KISAH KITA
Oleh: Ida Mustanirah Namirawati
Apa hendak dikata, rasa yang mengalahkan semuanya
~I. M. N~
Terlihat sepasang
remaja yang penuh canda tawa dan mereka saling pandang beberapa
saat dan tersenyum satu sama lain. Ialah Faro Atmaja dan Aera Wicaksono, teman
yang baru dikenal ketika masuk dunia perkuliahan. Bermula dari iseng-iseng chat
via WhatsApp akhirnya bisa sampai sedekat sekarang. Mau tau kelanjutannya? Selamat
membaca.... hihi
Berliku jalan yang
ditempuh, melalui berbagai kabupaten, masuk kedaerah pedalaman di perkampungan
tinggal lah seorang remaja cantik bersama kedua orang tuanya dan kakak
kandungnya. Aera sekarang umurnya menginjak 19 tahun dan hanya berbeda 3 tahun saja dengan kakaknya. Aera juga berkuliah di kampus yang sama dengan kakaknya tapi Aera baru semester 2.
Tinggal berempat disatu rumah dengan harmonis tanpa cela tentu membahagiakan. Apalagi bisa dibilang sebagai keluarga yang tengah-tengah (dibilang sederhana tidak juga dibilang kaya tidak juga) dalam artian masih mampu saja dalam menjalani kehidupan.
Orang tua Aera ini adalah seorang guru Bahasa Indonesia yang mengajar di kampung tersebut. Ibunya bernama Maida Mala mengajar di Sekolah Menengah Atas (SMA) sedangkan ayahnya bernama Doni Wicaksono mengajar di Sekolah Dasar (SD). Sedangkan kakaknya perempuannya bernama Cella Wicaksono, yakni seorang mahasiswi dari Unviersitas Muhammadiyah semester 8 dan sebentar lagi wisuda.
Tinggal berempat disatu rumah dengan harmonis tanpa cela tentu membahagiakan. Apalagi bisa dibilang sebagai keluarga yang tengah-tengah (dibilang sederhana tidak juga dibilang kaya tidak juga) dalam artian masih mampu saja dalam menjalani kehidupan.
Orang tua Aera ini adalah seorang guru Bahasa Indonesia yang mengajar di kampung tersebut. Ibunya bernama Maida Mala mengajar di Sekolah Menengah Atas (SMA) sedangkan ayahnya bernama Doni Wicaksono mengajar di Sekolah Dasar (SD). Sedangkan kakaknya perempuannya bernama Cella Wicaksono, yakni seorang mahasiswi dari Unviersitas Muhammadiyah semester 8 dan sebentar lagi wisuda.
Flashback 1 tahun lalu.
Aera merenungi kenangan-kenangan masa lalu yang menghantui nya, terbit senyum manis ketika dia mengingat-ingat kejadian-kejadian tersebut, sebelum dia masuk kuliah. Bagaimana repotnya persiapan mau ke kota, melengkapi berkas pendaftaran, persiapan OSPEK kampus, dan lain sebagainya.
H-3 sebelum berangkat ke kota.
Aera merenungi kenangan-kenangan masa lalu yang menghantui nya, terbit senyum manis ketika dia mengingat-ingat kejadian-kejadian tersebut, sebelum dia masuk kuliah. Bagaimana repotnya persiapan mau ke kota, melengkapi berkas pendaftaran, persiapan OSPEK kampus, dan lain sebagainya.
H-3 sebelum berangkat ke kota.
“Aera... Semua
peralatan kamu dah siap kan dibawa, nak?” (kata Ibu Maida)
“Iya, mah. Insya Allah
udah siap semua kok”. (kata Aera)
“Kamu mau berangkat ke
kota hari apa, nak? Ayah takut kalo kamu sendirian tinggal kos disana, minta
temenin teman aja ya?” (kata Pak Doni)
“Masih bingung yah
tanggal berapa. Teman Aera katanya berangkat tanggal 27 Juli” (kata Aera)
“Yaudah kamu berangkat
tanggal 29 Juli aja ya supaya gak terlalu lama juga kamu nunggu disana, nanti
ayah belikan tiketnya. Tanggal 29 Juli itu belum ada kegiatan kan” (kata Ayah)
“Iya yah, belum ada
kegiatan.” (kata Aera)
"Yaudah. kamu tidur sana nak, ini sudah malam". (kata Ibu Maida)
"Iya, mah."(kata Aera sambil mengecek chat masuk WhatsApp dari nomor yang tidak dikenal)
Aera mengernyitkan dahinya, siapa ini (batin Aera berucap)
Ketika dibuka, isi pesannya berbunyi, "Assalamu'alaikum, boleh kenalan?"(kata orang tersebut).
Aera belum mengecek siapa pemilik nomor ini. ketika di cek, tertulis nama Faro A. Grup yang sama MABA Universitas Muhammadiyah 2019. Aera ber oh ria dalam hatinya, pasti dapat dari grup.
Setelah itu, Aerapun membalasnya, "Wa'alaikumussalam. Boleh". Aera orangnya memang sengaja gitu sok-sok jual mahal, di lama-lamain balasnya, di persingkat-singkat chatnya. Padahal Aera cuma mengetes saja. Padahal dalam hatinya senang campur dag dig dug gara-gara di chat cowo satu kampus.
Sampai setengah jam kemudian, intens perkenalan mereka berdua, mulai dari nanya nama lengkap, nama panggilan, asal daerah, dan lain-lain. sampai Aera tersenyum-seyum malu melihat ponselnya.
Ibu Maida sedari tadi memandang anaknya dengan pandangan menilai dan akhirnya menegur Aera untuk kembali kekamar dan tidur.
"Aera, cepat tidur."(titah Ibu Maida)
Aera agak terkejut.
"Hah, iyaa mah." (kata Aera sambil berjalan ke kamar)
Sampai dikamar, kembali Aera membuka ponselnya dan kembali membalas chat tadi dan akhirnya tertidur.
Dilain tempat....
Rumah yang tidak terlalu besar dengan belakang dan sampingnya hutan yang tidak terlalu rimbun namun sangat indah dipandang mata dengan warnanya yang hijau. Rumah modern yang terletak di pinggiran kota. Putih mendominasi.
Faro Atmaja dan keluarga tinggal. Faro adalah anak tunggal dari Bapak Raka Atmaja dan Ibu Raina Nada. Dikenal sebagai keluarga yang tengah-tengah juga kurang lebih sama dengan Aera.
Hidup menjadi anak tunggal memanglah tidak mudah karena orang tua mengharapkan anak satu-satunya dapat mencapai kesuksesan. Beban tersendiri bagi Faro. Membahagiakan orang tua adalah nomor pertama. Apapun yang orang tua suruh selama itu adalah kebaikan harus dilakukan. Apalagi Faro anak laki-laki yang sudah berumur 20 tahun. Nantinya akan menjadi tulang punggung keluarga.
Menempuh pendidikan perguruan tinggi adalah hal yang diimpikan sejak lama oleh Faro dan orang tuanya juga mendamba anaknya supaya jadi Sarjana.
Mulai memasuki dunia perkuliahan memang menjadi pengalaman yang sangat baru bagi lulusan-lulusan SMA/SMK/MA. Tak jarang selama libur panjang masa memasuki transisi pendidikan banyak dilakukan hal-hal yang tidak bermanfaat. Akhirnya ketika memasuki dunia perkuliahan menjadi realita tak semanis ekspektasi.
Flashback 1 tahun yang lalu....
Yang namanya anak cowok beda dengan anak cewek yang barang bawaannya rempong. Jadi, ibu Raina menyiapkan barang-barang keperluan untuk anaknya yang bersifat primer saja. Sembari Faro juga packing barang-barang karena mau berangkat ke kota besok.
Setelah selesai packing, orang tua Faro juga sudah kembali ke kamar untuk bersiap tidur begitupun juga dengan Faro, namun dia teringat ketika sore tadi kepo dengan nama-nama teman baru yang satu grup MABA. Satu nama yang mencuri perhatian. ~Aera Wicaksono, namanya cantik pasti orangnya juga cantik pikir Faro. Hmm... namun foto profilnya nggak ada. Yaudah, Faro pun menyimpan nomor cewek tersebut, dan memutuskan untuk mengechatnya ketika malam tiba.
Ternyata ketika Faro mau ngechat dan kenalan, untung cewe itu sedang Online terpampang manis di aplikasi WhatsApp. Dengan senyum lebar Faro langsung coba iseng chat cewe itu. Ucap salam mau kenalan, biar kek basa basi gitu.
Eh, ternyata Fast respon. "Wa'alaikumussalam. Boleh" katanya. Agak rada-rada cuek pikir Faro. Akhirnya Faro melancarkan aksi modusnya mulai dari menanyakan nama, asal daerah, dan sebagainya. Sampai ponsel ditangan dan matanya tak teralihkan. Namun, chat yang terakhir belum di balas, sepertinya dia sudah tidur. Pikir Faro. Fixs hatinya kini senang dan berbunga-bunga bisa berkenalan dengan cewek incarannya, yaitu Aera.
Setelah hampir setengah jam bolak balik buka aplikasi chat warna hijau, menunggu balasan. Namun tak kunjung datang. Walaupun dalam pikiran Faro mengatakan Aera sudah tertidur. Tetapi hatinya mengatakan untuk tetap menunggu. Memang sangat tidak singkron sekali antara hati dan pikiran. Itu yang membuat mata Faro belum mau terpejam. Bayangan-bayangan kenalan tadi masih terpatri kuat di pikirannya.
Berkecamuk dengan segala hal mengenai Aera. Beberapa saat akhirnya Faro tertidur.
BERSAMBUNG.... DI PART 2
"Yaudah. kamu tidur sana nak, ini sudah malam". (kata Ibu Maida)
"Iya, mah."(kata Aera sambil mengecek chat masuk WhatsApp dari nomor yang tidak dikenal)
Aera mengernyitkan dahinya, siapa ini (batin Aera berucap)
Ketika dibuka, isi pesannya berbunyi, "Assalamu'alaikum, boleh kenalan?"(kata orang tersebut).
Aera belum mengecek siapa pemilik nomor ini. ketika di cek, tertulis nama Faro A. Grup yang sama MABA Universitas Muhammadiyah 2019. Aera ber oh ria dalam hatinya, pasti dapat dari grup.
Setelah itu, Aerapun membalasnya, "Wa'alaikumussalam. Boleh". Aera orangnya memang sengaja gitu sok-sok jual mahal, di lama-lamain balasnya, di persingkat-singkat chatnya. Padahal Aera cuma mengetes saja. Padahal dalam hatinya senang campur dag dig dug gara-gara di chat cowo satu kampus.
Sampai setengah jam kemudian, intens perkenalan mereka berdua, mulai dari nanya nama lengkap, nama panggilan, asal daerah, dan lain-lain. sampai Aera tersenyum-seyum malu melihat ponselnya.
Ibu Maida sedari tadi memandang anaknya dengan pandangan menilai dan akhirnya menegur Aera untuk kembali kekamar dan tidur.
"Aera, cepat tidur."(titah Ibu Maida)
Aera agak terkejut.
"Hah, iyaa mah." (kata Aera sambil berjalan ke kamar)
Sampai dikamar, kembali Aera membuka ponselnya dan kembali membalas chat tadi dan akhirnya tertidur.
Dilain tempat....
Rumah yang tidak terlalu besar dengan belakang dan sampingnya hutan yang tidak terlalu rimbun namun sangat indah dipandang mata dengan warnanya yang hijau. Rumah modern yang terletak di pinggiran kota. Putih mendominasi.
Faro Atmaja dan keluarga tinggal. Faro adalah anak tunggal dari Bapak Raka Atmaja dan Ibu Raina Nada. Dikenal sebagai keluarga yang tengah-tengah juga kurang lebih sama dengan Aera.
Hidup menjadi anak tunggal memanglah tidak mudah karena orang tua mengharapkan anak satu-satunya dapat mencapai kesuksesan. Beban tersendiri bagi Faro. Membahagiakan orang tua adalah nomor pertama. Apapun yang orang tua suruh selama itu adalah kebaikan harus dilakukan. Apalagi Faro anak laki-laki yang sudah berumur 20 tahun. Nantinya akan menjadi tulang punggung keluarga.
Menempuh pendidikan perguruan tinggi adalah hal yang diimpikan sejak lama oleh Faro dan orang tuanya juga mendamba anaknya supaya jadi Sarjana.
Mulai memasuki dunia perkuliahan memang menjadi pengalaman yang sangat baru bagi lulusan-lulusan SMA/SMK/MA. Tak jarang selama libur panjang masa memasuki transisi pendidikan banyak dilakukan hal-hal yang tidak bermanfaat. Akhirnya ketika memasuki dunia perkuliahan menjadi realita tak semanis ekspektasi.
Flashback 1 tahun yang lalu....
Yang namanya anak cowok beda dengan anak cewek yang barang bawaannya rempong. Jadi, ibu Raina menyiapkan barang-barang keperluan untuk anaknya yang bersifat primer saja. Sembari Faro juga packing barang-barang karena mau berangkat ke kota besok.
Setelah selesai packing, orang tua Faro juga sudah kembali ke kamar untuk bersiap tidur begitupun juga dengan Faro, namun dia teringat ketika sore tadi kepo dengan nama-nama teman baru yang satu grup MABA. Satu nama yang mencuri perhatian. ~Aera Wicaksono, namanya cantik pasti orangnya juga cantik pikir Faro. Hmm... namun foto profilnya nggak ada. Yaudah, Faro pun menyimpan nomor cewek tersebut, dan memutuskan untuk mengechatnya ketika malam tiba.
Ternyata ketika Faro mau ngechat dan kenalan, untung cewe itu sedang Online terpampang manis di aplikasi WhatsApp. Dengan senyum lebar Faro langsung coba iseng chat cewe itu. Ucap salam mau kenalan, biar kek basa basi gitu.
Eh, ternyata Fast respon. "Wa'alaikumussalam. Boleh" katanya. Agak rada-rada cuek pikir Faro. Akhirnya Faro melancarkan aksi modusnya mulai dari menanyakan nama, asal daerah, dan sebagainya. Sampai ponsel ditangan dan matanya tak teralihkan. Namun, chat yang terakhir belum di balas, sepertinya dia sudah tidur. Pikir Faro. Fixs hatinya kini senang dan berbunga-bunga bisa berkenalan dengan cewek incarannya, yaitu Aera.
Setelah hampir setengah jam bolak balik buka aplikasi chat warna hijau, menunggu balasan. Namun tak kunjung datang. Walaupun dalam pikiran Faro mengatakan Aera sudah tertidur. Tetapi hatinya mengatakan untuk tetap menunggu. Memang sangat tidak singkron sekali antara hati dan pikiran. Itu yang membuat mata Faro belum mau terpejam. Bayangan-bayangan kenalan tadi masih terpatri kuat di pikirannya.
Berkecamuk dengan segala hal mengenai Aera. Beberapa saat akhirnya Faro tertidur.
BERSAMBUNG.... DI PART 2
Tidak ada komentar:
Posting Komentar