Oleh : IMN
Tersadar, kita terjebak dalam rasa, dengan situasi yang rumit
~I. M. N~
1 Minggu berlalu
Semua kondisi sudah menjadi tenang. Diandra sudah mulai nyaman hidup bersama keluarga Ayyara. Tak ada kecanggungan lagi terlihat.
Orang tua Ayyara memperlakukan Diandra seperti putri kandung mereka sendiri. Tak dibeda-dibedakan kasih sayang antara Ayyara dan Diandra maupun dengan Ben.
Ayyara dengan aktivitas kampusnya. Serta Ben yang sibuk dengan perusahaan. Membuat Diandra kesepian dirumah karena jarang adanya waktu untuk sekedar bercanda dan berkumpul bersama.
Di saat makan malam bersama. Hanya terdengar denting sendok dan garpu yang menghiasi. Benar-benar sepi makan malam kali ini. Semua fokus pada pikiran dan makanan masing-masing. Tak seperti biasanya memang. Bukan karena bertengkar. Tidak. Tapi karena lelah.
Diandra menatap satu persatu mulai dari papa dan mama Ayyara, kemudian Ayyara dan Ben. Diandra bergelut dengan pikirannya untuk memulai pembicaraan atau tidak. Akhirnya Diandra memberanikan diri.
Uhuk-uhuk (Diandra berpura-pura tersedak untuk menarik perhatian)
Melihat hal itu Ben langsung refleks menyodorkan air minum ke Diandra.
Diandra langsung meminumnya.
"Kamu gak papa, Diandra?" (Kata Ayyara)
"Iya, aku gak papa kok, Ayy". (Kata Diandra sambil memamerkan bulan sabitnya)
"Syukurlah. Aku takut kamu kenapa-kenapa". (Kata Ayyara sambil menghela nafas lega)
"Makannya santai aja, Ndra. Gak akan lari kok nasinya". (Kata Ben)
"Ada-ada aja kamu, Ben." (Kata Ibu Clara sambil tertawa)
Melihat situasi sudah mencair. Diandra kembali ingin mengutarakan keinginannya untuk melakukan aktivitas dan melakukan pekerjaan.
"Mohon maaf, Om". (Kata Diandra memulai dengan nada hati-hati)
Semua yang sedang asyik makan kompak langsung menatap Diandra.
"Iya, kenapa Diandra?" (Kata Pak Handoko)
"Begini, Om. Apakah saya boleh bekerja dan melakukan aktivitas lainnya? Saya jenuh kalau tinggal dirumah terus tanpa melakukan apapun. Ayyara dan Ben juga sibuk. Apalagi disini saya tinggal dengan cuma-cuma (dengan nada sedih). Saya sangat berterima kasih, Om dan Tante sudah mengijinkan saya tinggal disini dan menerima saya dengan sangat baik. Saya hanya ingin membalas kebaikan kalian. Apapun pekerjaan yang kalian beri ke, Saya akan terima selagi itu halal." (Kata Diandra dengan penjelasan panjang dan lebar)
"Hmm...Diandra. Dengarkan penjelasan Om sebentar ya. Kamu disini sudah kami anggap sebagai keluarga. Kami juga menyayangimu sama seperti menyayangi Ayyara dan Ben. Kamu tidak perlu berkecil hati. Saya sebenarnya sudah lama memikirkan ini. Tapi hal ini menunggu waktu yang tepat untuk dibicarakan. Saya tau sisi psikologis kamu agak terguncang waktu itu. Dan sekarang kamu menanyakannya berarti kesehatan kamu sudah membaik, Diandra. Bagaimana kalau kamu bekerja menjadi staff Keuangan di Perusahaannya Ben? Disana kamu gak perlu takut, karena setiap pegawai baru akan di training terlebih dahulu sampai bisa". (Kata Pak Handoko memberikan penjelasan)
"Betul, Pa. Dikantor aku kebetulan kekurangan staff Keuangan. Sekiranya kamu cocok Diandra untuk masuk kesana. Apa salahnya mencoba dulu, kalau kamu nanti misalnya tidak betah atau ada yang ganggu kamu, bilang aja ke aku. Secara, aku ini kan bosnya". (Kata Ben dengan nada bercanda dan menyombongkan diri)
Diandra sudah hendak melontarkan kata-kata dari bibirnya. Ayyara kemudian menggagalkannya.
"Iya, Ndra. Terima aja". (Kata Ayyara dengan bersemangat)
Diandra pun akhirnya menyetujuinya. Dan mulai besok dia akan menjalankan aktivitas baru.
Diandra sampai tidak bisa tidur memikirkan bagaimana esok. Sambil senyam senyum Diandra memikirkan kejadian indah sampai tak diduga rasa kantuk melanda dan membawanya kedalam mimpi yang berbunga-bunga.
Ke esokan harinya...
Diandra sudah siap dengan pakaian kantor yang diberi oleh Ayyara. Cantik dan pas adalah kata yang tepat untuk menggambarkannya. Dengan riasan tipis, rambut di panjang namun sedikit gelombang di ujungnya dengan sepatu hak yang tidak terlalu tinggi, dan tas.
Melihat Diandra turun dari tangga berpenampilan seperti itu membuat melongo semua orang rumah. Terutama Ben melihatnya tanpa berkedip dan dalam hatinya berkata cantiknya.
"Wah, Ndra cantik banget sih teman aku ini". (Kata Ayyara dengan nada menggoda)
"Ih, apa an sih Ayy. Biasa aja kok". (Kata Diandra mengelak)
"Udah jam 7. Siap-siap berangkat gih". (Kata ibu Clara)
"Oke, mah. Siapp". (Kata Ben bersemangat)
"Mah, kita semua berangkat. Untuk Diandra berangkat sama Ben, ya. Ayyara jangan lupa berangkat kuliah dan hati-hati di jalan ya, Nak". (Kata Pak Handoko)
"Iya, Om". (Kata Diandra)
"Siap, Papa". (Kata Ayyara)
"Yuk, anak-anak salim dulu sama mama". (Kata Ibu Clara)
Setelah ritual salim-saliman dan peluk-pelukan. Semua pergi dan kembali ke rutinitas masing-masing. Ayyara dengan kuliahnya. Ben, Pak Handoko dan Diandra ke kantor. Sedangkan Ibu Clara masih dirumah karena jam 9 untuk mengecek salah satu bisnisnya. Memang, dalam keluarga Ayyara tata krama menjadi hal yang sangat penting. Apalagi sopan santun kepada orang yang lebih tua. Makanya Ayyara dan Ben selalu berbicara tertata dan bertutur dengan orang lain.
Hari demi hari berlalu, bahkan bulan demi bulanpun berlalu. Diandra dengan cekatan juga bekerja dan punya penghasilan sendiri. Tak terasa dia jua sudah berbulan-bulan tinggal bersama keluarga Ayyara. Sudah Diandra bicarakan dengan keluarga Ayyara untuk tinggal mandiri dan mencari kontrakan. Namun, mereka melarang dengan alasan kehidupan di kota Jakarta keras, takut Diandra kenapa-kenapa.
Diandra mengalah dan melupakan niatnya tersebut.
Semua kondisi sudah menjadi tenang. Diandra sudah mulai nyaman hidup bersama keluarga Ayyara. Tak ada kecanggungan lagi terlihat.
Orang tua Ayyara memperlakukan Diandra seperti putri kandung mereka sendiri. Tak dibeda-dibedakan kasih sayang antara Ayyara dan Diandra maupun dengan Ben.
Ayyara dengan aktivitas kampusnya. Serta Ben yang sibuk dengan perusahaan. Membuat Diandra kesepian dirumah karena jarang adanya waktu untuk sekedar bercanda dan berkumpul bersama.
Di saat makan malam bersama. Hanya terdengar denting sendok dan garpu yang menghiasi. Benar-benar sepi makan malam kali ini. Semua fokus pada pikiran dan makanan masing-masing. Tak seperti biasanya memang. Bukan karena bertengkar. Tidak. Tapi karena lelah.
Diandra menatap satu persatu mulai dari papa dan mama Ayyara, kemudian Ayyara dan Ben. Diandra bergelut dengan pikirannya untuk memulai pembicaraan atau tidak. Akhirnya Diandra memberanikan diri.
Uhuk-uhuk (Diandra berpura-pura tersedak untuk menarik perhatian)
Melihat hal itu Ben langsung refleks menyodorkan air minum ke Diandra.
Diandra langsung meminumnya.
"Kamu gak papa, Diandra?" (Kata Ayyara)
"Iya, aku gak papa kok, Ayy". (Kata Diandra sambil memamerkan bulan sabitnya)
"Syukurlah. Aku takut kamu kenapa-kenapa". (Kata Ayyara sambil menghela nafas lega)
"Makannya santai aja, Ndra. Gak akan lari kok nasinya". (Kata Ben)
"Ada-ada aja kamu, Ben." (Kata Ibu Clara sambil tertawa)
Melihat situasi sudah mencair. Diandra kembali ingin mengutarakan keinginannya untuk melakukan aktivitas dan melakukan pekerjaan.
"Mohon maaf, Om". (Kata Diandra memulai dengan nada hati-hati)
Semua yang sedang asyik makan kompak langsung menatap Diandra.
"Iya, kenapa Diandra?" (Kata Pak Handoko)
"Begini, Om. Apakah saya boleh bekerja dan melakukan aktivitas lainnya? Saya jenuh kalau tinggal dirumah terus tanpa melakukan apapun. Ayyara dan Ben juga sibuk. Apalagi disini saya tinggal dengan cuma-cuma (dengan nada sedih). Saya sangat berterima kasih, Om dan Tante sudah mengijinkan saya tinggal disini dan menerima saya dengan sangat baik. Saya hanya ingin membalas kebaikan kalian. Apapun pekerjaan yang kalian beri ke, Saya akan terima selagi itu halal." (Kata Diandra dengan penjelasan panjang dan lebar)
"Hmm...Diandra. Dengarkan penjelasan Om sebentar ya. Kamu disini sudah kami anggap sebagai keluarga. Kami juga menyayangimu sama seperti menyayangi Ayyara dan Ben. Kamu tidak perlu berkecil hati. Saya sebenarnya sudah lama memikirkan ini. Tapi hal ini menunggu waktu yang tepat untuk dibicarakan. Saya tau sisi psikologis kamu agak terguncang waktu itu. Dan sekarang kamu menanyakannya berarti kesehatan kamu sudah membaik, Diandra. Bagaimana kalau kamu bekerja menjadi staff Keuangan di Perusahaannya Ben? Disana kamu gak perlu takut, karena setiap pegawai baru akan di training terlebih dahulu sampai bisa". (Kata Pak Handoko memberikan penjelasan)
"Betul, Pa. Dikantor aku kebetulan kekurangan staff Keuangan. Sekiranya kamu cocok Diandra untuk masuk kesana. Apa salahnya mencoba dulu, kalau kamu nanti misalnya tidak betah atau ada yang ganggu kamu, bilang aja ke aku. Secara, aku ini kan bosnya". (Kata Ben dengan nada bercanda dan menyombongkan diri)
Diandra sudah hendak melontarkan kata-kata dari bibirnya. Ayyara kemudian menggagalkannya.
"Iya, Ndra. Terima aja". (Kata Ayyara dengan bersemangat)
Diandra pun akhirnya menyetujuinya. Dan mulai besok dia akan menjalankan aktivitas baru.
Diandra sampai tidak bisa tidur memikirkan bagaimana esok. Sambil senyam senyum Diandra memikirkan kejadian indah sampai tak diduga rasa kantuk melanda dan membawanya kedalam mimpi yang berbunga-bunga.
Ke esokan harinya...
Diandra sudah siap dengan pakaian kantor yang diberi oleh Ayyara. Cantik dan pas adalah kata yang tepat untuk menggambarkannya. Dengan riasan tipis, rambut di panjang namun sedikit gelombang di ujungnya dengan sepatu hak yang tidak terlalu tinggi, dan tas.
Melihat Diandra turun dari tangga berpenampilan seperti itu membuat melongo semua orang rumah. Terutama Ben melihatnya tanpa berkedip dan dalam hatinya berkata cantiknya.
"Wah, Ndra cantik banget sih teman aku ini". (Kata Ayyara dengan nada menggoda)
"Ih, apa an sih Ayy. Biasa aja kok". (Kata Diandra mengelak)
"Udah jam 7. Siap-siap berangkat gih". (Kata ibu Clara)
"Oke, mah. Siapp". (Kata Ben bersemangat)
"Mah, kita semua berangkat. Untuk Diandra berangkat sama Ben, ya. Ayyara jangan lupa berangkat kuliah dan hati-hati di jalan ya, Nak". (Kata Pak Handoko)
"Iya, Om". (Kata Diandra)
"Siap, Papa". (Kata Ayyara)
"Yuk, anak-anak salim dulu sama mama". (Kata Ibu Clara)
Setelah ritual salim-saliman dan peluk-pelukan. Semua pergi dan kembali ke rutinitas masing-masing. Ayyara dengan kuliahnya. Ben, Pak Handoko dan Diandra ke kantor. Sedangkan Ibu Clara masih dirumah karena jam 9 untuk mengecek salah satu bisnisnya. Memang, dalam keluarga Ayyara tata krama menjadi hal yang sangat penting. Apalagi sopan santun kepada orang yang lebih tua. Makanya Ayyara dan Ben selalu berbicara tertata dan bertutur dengan orang lain.
Hari demi hari berlalu, bahkan bulan demi bulanpun berlalu. Diandra dengan cekatan juga bekerja dan punya penghasilan sendiri. Tak terasa dia jua sudah berbulan-bulan tinggal bersama keluarga Ayyara. Sudah Diandra bicarakan dengan keluarga Ayyara untuk tinggal mandiri dan mencari kontrakan. Namun, mereka melarang dengan alasan kehidupan di kota Jakarta keras, takut Diandra kenapa-kenapa.
Diandra mengalah dan melupakan niatnya tersebut.
BERSAMBUNG.... DI PART 3
Mohon Maaf ya belum direvisi. Terima kasih buat yang baca.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar