Generasi Qur'ani
Point A
Siapa generasi Qur'ani? Setiap muslim fitrahnya adalah sebagai generasi Qur'ani. Karena ia lahir dengan fitrah keislaman, mengimani Allah SWT, malaikat, al-qur'an, rasul Nya, hari akhir (qiyamah), dan qada' qadar Allah serta semua cakupan yang ada didalamnya dan terus mendaur melahirkan generasi-generasi Qur'ani selanjutnya.
Dengan memahami Islam yang benar serta akrab dengan pedoman Islam, maka akan mampu mengantarkan setiap individu menjalani hidup dengan idealisme yang luhur,namun faktanya banyak dari kita sebagai generasi Islam tidak mendedikasikan diri sebagai generasi Qur'ani, dimana generasi Qur'ani merupakan generasi yang menjadikan Alqur'an sebagai pedoman hidup mereka, meyakini kebenaran AlQur'an, membaca, menghafal dan memamahinya dengan baik dan benar, serta mengamalkannya dalam seluruh aspek kehidupan.
Generasi Al-Qur'an generasi Rabbani, mereka yang mengenal Allah dan menjadikanNya sebagai pusat oreantasi hidup dalam segala perbuatan. Telah lama Rasulullah, para sahabat, tabi' wattabi'in, ulama' mencetak generasi Qur'ani yang kuat aqidahnya, benar ibadahnya, bagus akhlaknya serta tinggi peradabannya, sehingga tidak salah jika sejatinya generasi Qur'ani adalah penyambung lidah agama Allah.
Dikatakan, generasi Qur'ani di zaman Rasulullah adalah generasi yang menjadikan Alqur'an sebagai sumber utama kehidupannya. Sekaligus juga menjadi ukuran dan dasar berpikir mereka. Padahal bukan berarti ketika itu manusia tidak memiliki peradaban di bidang pengetahuan dan kebudayaan sama sekali. Malah saat itu peradaban Romawi beserta Persia sedang berada dalam masa-masa puncak kejayaannya.
Akan tetapi, Rasulullah membatasi genarasi pertama ini dari segala peradaban dan pemikiran yang telah ada pada waktu itu, padahal telah sedemikian maju. Itu karena beliau ingin membentuk generasi baru yang benar-benar hidup di bawah naungan Alquran. Tidak terkontaminasi sama sekali dengan pola pikir bangsa Romawi yang merupakan induk dari budaya materialisme. Juga bersih dari pengaruh budaya-budaya lainnya di sekitar jazirah Arab, seperti Persia, India, Yunani, serta Cina.
Mustahil Islam dapat menjelma menjadi sebuah peradaban baru, lepas dari pengaruh kebudayaan lainnya tanpa adanya sebuah manhaj baru yang mampu membebaskan umat manusia dari segala bentuk penghambaan terhadap sesama makhluk. Rasulullah hendak membangun generasi yang dapat menjadi suri teladan bagi seluruh umat manusia, dan itu berlandaskan nilai-nilai kemuliaan yang terkandung di dalam Alqur'an dan Sunnah.
Betapa generasi hasil didikan Rasulullah tetap mampu menjadi inspirasi bagi generasi-generasi berikutnya. Peradaban Islam yang dimotori generasi para sahabat ini mampu membentangkan sayap dakwah, mulai dari Andalusia, Maghribi, Mesir, Asia Tengah, hingga India. Semua berada dalam satu pemerintahan Islam, satu kejayaan yang jauh lebih besar dibanding peradaban pendahulunya, Romawi maupun Persia.
Dalam waktu yang sangat singkat, 23 tahun yaitu 13 tahun di Mekkah dan 10 tahun di Madinah. Rasulullah mencetak mereka sebagai generasi yang Allah ridha dan mereka pun ridha kepada-Nya. Para sahabat merupakan Alquran yang berjalan karena senantiasa menjadikan Alquran sebagai pedoman hidupnya. Jika Alqur'an melarang mereka, segera mereka tinggalkan,begitupun sebaliknya.
Langkah mudah yg bisa dijadikan sebagai tolak ukur mundur dan majunya umat Islam,keselamatan,dan kesejahteraannya bisa dilihat seperti apa visualisasi pengamalan Al-Qur'an pada kehidupannya. Telah dikatakan oleh sebagian salafussalih dalam kitab "Adda`u waddawa` "oleh Imam Ibnu Qayyim Aljauziyyah:
أنزلالقرآنليعملبهفاتخذواتلاوتهعملا.
Dikatakan bahwa, diturunkannya Al-Qur'an untuk diamalkan perintah Allah didalamnya, bukan sekedar membacanya sebagai bentuk pengamalan.
Point B
Penting untuk kita tafakkuri, bahwa menyelami islam dengan manhaj yg benar ,mempunyai literasi ilmu & ma'rifah yg luas sangatlah penting karena pemandangan saat ini banyak dari kita yg tidak benar dalam memahami islam, berbicara tidak sesuai dengan ajaran islam padahal dia islam,menafsirkan Al-Qur'an semaunya,mudah dalam menghukumi seseorang,berdalil tanpa landasan yg benar, padahal itu semua bukanlah cover islam hakiki.
Generasi Qur'ani tidak selesai pada pengalaman terhadap pedoman hidupnya, namun bisa berperan aktif dan tentu bisa membaca sistuasi perkembangan dunia saat ini dengan sikap yg objektif sesuai bidang masing-masing,menghadirkan solusi. menuangkan inovasi- inovasi gemilang,sehingga setiap dari kita wajib memiliki dedikasi yang tinggi dalam pengembaraan pengetahuan.
Contoh dekatnya dengan adanya fenomena Covid 19 saat ini, generasi qur'ani sangatlah ditunggu-tunggu perannya, contoh kecil dengan memberikan sikap di bidang masing-masing. Misalnya saya sebagai pelajar bisa dengan bersuara membantu menyiarkan kebijakan ulama' dan pemerintah, bergerak aktif di masyarkat dst. Begitulah sejatinya generasi yg baik.
Generasi Qurani akan mengerti dan memahami bagaimana menyelesaikan problematika dan fenomena yang dialami oleh generasi muda lainnya,mengingat generasi muda sangatlah rentan terhadap derasnya arus modernisasi saat ini.
Jika kita lihat melalui konteks keislaman, tentu Islam sudah menaruh perhatian yang sangat besar terhadap generasi muda. Kita lihat pada zaman dahulu banyak pemuda muslim yang tampil dengan keberanian dan kegagahannya untuk berjihad di medan perang. Inilah pemuda yang diharapkan Islam.
Bukan sosok muda manakala tidak tergiur dengan indahnya fatamorgana dunia dan masih lemah jiwa dan keimanan dalam menghadapi hawa nafsu.Terlebih hidup di akhir zaman ini yang penuh dengan berbagai fitnah dan kecanggihan teknologi,ditambah dengan corak budaya dan hiburan di berbagai belahan dunia dapat mereka nikmati dan ditiru.
Tanpa adanya filter dan keimanan yang kuat dan peran generasi Qur'ani,pada akhirnya akan mempengaruhi karakter dan pola pikir mereka secara keseluruhan serta akan diaktualisasikan dalam kehidupan mereka dalam masyarakat.
Pemuda diharapakan melewati gelombang disrupsi dan era industri 4.0. Ajaran dan nilai-nilai Al-Qur'an akan menjadi bekal dalam melewati gelombang perubahan dunia.
Generasi milenial qur'ani harusnya mampu mampu melewati gelombang perubahan saat ini dan di masa yang akan datang.
Pada abad ke-21, ilmu pengetahuan dan teknologi telah berkembang dengan cepat.
Di era yang disebut era industri 4.0 ,perubahan sangatlah cepat dan fundamental dengan mengacak-acak pola tatanan lama untuk menciptakan tatanan baru. Gelombang teknologi baru menginisiasi lahirnya model bisnis baru dengan strategi leblh inovatif dan disruptif. Cakupan perubahannya luas mulai dari dunia bisnis, perbankan, komunikasi, transportasi, sosial masyarakat hingga pendidikan. Menurutnya, era ini akan menuntut setiap orang untuk berubah dan mampu beradaptasi.
Pada titik inilah niai-nilai AlQur'an meniadi petunjuk yang universal dan sepanjang waktu bagi kehidupan manusia. Sejatinya teknologi hadir untuk membantu manusia dalam menjalankan fungsi utamanya menjadi khalifah di bumi.
Inti peran generasi Qur'ani adalah menjadi solusi bagi orang lain,bisa menghadirkan solusi ketika generasi sejawat nya belum bisa menghadirkan solusi tersebut.
Berbicara jenjang generasi ,bahwa generasi milineal merupakan generasi terbaru mengisi kehidupan dunia saat ini. Mereka terlahir dari rahim revolusi industri.Revolusi industri telah memicu terjadinya perubahan visi, misi dan perilaku hidup masyarakat ke arah yang lebih realistis, dan telah mengantarkan generasi milenial ke era disrupsi dan era post truth.
Generasi milenial memiliki kecerdasan intelektual dan kekuatan fisik lebih unggul dibanding generasi sebelumnya, mereka dihadapkan pada dua pilihan yaitu mengikuti perubahan zaman atau punah ditelan perubahan itu sendiri.
Ini merupakan sebuah tantangan, sekaligus peluang.
Disatu sisi, jika ingin tetap eksis, maka kita harus mengikuti perkembangan zaman, namun disisi lain perkembagan itu telah mengarah pada dehumanisai sebagai pengaruh liberalisme dan sekularisme yang semakin masif.
Makan dengan adanya penerapan Qur’ani menawarkan sebuah adaptasi dan inovasi yang mengintegrasikan kebenaran ilahiyah yg bersumber dari Al-Qur'an dengan kebenaran ilmiyah yang bersumber dari budaya.
Point C
Tantangan yg sangat kontekstual saat ini seperti penyimpangan sosial ,misalnya penyalahgunaaan narkotika, pergaulan bebas,belajar agama tidak keseluruhan yg menyebabkan kesalaha pahaman dalam agama sendiri, penyalahgunaan teknologi,kebuasan serapan budaya dan banyak lainnya.
Bahkan tantangan yg sangat kontras sekalipun,munculnya perubahan pada pemuda Indonesia tepatnya pada mereka yang menggebu-gebu belajar ilmu agama, dan bertemu dengan orang yang melakukan doktrin dan propaganda jihad pada pemuda. Sehingga menyebabkan pemuda dipengaruhi pemahamannya baik dari sisi ideologi, atau pola pikir tentang pengetahuan keagamaan.
Hal ini menyebabkab individu menjadi seorang yang berideologi radikal, dan mengharamkan segala hal termasuk keutuhan NKRI yang penuh dengan toleransi antara agama, suku, ras, bahasa, adat-istiadat, budaya, tradisi, dan berbagai hal lainnya.
Disaat ini generasi Qur'ani yg kental dengan ajaran islam, sangat penting dalam menyikapi hal tersebut, misalnya dengan berkreatifitas dan berusaha menciptakan tatanan masyarakat meliputi segala bidang baik teknologi, ekonomi, pariwisata, dan lainnya untuk terus dikembangkan dan ditingkatkan.
Dengan semangat yang tinggi perlu menciptakan wadah kreatifitas dalam berbagai bidang baik itu bidang musikalisasi, jurnalistik, olahraga, keagamaan, seni lukis, dan sebaginya. Dimana wadah kekreatifitasan tersebut menumbuhkan rasa cinta kepada tanah air, dan berguna bagi nusa, bangsa, dan agama dan tentunya kembali kepada keautentikan AlQur'an.
Diluar sana para musuh muslim telah melirik potensi berharga,yg tidak lain adalah para generasi muda,mereka berusaha dan berupaya untuk merusak jati diri pemuda, khususnya moral dan spritual. Sebagaimana yang kita saksikan, hingga saat ini salah satu upaya mereka adalah dengan menggunakan food, fashion, fun dan film.
Mayoritas dari elemen pemuda Indonesia terjerumus ke dalam jebakan tersebut, bahkan memuja-mujanya.Nilai dan budaya yang telah dibawa oleh Rasulullah SAW terlupakan begitu saja.Menjawab fenomena ini tidak boleh dibiarkan tanpa solusi dan peran aktif semua lapisan masyarakat terutama sekali generasi muda.
Hal yang paling mendasar yang harus dimiliki oleh generasi penerus adalah ilmu,disempurnakan dengan pengamalan ajaran islam yg tertuang dlam Al-Qur'an, seperti yg saya paparkan sebelumnya, tanpa ilmu tidak mungkin sebuah perubahan terwujud, diimbangi dengan ma'rifah islam.
Untuk membangun umat dan mengupayakan kembali kejayaan Islam, pemuda muslim yang akan mengambil peranan tersebut. Berdakwah dan mengajarkan adalah zakatnya ilmu.
Maka wajib bagi orang yang menuntut ilmu agama termasuk pemuda untuk menyampaikan kepada umat yang lainnya, dan memberikan saham agar dapat memberikan hidayah orang kafir masuk Islam serta memberikan hidayah orang yang berbuat kemaksiatan menuju istiqamah (dalam kebaikan beragama).
Point D
Tips sebagai agen generasi Qur'ani:
1.Membaca, menghafal, memahami Al-Qur'an.
2.Implementasi Al-Qur'an.
3.Menguatkan pondasi dasar dengan memiliki manhaj belajar yang benar.
4.Update informasi, melek teknologi.
Ada uraian pamungkas saya nih hehe:
Pemuda pemudi tidak melulu ada pada tema percintaan.
Sadarkah kita peran yg akan dan sedang kita lakoni,
meredam kebodohan, sebagai solusi kegundahan, mengobati luka budaya yg tak kunjung sembuh, mengairi dehidrasi masa depan generasi.
Jangan sampai terlena dengan keeksotisan masa muda.
Jangan sampai virus malas merajai akal sehat.
Kontribusi untuk ummat adalah tujuan besar kita.
Jangan sampai asumsi masyarakat bertolak belakang dengan fakta,
rebahan, mager seakan budaya, majelis ilmu diacuhkan, kuliah dinomorduakan.
Kampung kita sedang menunggu belaian perubahan.
Harapan dan impian yg mereka titipkan harus terealisasikan.
Selagi muda ayo belajar juga berkarya.
Jangan banyak galau, sehingga lagau yg berujung kacau.
Jangan banyak baperan, mari berperan.
Teruslah menjadi lentera dalam belantara, agar jalan nampak dan kentara.
Tetaplah menjadi Tirta Amarta
bagi mereka, dan kita semua.
ومُعظَمُ النارِمِنْ مُستَصْغرِ الشَرِرِ
Besarnya kobaran api berasal dari percikan.
Jika dianalogikan, bahwa percikan sebagai generasi, dan kobaran api adalah efek yg diakibatkan, maka bisa dipastikan bahwa generasi saat ini adalah komando kobarannya.
Sumber:
Seminar Nasional Online
Sumber:
Seminar Nasional Online
Tidak ada komentar:
Posting Komentar