POKOK AJARAN MATURIDIYAH DALAM PERSPEKTIF ILMU KALAM
Ida MustanirahNamirawati
1901110063
Pendidikan Agama Islam
Kelas B Teologi Islam
PENDAHULUAN
Ilmu kalam (teologi) merupakan ilmu yang membicarakan tentang akidah atau keyakina\dengan memakai pendekatan logika. Ilmu ini mengarah pada hal-hal yang menjadi dasar pokok agama Islam yaitu ke Esaan Tuhan, tentang nubuwah (kenabian), akhirat dan hal yang berkaitan lainnya. Ilmu kalam merupakan ilmu ke Islaman yang membahas persoalan tentang akidah ataupun keimanan berdasarkan pendapat rasional (akal) dan tidak mengesampingkan nash Al-Qur’an dan al-Sunnah. Para mutakalim biasanya mengetengahkan dalil rasional terlebih dahulu, lalu memperkuatnya dengan dalil nash Al-Qur’an dan al-Hadis. Oleh karena itu, ilmu ini menempati posisi sangat penting dan terhormat dalam keilmuan Islam.
Pembahasan tentang persoalan ajaran dasar Islam, mencapai puncaknya ketika abad kedua (2) Hijriyah dan ketiga (3) Hijriyah, yakni pada abad kedelapan (8) Masehi dan kesembilan (9) Masehi, telah menggiring para ulama untuk berorientasi pada pendapat-pendapat tentang rasional atau logika dalam membahas tentang Tuhan dan hubungan-Nya dengan manusia dan juga alam semesta. Dengan demikian, telah mengakibatkan munculnya sebuah ilmu pengetahuan baru dalam pemikiran muslim, yang dikenal dengan sebutanIlmu Kalam.
Tidak dapat dipungkiri bahwa munculnya beberapa golongan dan aliran dalam Islam berawal dari permasalahan politik yang ada pada saat itu terjadi diantara umat Islam, yang kemudian akhirnya menjadi persoalan Teologi dalam Islam. Wafatnya Rasulullah Saw. dan terbunuhnya khalifah Utsman bin Affan yang menjadi awal mula munculnya ilmu kalam (teologi). Beberapa faktor yang menyebabkan munculnya golongan atau aliran dengan segala pemikiranya, yaitu diantaranya faktor politik sebagaimana yang telah terjadi pertentangan antara kelompok Ali dengan pengikut Muawiyah, sehingga memunculkan golongan yang baru yaitu golongan khawarij. Lalu muncullah golongan-golongan lain sebagai reaksi dari golongan satu pada golongan yang lain. Aliran-aliran kalam yang timbul dalam Islam yaitu aliran Khawarij, Murjiah, Murjiah, Mu’tazilah, Ahlussunah Wal Jama’ah (Asy’ariyah dan Maturidiyah).
Aliran Mu’tazilah dipandang sebagai kelompok yang mula-mula menuntut penggunaan nalar (ra’yu) dalam teologi Islam. Ajaran-ajaran dalam mu’tazilah banyak ditentang oleh ulama karena ajaran-ajaran mereka bersifat rasional dan filosofis serta dipandang sebagai aliran yang tidak berorientasi pada pada Sunnah. Aliran-aliran mereka dipengaruhi oleh filsafat dan berlebihan dalam mengagungkan akal. Pada akhirnya kehilangan pedoman dan mengalami kesesatan.
Pada perkembangan berikutnya, kemudian lahirlah aliran moderat dalam Islam yang dikenal dengan sebutan Ahlus Sunnah wal Jama’ah yang dalam metode kalamnya menggunakan pendekatan nalar (ra’yu) dan nash (naql). Kemudian lahir lagi dua aliran dalam Ahlus Sunnah wal Jama’ah ini, yakni aliran As’ariyah dan aliran Maturidiyah. Sedangkan tokoh-tokohnya dalam aliran As’ariyah, yakni Hasan Asy’ari (w.324/ 935) di Iraq dan aliuran maturidiyah, yakni Abu Mansur Maturidi (w.333/944) di Samarqand. Mereka yang pertama kali melahirkan aliran As’ariyah dan aliran Maturidiyah. Kedua aliran ini muncul akibat adanya reaksi terhadap paham sebelumnya yaitu mu’tazilah.
Aliran Asy’ariyah maupun Maturidiyah tak sepaham dengan mu’tazilah dan masing-masing menggunakan pendekatan rasio dan nash yang berbeda. Al-Maturidi memberikan pemikiran yang lebih banyak pada akal, sehingga dalam beberapa hal ia lebih dekat pada paham Mu’tazilah. Tak setradisional seperti As’ariyah dan tidak juga sebebas (liberal) mu’tazilah. Sehubungan dengan hal tersebut, tulisan ini mencoba untuk menguraikan tentang aliran maturidiyah, golongannya, sejarah singkat tentang maturidiyah dan pokok ajaran maturidiyah, yakni perbuatan manusia, pelaku dosa besar, kewajiban mengenai Tuhan, sifat-sifat Allah, dan kalamullah. Fokus tulisan ini yaitu membahas pokok ajarannya secara singkat. Pokok ajaran yang dibahas ditulisan ini hanya beberapa saja, tidak semua yang dibahas.
Aliran Maturidiyah
Nama Maturidiyah merupakan diambil dari nama tokoh pendirinya sendiri. Nama lengkapnya yaitu Abu Mansur Muhammad bin Muhammad bin Mahmud al-Maturidi al-Anshari. Beliau lahir di Samarkand pada pertengahan kedua abad kesembilan Masehi kedua abad ke-9 M dan meninggal tahun 944 M. Melalui karya-karya beliau menentang paham mu’tazilah dan membela akidah-akidah sunni (Ahlus Sunah wal Jama’ah).
Aliran Maturidiyah muncul sebagai reaksi terhadap pemikiran-pemikiran mu’tazilah yang rasional itu, semuanya tidak sejalan dengan pemikiran yang yang diberikan oleh Asy’ariyah. Paham teologi Asy’ari banyak sekali memakai makna teks nash agama, yaitu Al-Quran dan Sunnah, maka Maturidiyah dengan mazhab Hanafi yang dianutnya banyak menggunakan takwil.Jadi, aliran maturidiyah ini merupakan aliran Ahlus Sunah wal Jama’ah yang muncul disebabkan oleh reaksi terhadap aliran mu’tazilah danpendirinya dikenal dengan nama al-Maturidi.
Sejarah Singkat Lahirnya Aliran Maturidiyah
Aliran Maturidiyah ini merupakan bagian dari Firqoh Ahlus Sunah wal Jama’ah. Abu Mansur Muhammad Ibnu Muhammad al Maturidi dia adalah seorang teolog Islam yang banyak menyumbangkan pikirannya dalam Ahlus Sunah wal Jama’ah. Beliau lahir di Samarkand yang hidup pada pertengahan kedua dari abad kesembilan Masehi. Tidak banyak diketahui mengenai riwayat hidupnya. Beliau ialah pengikut Abu Hanifah dan pemikiran-pemikiran kalamnya banyak memiliki pesamaan dengan paham Abu Hanifah. Sehingga dari pemikiran beliau inilah yang dikenal dengan nama Al-Maturidiyah.
Murid dari Al-Maturidi adalah Abu al-Yusuf Muhammad al-Bazdawi. Ia dilahirkan pada tahun 421 H dan meninggal pada tahun 439 H. Diketahui bahwa nenek Al-Bazdawi adalah murid dari al-Maturidi. Sedangkan Al-Bazwadi sendiri mengetahui ajaran-ajaran al-Maturidi dari orang tuanya. Pewarisan paham yang sudah melalui 3 tahap terhadap Al-Bazdawi sendiri tak membuat berbagai perbedaan antara al-Bazdawi dengan sang guru.
Al-Maturidi adalah seorang penganut paham mazhab Hanafi. Negeri tempat dia dibesarkan menjadi tempat perdebatannya antara ahli-ahli hadits dan ahli fiqih serta kaum mu’tazilah dalam Ilmu Kalam. Perdebatan antara mazhab Fiqih Hanafiyah dan Fiqih Syafi’iyah. Sehingga ada hubungan kuat antara Al-Maturidi dan Imam Hanafi dalam Ilmu Kalam. Seperti yang sudah diketahui bahwa Al-Maturidi seorang ulama yang pemikiran-pemikirannya tentang kalam dipengaruhi mazhab Hanafi.
Hampir sama dengan aliran al-Asy’ariyah, latar belakang munculnya aliran ini yakni sebagai reaksi penolakan terhadap ajaran aliran Mu’tazilah, walaupunsebenarnya pandangan keagamaan yang dianut mirip dengan pandangan mu’tazilah yaitu lebih menonjolkan akal dalam pemikiran kalamnya. Di aliran Maturidiyah ini, akal atau rasio yang berperan penting dalam menyusun konsep teologinya dan dalam memahami ajaran -ajaran agama. Menurut aliran Maturidiyah, akal bisa membantu manusia dalam memahami keEsaan Allah.
Golongan Aliran Maturidiyah
Dalam aliran Maturidiyah ini terdapat dua golongan yaitu Samarkand dan Bukhara. Pemikiran golongan Samarkand lebih dekat dengan paham Mu’tazilah dan golongan Bukhara lebih dekat paham As’ariyah. Golongan Samarkand ialah pengikut-pengikut Al-Maturidi sendiri. Sedangkan golongan Bukhara yaitu pengikut Al-Badzdawi. Perbedaan golongan ini karena perbedaan pemahaman.
Pokok Ajaran Aliran Maturidiyah
Disini pembahasan pokok ajaran aliran Maturidiyah hanya dipaparkan beberapa , yakni Perbuatan manusia, pelaku dosa besar, kewajiban mengenai Tuhan, sifat-sifat Allah, dan Pokok-pokok kalamullah. Ajaran tersebut akan diuraikan satu persatu sebagai berikut:
a. Perbuatan Manusia
Dalam perbuatan manusia, Al-Maturidi berpendapat bahwa manusia sendirilah menentukan perbuatan-perbuatannya. Setiap manusia mempunyai kebebasan di dalam segala tingkah lakunya. Apabila perbuatan manusia tadi buruk maka hal itu terlepas dari kekuasaan Allah, karena jika perbuatan manusia (baik dan buruk) terikat dengan Allah berarti manusia di dalam berbuat jahat melibatkan Allah. Hal ini berarti bahwa manusia di dalam berbuat jelek memang sudah dikehendaki Allah. Maka dengan demikian bahwa maturidiyah mempunyai paham qadariyah yang mana Al-Maturidi mengambil jalan tengah antara mu’tazilah dan Asy’ariyah.
b. Pelaku Dosa Besar
Al-Maturidi berpendapat iman tidak akan hilang karena melakukan dosa besar. Orang yang berdosa besar tetap mukmin, dan mengenai dosa besarnya akan ditentukan Allah di akhirat nanti. Iman dan perbuatan itu berbeda, jadi tidak saling mempengaruhi, iman itu berada di dalam hati, sedangkan perbuatan letaknya pada anggota gerak badan. Seorang mukmin yang berperilaku dosa besar tidak kekal di neraka, walaupun dia belum bertobat kepada Allah Swt. Mengenai hal ini Al-Maturidi berlandaskan ayat Al-Qur’an dalam surah Al-An’am: 16, yakni:
مَّن يُصۡرَفۡ عَنۡهُ يَوۡمَئِذٖ فَقَدۡ رَحِمَهُۥۚ وَذَٰلِكَ ٱلۡفَوۡزُ ٱلۡمُبِينُ ١٦
Barang siapa yang dijauhkan azab dari padanya pada hari itu, maka sungguh Allah telah memberikan rahmat kepadanya. Dan itulah keberuntungan yang nyata.(QS. Al-An’am: 16)
Berdasarkan ayat ini bahwasanya menurut al-Matudiri, perbuatan jahat di balas setimpal dengan perbuatannya. Dosa orang yang beriman tidaklah sama dengan dosa orang kafir yang berada ditingkat bawahnya. Dosanya orang kafir jauh lebih berat. Sedangkan orang syirik dan kufur akan kekal di dalam neraka.
c. Kewajiban Mengetahui Tuhan
Menurut al-Maturidi, dengan akal bisa mengetahui kewajiban untuk mengetahui Tuhan, seperti yang diperintahkan oleh Tuhan dalam ayat-ayat Allah Swt. supaya memperhatikan alam, langit dan bumi. Namun, meskipun akal sanggup mengetahui Tuhan, tapi ia tidak mampu mengetahui dengan sendirinya hukum-hukum taklifi (perintah-perintah Tuhan). Oleh sebab itu, Allah memerintahkan manusia untuk merenungi alam ini. Hal Ini menunjukkan bahwa dengan akal (rasio), manusia dapat mencapai ma’rifat kepada Allah Swt.
Mengenai kewajiban manusia mengetahui Tuhan dengan akalnya sebelum datangnya wahyu itu juga adalah wajib diketahui oleh akal, maka setiap orang yang sudah baligh dan berakal berkewajiban mengetahui Tuhan. Sehingga akan berdosa bila tidak percaya kepada Tuhan sebelum turunnya wahyu.
Pemikiran al-Maturidi tersebut mirip dengan aliran Mu’tazilah. Perbedaannya ialah kalau aliran mu’tazilah mengatakan bahwa pengetahuan Tuhan itu diwajibkan oleh akal (artinya akal yang mewajibkan), maka menurut al-Maturidi, meskipun kewajiban mengetahui Tuhan dapat diketahui akal, tetapi (kewajiban itu sendiri datangnya dari Tuhan).
d. Sifat-sifat Allah Swt.
Al-Maturidi kemudian muncul dan menetapkan sifat-sifat itu bagi Allah, tetapi ia mengatakan bahwa sifat-sifat itu bukanlah sesuatu di luar Dzat-Nya bukan pula sifat-sifat yang berdiri pada Dzat-Nya dan tidak pulah terpisah dari Dzat-Nya. Sifat-sifat tersebut tidak mempunyai eksistensi dari Dzat, sehingga tidak dapat dikatakan bahwa banyaknya sifat-sifat itu akan membawa kepada banyaknya yang qadim (kekal). Tuhan itu memiliki sifat-sifat, tetapi sifat-sifat itu bukan zat. Dengan kata lain sifat-sifat itu bukanlah suatu yang berdiri pada zat. Sifat itu qadim dengan qadimnya suatu zat. Kekalnya sifat-sifat itu sendiri, akan tetapi kekalnya sifat itu melalui kekekalan yang terdapat dalam esensi Tuhan.
Dengan pandangan ini, al-Maturidi dekat dengan Mu’tazilah, atau lebih tegas lagi, ia hampir sependapat dengan mereka. Sebenarnya tidak ada perbedaan pendapat di kalangan kaum muslimin bahwa Allah itu Maha Mengetahui, Maha Melihat, Maha Kuasa dan Maha Mendengar. Perbedaan pendapat di antara mereka hanya tentang: apakah semua itu merupakan sesuatu yang bereksistensi di luar Dzat-Nya ataukah tidak? Mu’tazilah menafikan semua itu sebagai sesuatu diluar Dzat, sedangkan Asy’ariyah menetapkan bahwa sifat-sifat itu merupakan sesuatu di luar Dzat-nya, sekalipun tidak dapat berdiri sendiri kecuali dengan Dzat itu, sementara Maturidiyah ketika mengakui bahwa ia bukanlah sesuatu yang berlainan dengan Dzat-nya, nyaris sama dengan Mu’tazilah.
Dalam persoalan sifat Tuhan tentang Antropomorphisme, pendapat al-Maturidi serupa dengan mu’tazilah. Tuhan tidak punya badan, Tuhan tidak butuh anggota badan seperti manusia, namun ketidakberbadanan Tuhan mempunyai dampak yang berbeda-beda dengan ketidakberbadanan manusia. Ketidakberbadanan Tuhan tidak menghilangkan Kemahakuasaannya, sedangkan ketidakberbadanan manusia membuat manusia menjadi lemah.
e. Kalamullah (Al-Qur’an)
Menurut Al-Maturidiyah, Al-Qur’an bersifat qadim sehingga ia kekal. Al-Qur’an mempunyai sifat kekal Allah, satu tidak terbagi, tidak berbahasa Arab ataupun Syiria, namun diucapkan manusia dengan ekspesi yang berbeda. Al-Qur’an sudah disebut sejak zaman azali. Aliran ini membedakan kalam yang tersusun dengan huruf dan suara dengan sebutan kalam nafsi (kalam yang ada atau yang sebenarnya). Kalam nafsi adalah sifat qadim bagi Allah Swt.
Persoalan sifat kalam dan kaitannya dengan keberadaan al-Qur’an, al-Maturidi berpendapat, kalam Tuhan merupakan salah satu sifat yang menyatu dengan Zat-Nya dan karenanya kalam itu kekal bersama kekekalan Zat-Nya. Sebabkalam itu tidak tersusun dari huruf dan kalimat. Adapun kalam Tuhan yang terdiri dari huruf dan kalimat seperti al-Qur’an adalah diciptakan dan karenanya baru.
Pokok ajaran aliran Matudiriyah ini sebenarnya tidak jauh berbeda dengan Asy’ariyah. Dalam hal perbuatan manusia, al-Maturidiyah berpaham Qadariyah,yang mana setiap manusia punya kebebasan berkehendak dan punya kemampuan untuk berbuat. Semua perbuatan manusia terwujud karena kehendaknya dan kemampuan manusia itu sendiri. Manusia dapat melakukannya sendiri semua perbuatan sesuai kemampuan yang dimilikinya. Pelaku dosa besar, orang yang melakukan dosa besar tidak keluar dari iman, sekalipun amal tetap dihisab dan dia akan mendapat siksa, serta Allah dapat saja mencurahkan rahmat kepadannya. Itu sebabnya Al-Maturidi berpendapan bahwa pelaku dosa besar tidak kekal di neraka, sekalipun ia meninggal dunia tanpa bertaubat.
Maturidi berpendapat, kalam Tuhan merupakan salah satu sifat yang menyatu dengan Zat-Nya dan karenanya kalam itu kekal bersama kekekalan Zat-Nya. Karena kalam itu tidak tersusun dari huruf dan kalimat. Bahwa kalam Tuhan yang terdiri dari huruf dan kalimat seperti al-Qur’an adalah diciptakan dan karenanya baru. Dengan demikian pandangan al-Maturidi lebih dekat dengan Mu’tazilah yang sama-sama mensifati al-Qur’an sebagai sesuatu yang baru, kendatipun tidak sampai menyifati sebagai makhluk, sedangkan Mu’tazilah menyifati al-Qur’an sebagai makhluk. Berbeda dengan Asy’ariyah yang menganggap al-Qur’an bukan makhluk namun tidak memberi sifat qadim, sebab menurut Asy’ariyah al-Qur’an adalah kalam Tuhan dan ia tidak diciptakan.
Aliran Maturidiyah dinisbatkan kepada Imam Almaturidi. Aliran ini timbul akibat reaksi dari aliran Mu’tazilah.pemikiran-pemikiran al Maturidi jika dikaji lebih dekat, maka akan didapati bahwa al Maturidi memberikan pengaruh yang lebih besar kepada akal manusia dibandingkan dengan Asy’ari. Namun demikian di kalangan Maturidiyah terdapat dua golongan yang juga memiliki kecenderungan pemikiran yang berbeda yaitu kelompok Samarkand yaitu pengikut-pengikut al Maturidi sendiri yang paham-paham teologinya lebih dekat kepada paham Mu’tazilah dan kelompok Bukhara yaitu pengikut al Bazdawi yang condong kepada Asy’ariyah.
Pengaruh Al-Asy’ariyah dan Al-Maturidiyah dalam firqoh Sunni memang punya pemikiran sendiri-sendiri, tetapi aliran Maturidiyah lebih condong kepada pemikiran akal. Berkaitan dengan kepopuleran bahwa Asy’ariyah lebih popular daripada Maturidiyah karena karya-karyanya serta ajarannya dikembangkan oleh pengikutnya. Pokok ajaran aliran Maturidiyah hampir sama dengan As’ariyah dan Mu’tazilah tetapi aliran Maturidyah mengambil jalan tengah diantara keduanya sebagai penolakan kepada paham mu’tazilah.
DAFTAR PUSTAKA
Hanafi, Mengantar Theology Islam,1998, Jakarta: Pustaka Al-Husna.
Madkour, Ibrahim, Aliran dan Teori Filsafat Islam, 1995, Jakarta: BumiAksara, Cet. Pertama, 1995.
Nasir, A. Sahilun, Pemikiran Kalam (Teologi Islam), Jakarta:Rajawali Pers.
Nasution, Harun, Teologi Islam Aliran-Aliran Sejarah Analisa Perbandingan,,Jakarta: Universitas Indonesia.
Yusuf,Yunan, Alam Pikiran Islam Pemikiran, 2004, Jakarta: Kencana.
Zahrah, Abu, Aliran Politik dan Aqidah dalam Islam, 1996, Jakarta: Logod.
Eri Susanti, Aliran-Aliran Dalam Pemikiran Kalam, Ad-Dirasah, Vol. 1, No. 1, 2018.
Hamka, Maturidiyah: Kelahiran dan Perkembangannya, Hunafa, Vol. 4, No. 3, 2007.
Masturin, Khazanah Intelektual Teologi Maturidiyah, Jurnal Kalam, Vol. 8, No. 1, 2014.
Zar,Abu, Pemikiran Al-Maturidiyah Dalam Pemikiran Islam,Adabiyah, Vol. 14, No.2, 2014.
https://maktabahmahasiswa.blogspot.com/2019/03/makalah-sejarah-ilmu-kalam-diajukan.html, diakses pada tanggal 30 Desember 2019, pada pukul 10:00.
http://islamiceducation001.blogspot.com/2019/02/khawarij-dan-murjiah.html, diakses pada tanggal 30 Desember 2019, pada pukul 11:00.
https://maktabahmahasiswa.blogspot.com/2019/03/bab-i-pendahuluan-a.html, diakses pada tanggal 30 Desember 2019, pada pukul 13:00.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar