuk keluar dari wilayah terjangkit.
3. Bersabar.
_“Dari Aisyah r.a, ia berkata, aku bertanya kepada Rasulullah SAW tentang wabah penyakit. Rasulullah SAW memberitahukan kepadaku: Wabah penyakit itu adalah adzab yang diutus Allah kepada orang-orang yang dikehendaki. Allah menjadikannya rahmat bagi orang-orang yang beriman. Jika terjadi suatu wabah penyakit, ada orang yang menetap di negerinya, ia bersabar, hanya berharap balasan dari Allah, ia yakin bahwa tidak ada peristiwa kecuali sudah ditetapkan Allah, maka ia mendapat balasan seperti mati syahid.” (H.R Bukhari)
Hanya Allah SWT yang mengetahui, kapan kita akan diangkat dari musibah virus covid-19. Segala yang terjadi di langit, bumi dan kedalaman lautan, sudah Allah takdirkan jauh sebelum penciptaan manusia. Dengan adanya covid-19, hikmah yang ada diantaranya:
1. Membuat orang yang punya masalah-masalah, menjadi kecil dengan adanya permasalahan Corona yang lebih besar.
2. Membuat orang tidak terlalu bergembira yang melampaui batas, atas apa yang dimiliki. Sungguh, Allah tidak suka dengan orang yang sombong.
3. Percaya pada takdir Allah. Bukankah Allah SWT telah menenggelamkan Firaun di Laut Merah, menghancurkan Namrud dengan seekor lalat, menghancurkan kaum Hud dengan angin. Banyak wabah penyakit yang diturunkan Allah sebelum Corona, seperti MERS, SARS, HIV, dan lainnya. Allah mampu menurunkan semuanya, tetapi itu semua berputar sesuai keMahaadilan Allah SWT.
4. Allah tidak mungkin menyusahkan hamba-Nya, kecuali tidak mampunya mereka untuk menjangkau hikmah-hikmahnya. Bagaimana seluruh dunia akhirnya peduli akan kebersihan. Tangan dibersihkan, pegangan pintu dibersihkan,, dan lain sebagainya. Allah sendiri menyukai hal yang bersih dan indah. Wallahua'lam bisshawab.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar