DAFTAR ISI
DAFTAR
ISI.......................................................................................................... ii
Kelompok 1 Sifat Allah dan Perilaku Kehidupan Sahabat..................................... 1
Kelompok 2 Iman Kepada Kitab-Kitab Allah........................................................ 3
Kelompok 3 Mu’jizat Allah ................................................................................... 6
Kelompok 4 Sifat-Sifat Rasul dan Ulul Azmi...................................................... 10
Kelompok 5 Iman Kepada Hari Akhir dan Alam Ghaib...................................... 16
Kelompok 6 Akhlak Terpuji dan Akhlak
Tercela Terhadap Diri Sendiri, Lingkungan dan Semesta ............................................................................................................................... 23
Kelompok 7 Akidah Islam ................................................................................... 26
Kelompok 8 Lahirnya Aliran-Aliran Kalam dan Sumber Akhlak......................... 28
Kelompok 9 Kewajiban-Kewajiban Manusia,
Adab Bergaul dalam Masyarakat, dan Kisah Orang Disebutkan dalam Al-Qur’an................................................................................. 33
Kelompok 10 Sifat-Sifat Terpuji dan Tercela ...................................................... 36
Kelompok 11 Rukun Iman dan Ciri-Ciri Akhlak Islamiyah................................. 38
Kelompok 12 Masalah yang Berhubungan dengan Keimanan............................. 41
Kelompok 13 Orang-Orang yang Patut Dicontoh dan Yang Tidak Patut
Dicontoh
............................................................................................................................... 45
KELOMPOK 1
SIFAT
ALLAH DAN PERILAKU KEHIDUPAN SAHABAT
A.
Sifat-Sifat Allah
• Sifat Wajib Allah adalah sifat-sifat
yang melekat pada Allah SWT dan tidak bisa dipungkiri keberadaannya.
• Sifat-sifat Allah ini mencerminkan keagungan serta kesempurnaan Allah
yang sangat banyak sekali dan tidak ada yang memilikinya.
• Sifat-sifat Allah wajib bagi setiap muslim mempercayai bahwa
terdapat beberapa sifat kesempurnaan yang tidak terhingga bagi Allah. Maka,
wajib juga dipercayai akan sifat Allah yang dua puluh dan perlu diketahui juga
sifat yang mustahil bagi Allah.
• Sifat yang mustahil bagi Allah merupakan lawan kepada sifat
wajib. Sifat wajib bagi Allah adalah sifat yang harus ada pada dzat Allah
sebagai kesempurnaan bagi-Nya. Allah adalah kholiq, dzat
yang memiliki sifat yang tidak mungkin sama dengan sifat-sifat yang dimiliki
oleh Allah.
B. Macam-Macam
Sifat Wajib Dan Mustahil Bagi Allah
1. Sifat Wajib :
- Wujud : artinya ada, ketetapan dan kebenaran
yang wajib bagi dzat Allah Swt yang tiada di sebabkan dengan sesuatu sebab
adalah “ada”.
- Qidam : artinya sedia, hakikatnya adalah
menafikan bermulanya wujud Allah Swt.
- Baqa’ : artinya kekal, Allah Swt kekal ada
dan tidak ada akhirnya
- Sama’ : artinya mendengarnya Allah Swt, ini
sifat yang tetap ada yang qadim lagi azali berdiri pada dzat Allah Swt, tiada
sesuatu apapun yang luput dari pendengarannya Allah Swt.
2. Sifat Mustahil :
- ‘Adam, artinya tiada (bisa mati)
- Bukm, artinya bisu
-‘Umy, artinya buta
- Maut, artinya mati (bisa mati)
- ‘Ajz, artinya lemah (tidak kuat)
- Syamam, artinya tuli
C. Sifat Ja’iz Bagi Allah Swt
• Sifat ini artinya boleh bagi Allah Swt mengadakan sesuatu atau
tidak mengadakan sesuatu atau di sebut juga sebagai “mumkin”. Mumkin ialah
sesuatu yang boleh ada dan tiada.
• Ja’iz artinya boleh-boleh saja,
dengan makna Allah Swt menciptakan segala sesuatu, yakni dengan tidak ada
paksaan dari sesuatupun juga, sebab Allah Swt bersifat Qudrat (kuasa) dan Iradath
(kehendak), juga boleh-boleh saja bagi Allah Swt meniadakan akan segala sesuatu apapun
yang ia mau.
D. Perilaku kehidupan sahabat
• Para sahabat Nabi memiliki kebaikan hati, kesungguhan iman,
kedalaman ilmu, kelurusan perilaku, dan keberanian. Karenanya, Allah memilih
mereka untuk menemani Nabi-Nya dan sekaligus menegakkan agama-Nya.
• Contoh nya seperti sahabat Nabi yang bernama Sa’d bin Abi Waqqas
yang selalu menemani Nabi dan menjadi orang nomor tiga dalam deretan orang yang
masuk islam setelah mendapat kabar dari Abu Bakar tentang diutusnya Nabi
Muhammad SAW sebagai Rasul Allah.
•
Sa’d juga seorang pemuda yang sangat patuh dan menyayangi ibunya serta memiliki
keberanian, kekuatan dan ketulusan iman dalam membela Islam.
KELOMPOK 2
IMAN KEPADA KITAB-KITAB ALLAH SWT
A.
Pengertian Iman Kepada Kitab-Kitab Allah SWT
Beriman kepada kitab Allah artinya membenarkan dengan sungguh-sungguh
apa yang telah difirmankan oleh Allah Swt, dan diwahyukan kepada manusia yang
dipilihnya secara khusus, yakni para nabi dan rasul, untuk disampaikan kepada
manusia pada umumnya sebagai pedoman dalam kehidupannya.
Kata al-Kitab juga diperuntukan untuk menamakan kitab-kitab suci
yang diturunkan sebelum al-Quran. Allah Swt, berfirman yangaArtinya:
“Berkatalah orang-orang kafir: “Kamu bukan seorang yang dijadikan Rasul”.
Katakanlah; ‘Cukuplah Allah menjadi saksi antaraku dan kamu, dan antara orang-orang
yang mempunyai ilmu al-Kitab” (QS. ar-Ra’d (13): 43). Secara umum kata al-kitab juga
dipakai dalam al-Quran untuk menamakan semua kitab suci, termasuk al-Qur’an.
Jumlah kitab yang diturunkan menurut pendapat yang masyhur ada 104
buah. 60 buah untuk Nabi Syis, 30 buah untuk Nabi Ibrahim, 10 buah untuk Nabi
Musa, diturunkan sebelum Taurat. Masih ditambah lagi Taurat untuk Nabi Musa,
Zabur untuk Nabi Dawud, Injil untuk Nabi Isa, dan al-Quran untuk Nabi Muhammad.
Dari jumlah 104 buah tersebutada yang membaginya menjadi dua
kelompok, yaitu shuhuf dan kitab. Dinamakan shuhuf
karena kitab tersebut
berupa lembaran-lembaran, dan
dinamakan kitab karena
menjadi satu kesatuan
dalam kodifikasi sebuah buku. Empat di antaranya, yaitu Taurat, Zabur,
Injil, dan al-Quran disebut dengan kitab, sedang seratus lainnya disebut dengan
shuhuf. Kitab Taurat diturunkan kepada
Nabi Musa As.
B. Kitab-Kitab Allah Yang Wajib Kita
Imani
1. Kitab Taurat Kitab-Kitab Allah
Yang Wajib Kita Imani Diturunkan kepada Nabi
Musa As sebagai pedoman dan petunjuk bagi Bani Israil, Kitab Taurat diturunkan
kepada Nabi Musa As. di bukit Tursina (Mesir) sekitar abad 12 Sebelum Masehi
dalam bahasa tulisan orang Yahudi dan orang yang berpegang teguh kepadanya
disebut kaum Yahudi.
2. Kitab Zabur
Kitab Zabur diturunkan kepada Nabi Dawud As.
di Yerussalem (Israel) sekitar abad 10 Sebelum Masehi dalam bahasa tulisan Nabi
Dawud sendiri yaitu bahasa Qibty. Pokok
ajaran kitab Zabur berisi tentang dzikir, nasehat dan hikmah tidak memuat
hukum-hukum syari’at. Menurut orang-orang Yahudi dan Nasrani kitab Zabur
sekarang terdapat dalam kitab perjanjian lama (mazmur) dan terdiri atas 150
pasal. Kitab Zabur merupakan petunjuk bagi umar Nabi Dawud As. agar bertauhid
kepada Allah SWT.
3. Kitab Injil
Kitab Injil diturunkan kepada Nabi Isa As. di Yerussalem (Israel)
sekitar abad I Masehi dalam bahasa dan tulisan Ibrani dan orang yang berpegang
teguh kepadanya disebut kaum Nasrani Pokok ajaran kitab Injil sama dengan
kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya tetapi sebagian menghapus hukum-hukum
yang terdapat dalam kitab Taurat yang tidak sesuai dengan zaman itu. Sehingga
kitab Injil yang asli tidak diketahui lagi keberadaanya.
4. Kitab Al-Qur’an
Kitab Suci Al Qur’an diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw. di Makkah
dan Madinah (Arab Saudi) pada abad VI Masehi dalam bahasa dan tulisan bangsa
Arab suku Quraisy. Pokok ajaran kitab Suci Al Qur’an berisi tentang aqidah
(Tauhid), hukum-hukum syari’at dan muamalat, sebagian isinya menghapus
hukum-hukum syari’at yang terdapat dalam kitab-kitab terdahulu dan
melengkapinya dengan hukum-hukum syari’at yang sesuai dengan perkembangan zaman.
C. Fungsi Beriman Kepada Kitab-Kitab
Allah SWT
1. Mempertebal
keimanan kepada Allah SWT.
Karena dengan meyakini kitab-kitab Allah, maka
keyakinan akan kebenaran Al-Qur'an dan ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad
saw.
2. Memperkuat
keyakinan seseorang terhadap tugas Nabi Muhammad saw
Karena banyak hal-hal kehidupan manusia yang
tidak dapat dijawab oleh ilmu pengetahuan dan akal manusia, maka kitab-kitab
Allah manusia menjawab permasalahan-permasalahan yang berkaitan dengan
kehidupan manusia, baik yang tampak maupun yang gaib. Mempertebal keimanan kepada Allah SWT. Memperkuat keyakinan
seseorang terhadap tugas Nabi Muhammad saw.
3. Menambah
ilmu pengetahuan
Karena dalam kitab-kitab Allah, disamping berisi tentang perintah
dan larangan Allah, juga menjelaskan tentang pokok-pokok ilmu pengetahuan untuk
mendorong manusia mengembangkan dan mengembangkan wawasan sesuai dengan
perkembangan zaman.
4. Menanamkan sikap toleransi terhadap pengikut agama lain.
Karena dengan beriman kepada
kitab-kitab Allah, maka umat Islam akan selalu menghormati dan menghargai orang
lain.hal ini sesuai apa yang berlaku dalam Al-Qur'an dan Hadis.
5. Mengetahui perhatian Allah terhadap para hambanya dengan
menurunkan kitab kepada setiap kaum sebagai petunjuk bagi mereka.
6. Mengetahui hikmah Allah
Ta'ala mengenai
syariat-syariat-Nya, di mana Allah telah menurunkan syariat untuk setiap kaum
yang sesuai dengan kondisi mereka, yang Allah firmankan.
KELOMPOK 3
MUKJIZAT NABI DAN RASUL
A. Pengertian Mukjizat
Menurut Bahasa kata Mu’jizat berasal dari kata
I’jaz diambil dari kata a’jaza-I’jaza yang berarti melemahkan atau menjadikan
tidak mampu. Pelakunya (yang melemahkan) dinamai
mu’jiz. Bila kemampuannya melemahkan pihak lain amat menonjol sehingga mampu
membungkam lawan, ia di namai mu’jizat. Menurut istilah Mukjizat adalah
peristiwa luar biasa yang terjadi melalui seseorang yang mengaku Nabi, sebagai
bukti kenabiannya. Dengan redaksi yang berbeda, mukjizat didefinisikan pula
sebagai sesuatu yang luar biasa yang diperlihatkan Allah SWT. Melalui para Nabi
dan Rasul-Nya, sebagai bukti atas kebenaran pengakuan kenabian dan kerasulannya.
B.
Macam-macam Mukjizat
Mu’jizat dibagi menjadi 2 yaitu: Mu’jizat
bersifat material indrawi yang tidak kekal dan mujizat immaterial, logis, dan
dapat dibuktikan sepanjang masa. Mujizat Nabi-nabi terdahulu merupakan jenis
mukjizat pertama. Mukjizat mereka bersifat material dan indrawi dalam arti
keluar biasaan tersebut dapat disaksikan dan dijangkau langsung lewat indra
oleh masyarakat tempat mereka menyampaikan risalahnya. Perahu Nabi Nuh yang
dibuat atas petunjuk Allah sehingga mampu bertahan dalalam situasi ombak dan
gelombang yang demikian dahsyat. Tidak terbakarnya Nabi Ibrahim a.s dalam
korban api yang sangat besar; berubah wujudnya tongkat Nabi Musa as. menjadi
ular; penyembuhan yang dilakukan oleh Nabi Isa a.s. Atas izin Allah, dan
lain-lain, kesemuannya bersifat material indrawi, sekaligus terbatas pada
lokasi tempat mereka berad a, dan berakhir dengan wafatnya mereka. Ini berbeda
dengan mukjizat Nabi Muhammad Saw, yang sifatnya bukan indrawi atau material.
Tetapi dapat dipahami akal. Karena sifatnya yang demikian, ia tidak dibatasi
oleh suatu tempat atau masa tertentu.
C. Contoh Mukjizat Nabi Dan Rasul.
1. Mukjizat Nabi Ibrahim as:
• Nabi
Ibrahim termasuk rasul ulul azmi dan Rasul yang diberikan shuhuf oleh Allah
Swt. • Ia
lahir di tengah-tengah kaumnya yang menyembah berhala, bahkan ayahnya – azar –
adalah seorang pembuat berhala. Untuk membekali kerasulannya, maka Nabi Ibrahim
diberikan mukjizat oleh Allah Swt, antara lain: Selamat dari api yang
menyala-nyala. Firman Allah Swt Surat Ibrahim ayat 69 Artinya: Kami berfirman:
"Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim".
• Doa
Nabi Ibrahim mustajabah. yaitu: Ibrahim memohon kepada Allah Swt agar sebagian
besar keturunan Ibrahim adalah orang – orang yang sholih, Negeri mekkah dan
sekitarnya menjadi kota yang barokah dan tercukupi dari makanan dan
buah-buahan.
• Mimpi
yang benar untuk menyembelih putranya Ismail.
2. Mukjizat Nabi Musa As:
Nabi
Musa adalah salah satu Nabi yang termasuk ulul azmi dan diberikan shuhuf dan
Taurat. Ia lahir di tengah penderitaan kaumnya Bani Israil dalam perbudakan
raja Firaun yang mengangkat dirinya menjadi tuhan negeri Mesir. Musa diangkat
menjadi Rasul setelah menerima wahyu di lembah Sinai selama 40 malam dengan
bukti kitab Taurat dan shuhuf Nabi Musa. Ia memimpin perjalanan pelarian kaum
bani Israil dari mesir ke negeri asalanya Palestina setelah melewati rangkaian
peristiwa- peristiwa besar. Peristiwa- peristiwa tersebut menjadi mukjizat Nabi
Musa. Antara lain:
a. Musa selamat
dari pembunuhan Firaun setelah tongkatnya dengan ijin Allah Swt menjadi ular
besar yang memakan seluruh ular sihir Fira’un. Firman Allah Swt Surat Az-Zuhruf
ayat 46 yang Artinya: Dan sesunguhnya Kami telah
mengutus Musa dengan membawa mukjizat-mukjizat Kami kepada Fir'aun dan
pemuka-pemuka kaumnya. Maka Musa berkata: "Sesungguhnya aku adalah utusan
dari Tuhan seru sekalian alam“.
b. Melewati
Laut merah dengan cara memukul tongkatnya, sehingga terbentang jalan di tengah-
tengah laut tersebut.
c. Nabi
Musa dan bangsa Israil dalam perjalanan pelarian ke Palestina selalu dinaungi
awan yang teduh dan diberi rizki berupa burung Salwa dan buah Manna.
3. Mukjizat
Nabi Muhammad SAW
Muhammad SAW adalah nabi terakhir. Kabar
kelahiran Muhammad telah diberitakan dalam kitab – kitab suci sebelumnya, yaitu
di Taurat, Zabur , dan Injil. Nabi Muhammad adalah seorang Rasul yang mempunyai
kedudukan multikomplek. Nabi Muhammad SAW sebagai Rasul, pemimpin agama,
pemimpin negara/masyarakat, pemimpin keluarga dan pribadi teladan. Mukjizat
Nabi Muhammad SAW :
a. Mukjizat al-
Qur’an, sebagaimana Firman Allah Swt Surat An-Nisa ayat 174: yang artinya
: Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu bukti kebenaran dari Tuhanmu.
(Muhammad dengan mukjizatnya) dan telah Kami turunkan kepadamu cahaya yang
terang benderang (Al Quran).
b. Isra’ dari
Masjidil Haram di kota Mekkah ke Baitul Maqdis di Palestina dan Mi’raj dari Baitul
Maqdis kie Sidratul Muntaha dalam waktu kurang dari satu malam. Sahabat yang
membenarkannya adalah Abu Bakar ash Shidiq.
c. Mengetahui hal
– hal yang akan terjadi dengan seijin Allah Swt misalnya : kehancuran negara
Persia dan Romawi, penyebab kematian Hasan cucunya karena terbunuh, dan lain
sebagainya
d. Dari jarinya
keluar air bersih yang dapat mencukupi kebutuhan minum orang banyak. e. Dapat
membelah bulan.
D. Tujuan Dan Fungsi Mukjizat
Mukjizat berfungsi sebagai bukti kebenaran para Nabi. Keluarbiasaan
yang tampak atau terjadi melalui mereka itu diibaratkan sebagai ucapan Tuhan :
“Apa yang dinyatakan sang Nabi adalah benar. Dia adalah utusan- Ku, dan
buktinya adalah Aku melakukan mukjizat itu”. Mukjizat, walaupun dari segi
bahasa berarti melemahkan atau membuktikan ketidakmampuan yang di tantang,
namun secara istilah ia dimaksudkan untuk menegaskan kebenaran ajaran seorang
yang mengaku sebagai Nabi. Karena itu, mukjizat ditampilkan oleh Allah melalui
hamba-hamba pilihan-Nya untuk membuktikan kebenaran dan ajaran ilahi yang di
bawa oleh masing-masing Nabi. Jika demikian hal nya maka ini paling tidak
mengandung dua konsekuensi. Pertama, bagi yang telah percaya kepada Nabi, maka
ia tidak lagi membutuhkan mukjizat. Ia tidak lagi ditantang untuk melakukan hal
yang sama. Mukjizat yang dilihat atau dialaminya hanya berfungsi memperkuat
keimanan, serta menambah keyakinannya akan kekuasaan Allah SWT. Kedua, para
Nabi sejak Adam as hingga Isa as di utus untuk suatu kurung waktu tertentu
serta masyarakat tertentu. Tantangan yang mereka kemukakan sebagai mukjizat
pasti tidak dapat dilakukan
KELOMPOK 4
SIFAT-SIFAT RASUL DAN ULUL AZMI
A. Rasul
Rasul adalah seseorang yang menerima wahyu syari’at dari Allah SWT.
untuk dilakukan sendiri dan juga agar disampaikan kepada ummatnya. Allah SWT.
Telah mengutus banyak Rasul-Nya ke dunia
ini untuk menyampaikan risalah kepada umat manusia. Kita semua mengetahui ada
Nabi Adam AS. sebagai Rasul petama dan Nabi Muhammad SAW. sebagai Rasul
terakhir dan rasul akhir zaman.
B. Sifat-Sifat Rasul
Rasul sebagai utusan Allah SWT., memiliki sifat-sifat yang melekat
pada dirinya. Sifat-sifat ini sebagai bentuk kebenaran seorang rasul. Sifat-sifat
tersebut adalah sifat wajib, sifat mustahil, dan sifat jaiz.
1.
Sifat Wajib
a. Sifat Shidiq, sifat
Shidiq artinya jujur, mustahil bersifat dusta.
b. Sifat Amanah, artinya
terpercaya. Mustahil bersifat khianat (curang). Para rasul Allah itu bisa dipastikan
dapat dipercaya dan tidak pernah berkhianat terhadap Tuhannya dan juga terhadap
sesama manusia. Para rasul Allah itu ma’shum. Yakni terjaga dari segala
perbuatan dosa, kemaksiatan dan kemunkaran, lahir dan batin.
c. Sifat
Tabligh
Tabligh,
artinya menyampaikan hal-hal yang datang dari Allah. Mustahilnya “kitmaan”.
Yakni menyembunyikan segala sesuatu yang datang dari Allah.
d. Sifat Fathanah
Fathaanah,
artinya cerdas atau pandai. Para rasul Allah itu bisa dipastikan seorang yang
cerdas, memiliki daya intelektualitas dan daya nalar yang sempurna.
2. Sifat
Mustahil
a. Al-kizzib. Mustahil rasul itu bohong atau
dusta. Semua perkataan dan perbuatan rasul tidak pernah bohong atau dusta.
b. Al-Khianah, yaitu mustahil
rasul itu khianat. Semua yang
diamanatkan kepadanya pasti dilaksanakan.
c. Al-Kitman, yaitu mustahil rasul menyembunyikan
kebenaran. Setiap firman yang ia terima dari Allah Swt., pasti ia sampaikan
kepada umatnya.
d. Al-Baladah, yaitu mustahil seorang rasul bersifat bodoh.
3. Sifat Jaiz
Allah telah mengutus para rasul
kepada manusia dan telah dihiasi dengan sifat kesempurnaan melebihi makhluk
Allah yang lain, namun mereka tidak akan terlepas dari fitrah kemanusiaan yang
ada dalam dirinya. Seorang rasul tetaplah sebagai seorang manusia biasa yang berperilaku
sebagaimana manusia. Sifat jaiz bagi rasul adalah sifat kemanusiaan, yaiti
al-ardul basyariyah, artinya rasul memiliki sifat-sifat sebagaimana manusia
biasa seperti rasa lapar, haus, sakit, tidur, sedih, senang, berkeluarga, dan
lain sebagainya. Bahkan seorang rasul tetap meninggal sebagaimana makhluk
lainnya.
C. Implementasi Sifat Rasul dalam
kehidupan (Kepemimpinan Pendidikan)
1. Implementasi Sifat Shidiq
a. Para pemimpin ummat termasuk pemimpin pendidikan juga harus
mencontoh rasul Allah dalam bersikap dan bertindak. Rasul Allah itu jujur dalam
segala ucapan dan perbuatannya.
b. Para pemimpin juga, harus seperti rasul Allah, harus jujur dalam
segala ucapan dan perbuatannya. Rasul Allah itu imam bagi pengikutnya.
c. Pemimpin yang jujur akan menjalankan organisasi yang dipimpinnya
dengan baik.
2. Implementasi Sifat Amanah
a. Pemimpin yang amanah berarti pemimpin yang terpercaya. Pemimpin
yang amanah akan berbicara berdasarkan fakta bukan asumsi yang belum jelas
faktanya.
b. Pemimpin amanah memiliki tindakan yang benar yang sesuai dengan
aturan main dan konstitusi yang ada.
c. Pemimpin yang amanah memegang teguh kebenaran dan idealisme yang
diyakininya dan akan menepati janji yang diucapkannya.
3. Implementasi Sifat Tabligh.
a. Kebenaran dari Allah itu akan menjadi inspirasi penyusunan
idealisme masyarakat sebagai penuntun dalam kehidupan termasuk berorganisasi
b. Pemimpin yang amanah dan tabligh akan tetap kukuh dan teguh
berpegang kepada kebenaran mutlak sebagai penuntun kehidupan dan idealisme
perjuangan yang diyakininya.
4. Implementasi Sifat Fathaanah
Dalam kehidupan masyarakat atau
organisasi, kecerdasan pemimpin itu bisa diimplementasikan. Perumusan visi dan
misi, perencanaan program kerja dan strategi pelaksanaannya memerlukan
kecerdasan, salah satunya, dari seorang pemimpin. Seorang
pemimpin yang amanah dan tabligh akan berfikir dan bertindak cerdas dan bekerja
secara ikhlas.
D. Ulul Azmi
Secara etimologis Ulul Azmi berasal
dari kata dua suku kata Ulu dan Azmi. Ulu mempunyai arti yang mempunya (untuk
bentuk jamak) serta Azmi berasal dari kata Azama yang mempunyai arti kemauan
yang teguh dan kuat.
Ulul Azmi adalah Nabi dan Rasul itu ada yang mendapatkan keistimewaan dari
Tuhan, karenanya kedudukan mereka lebih tinggi dan mereka mempunyai kemauan
yang teguh.
Ulul Azmi disebut sebagai gelar
kehormatan yang diberikan kepada 5 Rasul. Ulul Azmi artinya orang-orang besar.
Disebut ulul azmi karena mereka banyak mengalami berbagai cobaan dan
penderitaan ketika menyampaikan ajaran Allah.Oleh karena itu, atas ketabahan
dan kesabaran mereka, Allah menganugerahi mereka gelar Ulul Azmi. Dari 25 rasul
yang wajib kita ketahui, ada 5 rasul yang diberi gelar Ulul Azmi. Berikut yang
termasuk rasul ulul azmi:
a. Nabi Muhammad SAW
b. Nabi Isa AS
c. Nabi Musa AS
d. Nabi Ibrahim AS
e. Nabi Nuh AS
E. Sebab Rasul Diberi Gelar Ulul
Azmi
1. Nabi Nuh As
a. Nabi
Nuh a.s adalah rasul pertama yang diutus Allah untuk meluruskan akidah dan
akhlak umat yang telah menyimpang jauh dari ajaran yang benar.
b. Nabi
Nuh as digelari sebagai ulul ’azmi kerana kesabarannya dalam berdakwah dan
mendapat hinaan dari kaumnya. Nabi Nuh tanpa menyerah terus menerus mendakwahi
keluarga, kerabat dan masyarakat umum, untuk kembali ke jalan yang lurus.
c. Salah satu mukjizat beliau dapat membuat sebuah
kapal besar yang dapat ditumpangi oleh semua orang yang beriman dari kaumnya beserta
hewan hewan yang hidup di zaman itu.
2. Nabi Ibrahim As
a. Nabi
Ibrahim adalah nabi yang mendapat gelar ulul ’azmi kerana kesabarannya yang
tinggi. Dari mulai bayi Nabi Ibrahim sudah diasingkan ke dalam gua disebabkan
kerana perintah Raja Namrudz untuk membunuh setiap bayi laki-laki yang baru
lahir. Setelah dewasa, ia harus berhadapan dengan raja dan masyarakat penyembah
berhala termasuk kedua orang tuanya yang pembuat berhala.
b. Ujian
nabi Ibrahim a.s yang lain adalah membangun Kaa’bah, dan menghadapi Raja
Namrudz yang zalim.
c. Mukjizat
Nabi Ibrahim a.s Salah satunya sewaktu beliau dibakar oleh raja Namrud beliau
tidak merasakan panas api dan di selamatkan oleh Allah dari segala bahaya yang
mengancam.
3. Nabi Musa As
a. Nabi
yang mendapat gelar ulul ’azmi kerana kesabarannya yang tinggi dalam menghadapi
dan berdakwah kepada Firaun.
b. Beliau
juga Nabi yang sabar dalam memimpin kaumnya yang selalu membangkang. Ketika
Musa a.s akan menerima wahyu di Bukit Sinai, pengikutnya yang dipimpin Samiri
menyeleweng dengan menyembah berhala emas anak sapi (lembu).
b. Mukjizat
Nabi Musa As Beliau dapat mengalahkan
ahli-ahli ilmu sihir pengikut fir'aun, tongkat beliau dapat berubah menjadi
ular yang juga dapat membelah lautan,telapak tangan dapat mengeluarkan cahaya
dan lain sebagainya.
4. Nabi Isa As
a. Beliau
adalah nabi yang mendapat julukan ulul ’azmi kerana banyak memiliki kesabaran
dan keteguhan dalam menyampaikan ajaran Allah. Terutama, ketika Nabi Isa as
sabar menerima cobaan sebagai seorang yang miskin, pengkhianatan muridnya,
menghadapi fitnah, hendak diusir dan dibunuh oleh kaum Bani Israil. Kehidupan
nabi Isa as menggambarkan kezuhudan dan ketaatan dalam beribadah.
b. Mukjizat
Nabi Isa a.s yaitu Beliau dapat
berbicara semasa masih bayi, dapat menyembuhkan penyakit orang buta, dapat
menghidupkan orang yang sudah mati atas izin Allah Swt walaupun hanya sebentar
kemudian mati lagi dan lain sebagainya.
5. Nabi Muhammad Saw
a. Rasulullah
s.a.w namanya disebutkan 5 kali di dalam Al-Quran. Beliau mendapat julukan ulul
’azmi kerana sejak kecil sampai dewasa, Rasulallah saw selalu mengalami
masa-masa sulit. Pada usia 6 tahun dia sudah menjadi yatim piatu. Setelah
dewasa ia harus membantu meringankan paman yang merawatnya sejak kecil.
b. Tantangan
terberat yang dihadapi adalah setelah diangkatnya menjadi seorang rasul.
Penentangan bukan saja dari orang lain, tetapi juga dari Abu Lahab, bapak
saudaranya (pamannya) sendiri.
c. Rasulullah
saw juga harus ikut menderita tatkala Bani Hasyim diboikot (diasingkan) di
sebuah lembah dikarenakan dakwahnya. Dan masih banyak lagi kesabaran dan masa
masa sulit yang dihadapi baginda dari mulai lahir sampai beliau wafat.
d. Mukjizat
yang diberikan kepada Nabi Muhammad SAW adalah peristiwa Isra Miraj. Selain itu
Nabi Muhammad juga diberikan keistimewaan berupa kitab suci Al Quran.Al Quran
dijadikan pedoman hidup manusia di dunia.
F. Sifat-Sifat Ulul Azmi
1. Mempunyai kesabaran yang kuat saat menyampaikan kebenaran.
2. Selalu mohon kepada Allah supaya kaumnya diberi petunjuk dan
azab tidak diturunkan supaya ada kesempatan bertaubat lebih dahulu
3. Selalu berdoa agar Allah memberi hidayah kepada umatnya.
4. Memiliki semangat yang kuat dan kokoh yang tinggi semasa
menyampaikan kebenaran Sebab diberi gelar Mendapat pengiktirafan Allah
SWT.
5. Memiliki kesabaran yang tinggi semasa berdakwah.
KELOMPOK 5
IMAN KEPADA HARI AKHIR DAN ALAM GHAIB
A.
Pengertian Iman
Dan Dalil Tentang Iman Kepada Hari Akhir
1.
Pengertian iman
kepada hari akhir
Hari akhir atau biasa juga disebut dengan hari akhirat adalah hari
hancurnya semua alam semesta ini beserta seluruh kehidupan yang ada di
dalamnya. Hari akhir juga bisa dipahami sebagai hari berakhirnya kehidupan di
dunia fana ini dan memasuki awal kehidupan baru yang abadi di akhirat. Dengan
demikian, mengimani hari akhir berarti membenarkan dengan sepenuh hati bahwa
setelah kehidupan di dunia ini akan ada kehidupan lagi yang merupakan kehidupan
yang sebenarnya dan bersifat abadi. Pada kehidupan abadi itulah manusia akan
mendapatkan kepastian hidupnya, apakah hidupnya akan berhasil dan berbahagia
atau sebaliknya hidupnya akan celaka dan sengsara.
2. Dalil tentang iman kepada hari akhir
Dalam Al-Qur’an banyak diterangkan tentang
iman kepada hari akhir, antara lain: dalam Surah Al-Baqarah ayat 4, surah
Al-Baqarah ayat 177, Surah An-Nisa ayat 136, surah Al-Baqarah ayat 62, Surah
Al-Hajj ayat 7, Surah Al-Ankabut ayat 64.
1. Tanda-Tanda Hari Akhir
Berikut adalah
tanda-tanda hari akhir yaitu :
a. Tanda Sughra
(Tanda-tanda kiamat sughra)
Maksudnya
tanda-tanda hari akhir yang dapat kita saksikan di dunia ini, antara lain:
1) Rusak/ hancurnya sesuatu di dunia ini/
Kematian Kemaksiatan
2) Banyak orang tidak tahu malu sehingga berbuat
maksiat tidak merasa dosa/ salah/ malu
3) Banyak masjid megah tapi hanya sedikit jamaah
4) Semakin banyak generasi muda dalm pergaulan
bebas
5) Banynak yang durhaka kepada orang tuanya
6) Semakin banyak laki-laki berpenampilan seperti
perempuan atau perempuan berpenampilan seperti laki-laki
7) Ilmu agama sudah diabaikan
8) Korupsi meraja lela dan hidup bermegah-megan
9) Semakin sedikit perlaku orang yang Qur’ani
10) Banyak berdatangnan di majlis ta’lim tetapi yang
didapat hanya kumpul-kumpul saja
11) Banyak orang yang enggan mengaji dan mengkaji
ilmu agama
12) Banyak orang yang hanya memikirkan kepentinga
duniawi saja
13) Menghambur-hamburkan harta dan enggan
bershadaqah
14) Menggunakan media sosial tidak pada tempatnya
(menggunakan untuk hal-hal yang tidak ada manfaatnya bahkan untuk maksiat).
b. Tanda Kubra
(Tanda-tanda kiamat kubra)
Maksudnya
tanda-tanda yang sudah ditetapkan oleh Allah Swt. dan akan terjadi pada saat
mendekati hari akhir, antara lain:
1) Turunnya Dajjal
2) Turunnya binatang melata yang aneh
3) Matahari terbit dari sebelah barat (tempat
terbenamnya, berlawanan dengan tempat terbitnya)
4) Keluarnya gas beracun dari semua sudut bumi
2. Nama-Nama Hari Akhir
Di dalam akhir Al-Qur’an banyak
disebutkan nama selain hari akhir yang dipergunakan untuk menyebutkan peristiwa
yang berkaitan dengan hari akhir. Di antara nama-nama itu adalah:
1.
Yaumul Akhir, artinya hari akhir.
2.
Yaumul Qiyamah, artinya hari kiamat.
3. Yaumul Yaumul Hasrah, artinya
hari penyesalan.
4.
Yaumul Ba’as, artinya hari berbangkit.
5. Yaumul Hisab, artinya hari
perhitungan.
6.
Yaumud Din, artinya hari pembalasan.
7. Yaumul Haq, artinya hari yang pasti terjadi.
8.
Yaumul Jam’i,
artinya hari berkumpul.
9.
Yaumul Khulud, artinya hari kekekalan.
10. Yaumul fasli, artinya hari
keputusan.
11.
Yaumul Wa’id, artinya hari terlaksananya
ancaman.
12. Yaumul Khuruj, artinya
hari keluar dari kubur.
13.
Yaumut Tagabun, artinya hari ditampakkan
kesalahan-kesalahan.
14.
Yaumut Tanad, artinya hari panggil-memanggil
15.
Yaumul Mau’ud, artinya hari yang dijanjikan
16.
Yaumul Fathi, artinya hari kemenangan
17.
Yaumul Kabir, artinya hari yang besar
18.
Yaumul ‘Asir,
artinya hari yang sulit.
C.
Hikmah Iman Kepada Hari Akhir
Dengan beriman
kepada hari akhir, banyak hikmah yang dapat kita petik, antara lain :
1.
Hidup di dunia
yang fana dan singkat ini ada artinya, bukan Cuma sekedar hidup lalu mati,
setelah itu habis perkara. Hidup didunia ini ibarat berkebun. Apapun jenis buah
yangkita tanam, kita akan memetik hasilnya. Jika kita berbuat kebaikan di
dunia, maka kita akan memetik hasilnya diakhirat berupa kehidupan yang bahagia.
Sebaliknya jika sering berbuat kejahatan dan kemaksiatan di dunia, maka hasil
yang kita petik diakhirat berupa kesengsaraan dan penderitaan yang amat berat,
karena kehidpan diakhirat ditentukan dari amal perbuatan di dunia, maka selagi
kita hidup didunia hendaknya kita isi dengan beribadah kepada Allah dan banyak
berbuat kebaikan.
2.
Dengan beriman
kepada hari akhir, hidup kita menjadi lebih optimis. Kita lebih giat belajar
dan bekerja agar memperoleh kebahagiaan di dunia. Jika kita bahagia, maka hidup
kita akan tenang. Jika hidup kita tenang, maka kesempatan kita untuk beribadah
dan melakukan kebajikan akan lebih besar. Dengan demikian insyaa Allah kita
dapat meraih kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Seandainya kita belum
beruntung hidup di dunia, kita masih punya harapan untuk memperoleh
keberuntungan di akhirat, asalkan kita bertakwa kepada Allah SWT, Allah Maha
Pengasih dan Maha Penyayang. Dia akan memberi kepada siapa saja yang meminta,
walaupun seseorang itu tidak taat kepada perintah-Nya. Akan tetapi, Allah hanya
menyayangi orang-orang yang beriman di akhirat kelak.
3.
Iman kepada
hari akhir menumbuhkan sifat ikhlas beramal. Karena pengadilan Allah adalah
pengadilan yang mahaadil, maka akan tumbuh dalam diri kita niat untuk ikhlas
beramal. Di akhirat setiap orang diminta pertanggungjawaban masing-masing.
Orang yang ikhlas ketika beribadah, ia tidak mengharapkan imbalan dari orang
lain, kecuali rida Allah. Orang yang ikhlas selalu giat bekerja diawasi orang
lain atau tidak, ia tetap rajin.
4.
Menjauhkan diri
dari perbuatan maksiat. Dengan meyakini akan adanya neraka, tempat orang-orang
yang penuh dosa dan perbuatan maksiatnya melebihi amal baiknya, maka kita
berusaha untuk menghindari tempat terkutuk itu. Orang yang tidak beriman kepada
hari hari akhir, dia tidak mengetahui bahwa setelah mati akan ada kehidupan
yang jauh lebih panjang dari pada kehidupan di dunia, ia juga tidak yakin akan
adanya neraka tempat penyiksaan orang-orang yang berdosa. Oleh sebab itu,
dengan seenaknya mereka mengerjakan kemaksiatan.
D.
Perilaku Yang Mencerminkan Beriman Kepada Hari Akhir
1.
Orang yang
mempercayai adanya hari akhir akan menampakkan perilaku yang dapat
dipertangngjawabkan. Perilaku orang beriman kepada hari akhir antara lain: Menjaga
pikiran, sikap, dan perilaku dari akhlak tercela seperti; su’uzan, hasad,
dendam namimah, tamak , dan sebagainya, Sebaliknya memupuk perilaku dari akhlak
terpuhi seperti: husnuzan, bertanggungjawab, amanah, dan sebagainya.
2.
Meningkatkan
keimanan dan ketakwaan kepada Allah Swt. Memantapkan keimanan terhadap Rukun
Iman, beribadah dan beramal shalih berdasarkan Rukun Islam kecuali haji bagi
yang mampu saja.
3.
Memperbanyak
zikir dan bershalawat. Berzikir untuk mengingat Allah Swt. dan mohon ampun atas
kesalahan-kesalahan. Bershalawat untuk menyanjung dan mendoakan Rasulullah
Muhammad Saw. sebagai rasa kecintaan kepada Nabi Saw. dan agar kelak kita
mendapat syafaat di hari kiamat.
4.
Selalu membaca
Al-Qur’an. Sebagai orang yang beriman kepada hari akhir semestinya selalu
membaca dan mengkaji ayat-ayat al-Qur’an selain untuk menambah pahala juga
sebagai pengingat kelak dunia dan seisinya akan berakhir dan al-Qur’an sebagai
pedoman hidup manusia juga bercerita tentang hari akhir.
5.
Bergaul dengan
orang-orang shalih. Dengan siapa kita berteman dapat menandakan akhlak kita
seperti apa. Jika kita berteman dengan orang shalih berarti kita termasuk orang
yang shalih. Begitu sebaliknya. Berarti teman dapat mebawa kita ke arah baik
atau buruk. Maka hati-hati dalam memilih teman.
6.
Mengembangkan
potensi diri. Setiap orang memiliki potensi yang berbeda. Selama potensi itu
baik, maka perlu dikembangkan agar lebih bermanfaat bagi diri sendiri dan
mungki bagi orang lain. Pandai memanfaatkan waktu luang untuk kegiatan yag
positif dan gemar berlatih adalah cara mengembangkan potensi diri.
7.
Memupuk tali
persaudaraan dan silaturrahmi. Zaman sudah akhir dan suatu saat akan terjadi
hari akhir. Memupuk tali persaudaraan sangat dibutuhkan. Bersaudara menandakan
ada satu rasa, satunya senang yang lain ikut senang, yang satu sedih yang
lainnya ikut sedih. Bersaudara jauh dengan sifat pemusuhan. Memupuk tali
silaturahmi adalah cara terbaik untuk memperkuat persaudaraan. Silaturrahmi
akan melancarkan rezeki dan memnjangkan umur.
Kata ‘alam
artinya seluruh makhluk atau segala sesuatu selain Allah. Dalam bahasa
Arab, setiap makhluk disebut ‘alam. Ada yang disebut ‘alam al-nabat
(dunia tumbuhan), ‘alam al-hayawan (dunia hewan, ‘alam al-aflak
(angkasa raya), dan ‘alam al-bihar (dunia laut).
Kata “gaib”
berasal dari ghaba-yaghibu-ghaybabatan-ghibatan. Kata ini merupakan
antonim dari kata syahida dan hadhara (nyata dan hadir). Karena
itu, Allah memiliki sifat Alim al-Ghayb atauu ‘alam al-Ghuyub (Maha Mengetahui
hal gaib). Segala yang gaib bagi manusia tidak gaib bagi Allah. Bahkan tak ada
apapun yangluput dari pengetahuann Allah.
F.
Macam-Macam Alam Ghaib Yang Berhubungan Dengan Hari Akhir
Alam-alam gaib
yang berhubungan dengan hari akhir adalah alam-alam gaib yang harus dilewati manusia
setelah kiamat datang yang dimulai dari alam barzakh sampai hari pembalasan
(surga atau neraka).
1. Alam
Barzakh
Yaitu alam
kubur tempat manusia meninggal dunia. Di dalam alam kubur jika manusia yang
telah meninggal dunia diperlihatkan dengan kedamaian, kesejukan, keindahan, dan
segala kebahagiaan-kebahagian lainnya, maka pertanda manusia itu di hari akhir
kelak akan masuk surga. Tetapi sebalikna jika manusia yang telah meninggal
dunia di alam kubur ditampakkan oleh berbagai macam penderitaan dan siksaan,
maka menandakan di akhirat manusia itu akan masuk neraka.
2. Yaumul Ba’ats
Yaitu hari
bangkit manusia dari alam kubur. Pada hari itu semua manusia yang telah
meninggal dunia jasadnya diutuhkan lagi seperti sedia kala meskipun sudah
meninggal dunia berabad-abad lamanya. Lalu manusia digiring ke suatu tempat
yang disebut Padang Mahsyar.
3. Yaumul Hasyr
Yaitu hari
digiringnya manusia ke Padang Mahsyar setelah dibangkitkan dari kubur. Di
Padang Mahsyar manusia dikumpulkan untuk dimintai pertanggungjawaban amal
perbuatannya selama hidup di dunia. Malaikat pencatat perbuatan manusia akan
menunjukkan kepada masing-masing orang atas izin Allah Swt. Tidak ada catatan
yang salah apalagi catatan bohong karena selalu diawasi oleh Allah Swt.
4. Yaumul Hisab
Yaitu hari
dikumpulkannya manusia di Padang Mahsyar untuk dihitung amal perbuatannya
selama hidup di dunia. Semua anggota tubuh akan bicara sendiri tanpa disuruh
dan tanpa ditanyai. Malaikat sebagai pengawas ketika semua anggota tubuh bicara
untuk mempertanggugjawabkan perbuatan manusia yang memilikinya.
5. Yaumul Mizan
Yaitu hari
dikumpulkannya manusia di Padang Mahsyar untuk ditimbang amal perbuatannya
selama hidup di dunia. Sebagaimana saat dihitung amal perbuatan manusia, semua
anggota tubuh juga berbicara sendiri-sendiri melaporkan atas apa perbuatan yang
telah dilakukan oleh si empunya selama hidup didunia.
6. Sirath
Yaitu jalan
menuju surga. Sirath sering disebut sebagai jembatan siratha mustaqim. Bagi
manusia yang beramal baik berjalan lewat sirath akan sampai ke surga. Bagi yang
beramal buruk jalannya tidak sampai ke surga tetapi jatuh ke jurang neraka.
7. Yaumul Jaza (Hari pembalasan)
a. Surga
Surga adalah
sebutan sebuah tempat yang penuh kenikmatan dan kebahagiaan di hari akhir.
Surga disediakan bagi orang-orang yang takwa kepada Allah SWT.
b. Neraka
Neraka adalah sebutan sebuah tempat yang penuh penderitaan dan siksaan di hari akhir. Neraka diperuntukkan bagi orang-orang yang durhaka dan mengingkari hukum-hukum Allah.
KELOMPOK 6
AKHLAK TERPUJI DAN AKHLAK
TERCELA TERHADAP DIRI SENDIRI, LINGKUNGAN DAN SESAMA
A. Pengertian Akhlak
Akhlak berasal dari bahasa Arab jamak dari bentuk mufradatnya “khuluqun”
atau “al-khaliq” yang berarti budi pekerti, perangai, tingkah laku dan
tabiat. Kata akhlaq ini berakar kata khalaqa yang berarti menciptakan,
seakar dengan kata Khâliq (Pencipta), makhlûq (yang diciptakan),
dan khalq (penciptaan). Sedangkan pengertian secara istilah, akhlak adalah suatu keadaan yang melekat pada jiwa manusia, yang melahirkan
perbuatan-perbuatan yang mudah, tanpa melalui proses pemikiran, pertimbangan
atau penelitian.
Akhlak atau perilaku dibagi menjadi dua, yang pertama akhlak terpuji dan
akhlak tercela atau disebut dengan akhlak Mahmudah dan akhlak Mazmumah.
Akhlak Mahmudah atau akhlak terpuji merupakan akhlak yang sesuai dengan
tuntunan Alqur’an dan Hadits. Akhlak terpuji adalah akhlak yang meningkatkan derajat seseorang di sisi Allah swt dan juga dalam pandangan manusia. Memiliki akhlak yang baik atau akhlak
mulia bagi setiap manusia adalah suatu hal yang sangat penting. Karena
dimanapun kita berada, apapun pekerjaan kita, akan di senangi oleh siapa pun.
Artinya, akhlak menentukan baik buruknya seseorang di hadapan sesama.
Selanjutnya Akhlak Mazmumah atau akhlak tercela merupakan kebalikan
dari akhlak terpuji. Oleh karena itu kita harus mempelajari atau memahami akhlak Mazmumah supaya kita dapat menghindarinya.
B.
Akhlak Terpuji Terhadap Diri
Sendiri
1)
Ikhtiar: Ikhtiar
berasal dari bahasa Arab (اِØ®ْتِÙŠَارٌ)
yang berarti mencari hasil yang lebih baik. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia
(KBBI), kata ikhtiar mengandung beberapa arti, yaitu alat atau syarat untuk
mencapai maksud, pilihan bebas, usaha dan daya upaya. Dari dua pengertian
tersebut, dapat ditarik pengertian ikhtiar, yaitu proses usaha yang dilakukan
dengan mengeluarkan segala daya upaya dan kemampuan untuk mencapai hasil
terbaik sesuai dengan keinginan.
2)
Tawakal: Kata tawakal
berasal dari bahasa Arab yang artinya mempercayakan, menyerahkan dan
mewakilkan. Secara istilah, tawakal adalah sikap berserah diri dan percaya
dengan sepenuh hati kepada Allah swt. Atas segala keputusan-Nya terhadap hasil
usaha yang telahkita lakukan dengan sungguh-sungguh.
3)
Sabar: Sabar
adalah kemampuan menahan diri dalam menanggung suatu penderitaan. Sabar juga
dapat diartikan sebagai sikap tabah hati dalam mendapatkan sesuatu yang tidak disenangi
atau kehilangan sesuatu yang disenangi. Sabar berbeda dengan pasrah.
Perbedaannya terdapat pada melakukan usaha. Pasrah adalah sikap menyerah tanpa
usaha sedikitpun. Sedangkan macam-macam sabar yaitu: a) Sabar dalam menjalankan perintah
Allah swt. b) Sabar dalam menghindari perbuatan dosa/maksiat. c) Sabar dalam
menghadapi musibah atau cobaan.
4)
Syukur: Syukur
artinya berterimakasih atas segala anugerah/karunia Allah swt yang dilimpahkan
kepada kita.
5)
Qana’ah: Qana’ah
adalah puas dengan apa yang diterimanya. Menurut pendapat ulama sufi bahwa
qanaah adalah sikap tenang tidak ada sesuatu yang dibiasakan.
C. Akhlak
Tercela Terhadap Diri Sendiri
1)
Ananiah: Ananiah berasal dari Bahasa Arab انا yang berarti aku
atau keakuan. Secara istilah ananiah berarti sikap keakuan, sikap mementingkan
diri sendiri, kurang memperhatikan orang lain. Ananiah termasuk penyakit hati,
apabila dibiarkan akan berkembang menjadi sombong, kikir, takabur, dan diiringi
sikap dengki.
2)
Putus asa: Putus asa berarti
habis/hilang harapan. Seseorang dikatakan putus asa apabila tidak lagi
mempunyai tentang sesuatu yang semula hendak dicapai. Putus asa juga juga
merupakan sikap atau perilaku yang merasa dirinya telah gagal dan tidak mau
berusaha dalam mencapai keinginannya. Islam mendidik umatnya agar tidak putus
asa. Larangan tersebut terdapat dalam firman Allah swt dalam (QS Yusuf 12: 87).
3)
Ghadab: Ghadab berasal dari bahasa Arab
yang berarti merasa sangat tidak senang dan panas yang akan mengakibatkan
kemarahan dan kekecewaan. Sedangkan menurut istilah ghadab adalah melakukan
perbuatan atau mengeluarkan kata-kata tidak senang secara emosional.
4)
Tamak: Kata
tamak berasal dari Bahasa Arab طمع yang berarti tamak dan
rakus. Secara istilah, tamak berarti terlampau besar nafsunya terhadap
keduniaan. Sifat tamak ini sifat tercela yang patut kita hindari disetiap
orang. Orang yang tamak tidak akan puas terhadap pemberian Allah swt.
Adapun akhlak terpuji dan akhlak tercela terhadap lingkungan dan
terhadap sesama itu hampir sama, yakni dengan saling menghormati terhadap
sesama, saling toleransi, dan tidak berbuat kerusakan.
KELOMPOK 7
AKIDAH ISLAM
A. Pengertian dan Sumber Ajaran Akidah Islam
1. Pengertian akidah Islam
Secara bahasa pada umunya akidah adalah
kepercayaan atau keyakinan. Adapun secara bahasa berasal dari kata (‘aqada-ya’qidu–4
aqidatain) yang berarti ikatan atau perjanjian. Akidah Islam adalah pokok-pokok
kepercayaan yang harus diyakini kebenarannya oleh setiap orang yang mengaku
dirinya bergama Islam (Muslim). Seseorang berakidah Islam pondasi awal yang
harus dibangun dan dikokohkan adalah keyakinannya terhadap Allah sebagain Tuhan
yang wajib disembah, Maha Esa, Pencipta dan Pengatur alam semesta, dan Zat yang
ghaib,termasuk juga kewajiban menjalankan aturan-aturannya dalam segala aspek
kehidupan baik itu ibadah atau muamalah.
Aqidah Islam adalah suatu ajaran yang hanya
dapat ditetapkan berdasarkan dalil dari Allah dan Rasul-Nya.Sumber ajaran Islam
ada dua yaitu:Al-Qur’an dan sunnah.
B.
Keistimewaan Akidah Islam
Keistimewaan
antara lain sebagai berikut.
1) Mengetahui petunjuk hidup yang benar serta dapat
membedakan yang benar dan yang salah.
2)Memupuk dan mengembangkan dasar ketuhanan yang
ada sejak lahir.
3)Memelihara manusia dari kesyirikan.
4)Menghindarkan diri dari pengaruh akal pikiran
yang menyesatkan.
5)Akal pikiran yang dibimbing oleh akidah Islam
bermanfaat agar manusia terhindar dari kehidupan yang sesat
C.
Hubungan Akidah dan Akhlak
Akidah
merupakan segala hal yang berkaitan dengan Tuhan menjadi bagian dari keyakinan,
seperti tentang malaikat, kitab-kitab, rasul-rasul, hari akhirat, dan takdir. Kemudian
tentang manusia, siapa dirinya, darimana asalnya, apa tugasnya didunia ini, akan
kemana esok hari, inilah ilmu akidah. Sedangkan Akhlak segala hal yang
berkaitan dengan sesama makluk ciptaan-Nya (hubungan dengan Allah, hubungan dengan
sesama manusia, hubungan dengan alam semesta, dan hubungan dengan makhluk gaib).
Akidah dengan akhlak merupakan dua hal yang menjadi pondasi utama dalam ajaran Islam,
sehingga memiliki cakupan yang luas dan mendalam. Akidah merupakan hubungan
makhluk dengan Tuhan (hablumminallah) sedangkan akhlak merupakan hubungan antar sesama makhluk ciptaan-Nya (hablumminannas). Beberapa
ahli pakar mengatakan bahwasanya ajaran utama dalam Islam ada tiga yaitu tauhid,
akhlak,dan ibadah.
D.
Corak Akidah Islam Pada Masa Nabi dan Sahabat
Akidah
dimasa Rasulullah SAW dan sahabat bersifat integral, karena berhubungan langsung
dengan aspek ibadah dan akhlak. Masalah akidah dibicarakan selalu dalam konteks
ibadah dan akhlak. Begitu pula sebaliknya. Hal ini telah dipraktikkan oleh Nabi
SAW dan para sahabat sejak periode Mekkah sampai periode Madinah. Pada masa ini,
Tauhid murni Islam adalah suatu tauhid praktikal (amaliy), yaitu apa yang
tersimpan dalam keimanan mereka, itulah yang tampak pada akhlak tingkah laku mereka
yang mulia. Tauhid ini hanya dapat diambil secara yaitu dengan melihat contoh
dari seorang insan yang sudah merealisasikannya, bukan hanya dari teori teori ilmiah
saja. Permasalahan-permasalahan tentang akidah dan tauhid selalu terjawab secara
jelas dan terang pada masa itu karena setiap ada perbedaan atau pertentangan,
Rasulullah Saw selalu turun tangan dan menjelaskannya secara benar dengan mengikuti
pada wahyu.
KELOMPOK 8
LAHIRNYA ALIRAN-ALIRAN KALAM DAN SUMBER AKHLAK
A. Pengertian Ilmu Kalam dan Akhlak serta Munculnya Aliran Kalam
Ilmu kalam adalah ilmu yang membicarakan atau membahas tentang
masalah ketuhanan/ketauhidan (mengesakan Tuhan). Selain itu, ilmu kalam juga
membahas mengenai ajaran-ajaran dasar di dalam agama Islam. Ajaran-ajaran
dasar itu menyangkut wujud Allah, Kerasulan Muhammad, dan Al-Quran, serta orang
yang percaya dengan tiga hal itu, yakni orang muslim dan mukmin, serta orang
yang tidak percaya, yakni kafir dan musyrik, soal surga dan neraka, dan
lain-lain. Secara bahasa kata akhlak berasal dari bahasa Arab, yaitu akhlaaq bentuk
jamak dari khuluqun yang berarti perangai, tabiat, adat, dan sebagainya.
Sedangkan akhlak menurut istilah adalah kehendak jiwa manusia yang
menimbulkan suatu perbuatan dengan mudah karena sudah menjadi kebiasaan dan
melakukannya tanpa memerlukan pertimbangan pikiran terlebih dahulu.
Munculnya aliran-aliran kalam pun tidak
terlepas dari adanya akhlak pada setiap diri individu. Persoalan akhlak selalu
dikaitkan dengan persoalan sosial masyarakat, karena akhlak menjadi simbol bagi
peradaban suatu bangsa.Akhlak adalah sifat atau kebiasaan yang tertanam dalam
jiwa setiap orang yang menimbulkan perbuatan-perbuatan yang mudah tanpa
pemikiran atau pertimbangan. Secara umum, berbagai macam aliran keagamaan dalam
Islam dikenal dengan istilah teologi (kalam). Sebagai sebuah cabang ilmu dalam
Islam, ilmu kalam membicarakan perkataan Allah (Alquran), wujud Allah,
sifat-sifat Allah, pengutusan nabi dan rasul, serta berita-berita mengenai alam
gaib.
Kelahiran ilmu kalam ini sangat terkait erat
dengan masalah yang dihadapi umat Islam, menyangkut hakikat iman dan status dosa
besar serta masalah takdir dan kebebasan.Setelah peristiwa pembunuhan Khalifah
Usman bin Affan, kaum Muslim terpecah ke dalam kelompok Khawarij dan Syiah yang
mewakili pandangan berbeda tentang status pelaku pembunuhan tersebut.
B. Aliran-Aliran
Dalam Ilmu Kalam
Secara historis, di kalangan umat Islam telah
terjadi perbedaan pedapat yang mengakibatkan lahirnya aliran-aliran kalam
seperti: Khawarij, Syi'ah, dan Murji'ah. Lahirnya aliran kalam
ini sebagai wujud implikasi adanya perbedaan politis tentang siapa yang berhak
menjadi khalifah untuk mengganti Nabi Muhammad SAW setelah wafat.
a. Aliran Khawarij
Khawarij berasal dari kata kharaja, artinya ialah keluar, dan yang dimaksudkan
disini ialah mereka yang keluar dari barisan Ali sebagai diterimanya arbitrase
oleh Ali. Tetapi sebagaian orang berpendapat
bahwa nama itu diberikan kepada mereka, karena mereka keluar dari rumah-rumah
mereka dengan maksud berjihad di jalan Allah. Hal ini di dasarkan pada QS
An-Nisa: 100. Berdasarkan ayat tersebut, maka kaum khawarij memandang kaum
khawarij memandang diri mereka sebagai orang yang meninggalkan rumah atau
kampung halamannya untuk berjihad.
b. Aliran Syiah
Syiah dalam bahasa Arab artinya
ialah pihak, puak, golongan, kelompok atau pengikut sahabat atau penolong.
Syiah adalah kelompok masyarakat yang amat memihak Ali dan memuliakannya
beserta keturunannya. Syiah muncul pada masa Khalifah Utsman. Mereka adalah
orang-orang yang setia pada Ali, yang menganggap bahwa kekhalifahan Ali
berdasarkan Nash Al-quran dan wasiat dari Rasulullah SAW, baik yang disampaikan
secara jelas maupun samar. Menurut mereka seharusnya tampuk kepemimpinan
diduduki oleh Ali dan keturunannya, serta tidak boleh lepas darinya.
c. Aliran Jabbariyah
Kata Jabariyah berasal dari kata jabara yang berarti memaksa dan
mengharuskannya melaksanakan sesuatu atau secara harfiah dari lafadz al-jabr
yang berarti paksaan. Secara istilah,
jabbariyah berarti menyandarkan perbuatan manusia kepada Allah SWT. Jabariyyah
menurut mutakallimin adalah sebutan untuk mahzab al-kalam yang menafikkan
perbuatan manusia secara hakiki dan menisbatkan kepada Allah SWT semata.
d. Aliran Qadariyah
Qadariyyah adalah suatu aliran
yang mempercayai bahwa segala tindakan manusia tidak diintervensi oleh Tuhan.
Aliran ini juga berpendapat bahwa tiap-tiap orang adalah pencipta bagi segala
perbuatannya, ia dapat berbuat sesuatu atau meninggalkannya atas kehendak
sendiri.
Dalam paham Qadariyah manusia
dipandang mempunyai Qudrat atau kekuatan untuk melaksanakan kehendaknya, dan
bukan berasal dari pengertian bahwa manusia terpaksa tunduk kepada Qadar atau
pada Tuhan. Harun Nasution menegaskan bahwa kaum qodariyyah berasal dari
pengertian bahwa manusia mempunyai qodrat atau kekuatan untuk melaksanakan
kehendaknya, akan tetapi bukan berarti manusia terpaksa tunduk paada qodrat
Tuhan.
e. Aliran
Mu’tazilah
Kata mu’tazilah berasal dari
kata I’tazala dengan makna yang berarti menjauhkan atau memisahkan diri dari sesuatu.
Kata ini kemudian menjadi nama sebuah aliran di dalam ilmu kalam yang para
sarjana menyebutnya sebagai Mu‟tazillah berdasarkan peristiwa yang terjadi pada
Washil ibn Atha (80 H/699 M- 131 H/748 M) dan Amr ibn Ubayd dengan al-Hasan
al-Bashri.
f. Aliran
Asy’ariyyah
Asy’ariyah adalah nama aliran
di dalam islam, nama lain dari aliran ini adalah Ahlu Sunnah wal Jamaah. Aliran
Asy’ariyyah adalah aliran teologi yang dinisbahkan kepada pendirinya, yaitu Abu
al-Hasan Ali ibn Ismail al-Asy’ari. Menurut aliran Asy’ariyyah, Allah mempunyai
beberapa sifat dan sifat-sifat itu bukan zat-Nya dan bukan pula selain zat-Nya,
namun ada pada zat-Nya sendiri. Meskipun penjelasan Asy’ariyyah itu mengandung
kontradiksi, hanya dengan itulah aliran tersebut dapat melepaskan diri dari
paham ta’addud al-qudama (banyaknya yang kadim).
g. Aliran
Maturidiyah
Maturidiyyah lahir sebagai reaksi terhadap
pemikiran-pemikiran Mu’tazilah yang yang dianggap rasional. Pemikiran teologi
asy’ari sangat banyak menggunakan makna teks nash agama (Quran dan Sunnah),
maka Maturidiyyah dengan latar belakang mazhab Hanafi yang dianutnya banyak
menggunakan takwil. Tokoh pertama dari aliran Maturidiyah adalah al-Maturidi
sendiri. Sebagai pemikir yang tampil dalam menghadapi pemikiran Muktazilah,
al-maturidi banyak menyerang pemikiran mu’tazillah. Namun karena ia memiliki
latar belakang intelektual pandangan-pandangan rasional Abu Hanifah,
disela-sela perbedaan itu terdapat pula kesamaan.
h. Aliran
Murji’ah
Murjiah berasal dari bahasa Arab irja artinya penundaan atau
penangguhan. Aliran Murjiah muncul sebagai reaksi dari aliran kharjiyyah yang
memandang perbuatan dosa sebagai quasi absolut dan merupakan sifat penentu,
murji’ah lebih cenderung sebagai reaksi terhadap kharijiyyah dari pada terhadap
aliran mayoritas.
Aliran Murji’ah muncul dengan
mengusung keyakinan lain mengenai dosa besar. Masalah yang mulanya hanya
bersifat politis akhirnya berkembang menjadi masalah teologis. Lantara dua
aliran tersebut muncul mendahului aliran Mu’tazillah, maka tidak salah pula
jika Wolfson menyebut bahwa keduanya sebagai aliran pra-Mu’tazilah dalam
teologi Islam.
C.
Sumber-Sumber dan
Macam-Macam Akhlak
Sumber
akhlak adalah yang menjadi ukuran baik dan buruk atau mulia dan tercela.
Sebagaimana keseluruhan ajaran Islam, sumber akhlak adalah al-Qur'an
dan sunnah, bukan akal pikiran atau pandangan masyarakat sebagaimana pada
konsep etika dan moral. Sebagai sumber akhlak, wahyu menjelaskan bagaimana
berbuat baik. al-Qur’an bukanlah hasil renungan manusia, melainkan firman Allah
s.w.t. yang Maha Pandai dan Maha Bijaksana.
Ada dua jenis pembagian akhlak yaitu akhlak
mahmudah (akhlak terpuji) dan akhlak madzmumah (akhlak tercela). Akhlakul
mahmudah yaitu akhlak yang terpuji merupakan salah satu golongan macam akhlak
yang harus dimiliki setiap umat muslim. Seseorang yang memiliki akhlak terpuji
biasanya akan selalu menjaga sikap dan tutur katanya kepada orang lain dan
merasa bahwa dirinya diawasi oleh Allah. Contoh dari akhlak mahmudah adalah
kesopanan, sabar, jujur, derwaman, rendah hati, tutur kata yang lembut dan
santun, gigih, rela berkorban, adil, bijaksana, tawakal dan lain sebagainya.
Akhlak mazmumah yaitu akhlak
tercela merupakan salah satu tindakan buruk yang harus dihindari dan dijauhi
setiap manusia karena dapat mendatangkan mudharat baik bagi dirinya sendiri
maupun bagi orang lain.Akhlak tercela sangat dibenci oleh Allah dan tidak jarang
orang yang memilikinya juga tidak disukai oleh masyarakat di
sekelilingnya.Contoh dari macam akhlak akhlakul mazmumah yaitu sombong, iri,
dengki, takabur, aniaya, ghibah dan lain sebagainya.
KELOMPOK 9
KEWAJIBAN-KEWAJIBAN MANUSIA, ADAB BERGAUL DALAM
MASYARAKAT DAN KISAH ORANG YANG DISEBUTKAN DALAM AL-QUR’AN
A.
Kewajiban-Kewajiban Manusia
Pengertian kewajiban menurut Kamus Besar
Bahasa Indonesia, kewajiban berasal dari kata wajib yang artinya harus, sudah semestinya.
Sedangkan manusia makhluk yang berakal budi; insan dan orang. Jadi, kewajiban
manusia itu berarti sesuatu yang harus dilakukan atau dilaksanakan oleh orang
yang mukalaf (terkena kewajiban). Kewajiban terbagi
menjadi sebagai berikut:
1.
Kewajiban manusia
terhadap Allah dan Rasul, terdiri dari kewajiban manusia terhadap Allah
(beribadah dan taat kepada perintah Allah) dan kewajiban manusia terhadap Rasul
(beriman kepada Rasulullah, taat kepada Rasulullah, mengikuti sunnah
Rasulullah, Bershalawat kepada Rasulullah)
2.
Kewajiban
manusia terhadap diri sendiri, kedua orang tua dan keluarga, terdiri dari:
a. Kewajiban manusia
terhadap diri sendiri (menyadari bahwa dirinya dalam pengawasan Allah Swt
(muraqabah), kesediaan untuk selalu berintrospeksi (muhasabah), seorang hamba
juga perlu untuk segera menyadari setiap kesalahannya dengan bertaubat kepada
Allah).
b. Kewajiban manusia
terhadap kedua orang tua (mematuhi semua perintah dan larangan keduanya selama
tidak mengandung maksiat kepada Allah, menghormati kedua orang tua dengan
sepenuh hati, merendahkan diri kepada
mereka, berbuat baik kepada kedua orang tua)
c. Kewajiban manusia
terhadap keluarga (Seorang muslim mempunyai tanggung jawab kepada keluarganya.
Apabila telah beristri dan mempunyai anak, maka wajib memilihkan untuknya nama
yang bagus, disunnahkan menyembelih hewan aqiqah pada hari ketujuh dari hari
kelahirannya, mengkhitan, memberi nafkah, mendidik dengan baik, memperhatikan
pendidikannya dan yang terpenting membiasakannya beribadah kepada Allah dengan
ibadah fardlu maupun sunnah. Apabila telah beranjak dewasa, wajib menikahkannya
dengan orang yang tepat, agar biduk rumah tangganya berjalan di jalan Allah
Swt. Juga diperintahkan untuk menjaga keluarga dari api neraka, yakni dengan
mentaati Allah).
B. Adab Bergaul dalam Masyarakat
1.
Adab bergaul
dengan teman sebaya (saling menghormati, tolong menolong, cinta dan kasih
sayang)
2. Adab bergaaul dengan orang yang
lebih tua (berlaku sopan, berkata santun, menolak dengan halus perintah buruk)
3. Adab bergaul dengan orang yang lebih muda (memberi nasihat dengan bijak,
mempererat persaudaraan, memberi perhatian dan kasih sayang)
4. Adab bergaul dengan lawan jenis
(berteman semata-mata karena Allah, menutup aurat, menjaga kemaluan)
C.
Kisah Orang
yang Disebutkan dalam Al-Qur’an
Menurut Mannâ al-Qaththân yakni cerita yang diinformasikan
al-Qur‟an mengenai umat-umat dahulu, peristiwa-peristiwa kenabian dan
peristiwa-peristiwa lain yang pernah terjadi masa lalu. Kisah
al-Qur’an dibagi menjadi dua: Kisah historis: adalah kisah yang mengandung
kebenaran material dan faktual. Misalnya kisah tentang para nabi dan umat-umat
terdahulu. Sedangkan Kisah simbolis adalah
adalah kisah yang mengandung kebenaran secara material, namun kebenaran fakta
dalam kisah tersebut tidak harus benar-benar faktual, sebab yang dimaksudkan
dalam kisah tersebut berkaitan dengan tokoh-tokoh yang disebutkan hanyalah
sebagai simbol yang dihajatkan untuk memberikan contoh.
Macam-macam kisah dalam al-Qur’an
berdasarkan tokohnya bisa dikategorikan sebagai yang berikut:
1. Kisah para
rasul dan nabi menyangkut dakwah mereka kepada kaumnya, mukjizat-mukjizat yang
terjadi serta sikap para penentang, dan akibat-akibat yang diterima oleh para
penentangnya.
2.
Kisah-kisah yang berkaitan dengan umat-umat terdahulu yang tidak dapat
dipastikan kenabiannya, seperti kisah Thâlut, Jâlût, dua putra Adam, Ashâb
al-Kahfi, Zulqarnain, Luqmân al-Hakim, dan sebagainya.
3. Kisah yang berkaitan dengan
peristiwa yang terjadi di zaman Nabi seperti perang Badar, Uhud dan Hunain dan
sebagainya.
Kisah
yang disebutkan dalam Al-Qur’an mempunyai ibrah atau pelajaran serta nilai yang
terkandung didalamnya. Nilai-nilai pendidikan dalam kisah Al-Qur’an, yakni
nilai pendidikan tauhid, nilai pendidikan akhlak atau moral, nilai pendidikan
demokrasi, nilai pendidikan seksual dan spiritual.
KELOMPOK 10
SIFAT-SIFAT TERPUJI DAN
TERCELA
A. Pengertian Sifat Terpuji dan Sifat Tercela
Akhlak terpuji
adalah tingkah laku terpuji yang merupakan tanda keimanan dan tanda
kesempurnaan iman seseorang. Tanda tersebut dimanifestasikan dalam kehidupan
sehari-hari dalam bentuk perbuatan-perbuatan yang sesuai ajaran-ajaran yang
terkandung dalam al-Qur’an dan Hadits. Sedangkan Akhlak tercela adalah tingkah
laku yang tercela atau perbuatan jahat yang merusak iman seseorang dan
menjatuhkan martabat manusia. Akhlak terpuji memberikan manfaat bagi diri
sendiri dan orang lain, sedangkan akhlak tercela merugikan diri sendiri dan
orang lain.
B. Macam-Macam Sifat-Sifat Terpuji dan Tercela
Sifat terpuji
yang dimaksud adalah, antara lain: cinta kepada Allah, cinta kepada rasul, taat
beribadah, senantiasa mengharap ridha Allah, tawadhu’, syukur, taubat, taat dan
patuh kepada Rasulullah, bersyukur atas segala nikmat Allah, adil, bersabar
atas segala musibah dan cobaan, ikhlas karena Allah, jujur, menepati janji,
qana’ah, khusyu dalam beribadah kepada Allah, mampu mengendalikan diri,
silaturrahim, menghargai orang lain, menghormati orang lain, sopan santun, suka
bermusyawarah, suka menolong kaum yang lemah, rajin belajar dan bekerja, hidup
bersih, menyayangi binatang, dan menjaga kelestarian alam.
Sifat yang
termasuk akhlak tercela adalah segala sifat yang bertentangan dengan akhlak
terpuji, antara lain: kufur, syirik, munafik, fasik, murtad, takabbur, riya,
dengki, bohong, dusta, menghasut, kikil, bakhil, boros, dendam, khianat, tamak,
fitnah, qati’urrahim, ujub, ananiyah, ghadab, mengadu domba, sombong, putus
asa, kotor, mencemari lingkungan, dan merusak alam.
C.
Penerapan Sifat Terpuji dan Menghindari Sifat Tercela dalam Kehidupan
Sehari-Hari
a. Penerapan Sifat Terpuji
Dalam menerapkan sifat terpuji dalam kehidupan
sehari-hari sangatlah perlu niatan yang sangat mendalam didalam diri. Selain
itu motivasi untuk mendekatkan diri atau selalu taat kepada Allah menjadi modal
yang paling utama dalam melakukan hal tersebut. Tidak hanya itu juga kita
sebagai manusia juga perlu memperhatikan lingkungan sekitar kita, agar dapat
berinteraksi sesuai dengan aturan Islam atau tidak menyimpang.
- Berbaik sangka dengan cara bersikap optimis
dan tidak berputus asa sebagai cara dalam berbaik sangka pada Allah SWT.
- Bertaubat merupakan langkah baik untuk kita
memperbaiki kesalahan yang telah dilakukan.
- Menaati syariat agama dapat dilakukan dengan
cara membiasakan diri melakukan hal yang bermanfaat.
- Berlaku baik dengan sesama dilakukan dengan
menjaga kerukunan dan kebersamaan, saling tolong, saling menghargai.
- Adil berarti tidak memihak salah satu pihak.
- Benahi cara berpakaian sesuai syariat agama
yakni menutup aurat dan adab berpakaian yang memiliki nilai ibadah.
- Mengingat sejarah hidup rasulullah dengan
cara mencontoh hal yang dilakukan Rasulullah sebagai teladan dalam berperilaku.
- Bergaul dengan mereka yang berakhlak baik
akan membangun karakter diri yang berkualitas.
- Menerima nasihat dari orang lain disertai
dengan berlapang dada, dan
- Bertamu dengan sopan sebagai jalinan
silaturahmi dan memiliki adab bertamu ke rumah teman, sahabat, atau kerabat.
b. Menghindari
Sifat Tercela
Untuk menghindari sifat tercela tentunya harus juga ada
niatan atau kesadaran yang besar tadi didalam diri. Senantiasa takut kepada
Allah dan menjauhi apa saja yang menjadi larangan-Nya.
- Perbanyak ibadah.
- Biasakan berbagi.
- Selalu bersyukur atas nikmat Allah dalam hidup.
- Pahami keterbatasan manusia.
- Jaga tali silaturahmi.
- Intropeksi.
- Pelihara perkataan baik.
KELOMPOK 11
RUKUN IMAN DAN CIRI-CIRI
AKHLAK ISLAMIYAH
A.
Pengertian dan Macam-Macam Rukun Iman (Aqidah Islam)
Akidah secara bahasa berasal dari kata ('aqada-ya'qidu-aqidatan)
yang berarti ikatan,atau perjanjian. Secara istilah adalah keyakinan hati atas
sesuatu. Kata ‘akidah’ tersebut dapat digunakan untuk ajaran yang terdapat
dalam Islam, dan dapat pula digunakan untuk ajaran lain di luar Islam. Akidah Islam (al-akidah al-Islamiyah) bisa
diartikan sebagai pokok-pokok kepercayaan yang harus diyakini kebenarannya oleh
setiap orang yang mengaku dirinya beragama Islam (Muslim).
Rukun
iman terdiri dari iman kepada Allah,
para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir serta takdir
yang baik dan buruk (qada dan qadar).
1.
Iman
kepada Allah
Pengertian
iman kepada Allah, adalah iman atau yakin bahwa Allah adalah Ilah (sembahan)
yang benar. Allah berhak disembah dengan benar tanpa menyembah kepada yang
lain, karena Dialah pencipta hamba-hamba-Nya, Dialah yang memberikan rezeki
kepada manusia, yang mengetahui segala perkara yang dilakukan manusia, baik
yang dilakukan secara terang-terangan atau sembunyi-sembunyi. Dialah yang Maha
kuasa.
2. Iman kepada malaikat
Malaikat ialah makhluk
ciptaan yang hidup dialam ghaib dan senantiasa beribadah kepada Allah. Allah Ta’ala menciptakan mereka dari
cahaya dan menganugerahi mereka ketundukan terhadap perintahNya dan
melaksanakan perintahnya dengan sempurna.
3. Iman kepada Kitab-kitab Allah
Beriman kepada kitab-kitab Allah yang diturunkan kepada
rasulNya ialah rukun iman yang ketiga, karena Allah Ta’ala telah mengutuskan
rasul-rasul-Nya dengan bukti-bukti yang jelas serta menurunkan kepada mereka
kitab-kitab yang menjadi rahmat kepada alam semesta. agar
mereka sampai kepada kebahagiaan mereka di dunia dan di akhirat.
4. Iman kepada Rasul
Rasul menurut bahasa adalah utusan
atau orang yang dikirim untuk suatu tugas. Menurut istilah agama, Rasul adalah
seorang lelaki yang terpilih untuk menerima wahyu dari Allah dan ditugaskan
untuk menyampaikan risalah kepada manusia.
5. Iman kepada Hari Akhir
Hari akhir adalah
hari kiamat yang mana dihari itu seluruh manusia dbangkitkan untuk dihisab dan
diberi balasan. Dinamakan “Hari Akhir” yaitu
berakhirnya kehidupan dunia dan tidak ada lagi setelahnya. Hari kebangkitan
(Hari Akhir) ini benar adanya berdasarkan dalil-dalil baik dari al-qur’an
maupun as-Sunnah serta izma kaum muslimin.
6.
Iman kepada qada dan qadar
Qadar berarti ketetapan Allah Ta’ala bagi setiap
makhlukNya sesuai dengan ilmu dan hikmah yang dikehendakiNya.
B. Ciri-Ciri
Akhlak Islamiyah
Secara
sederhana akhlak Islami dapat diartiakan sebagai akhlak yang berdasarkan ajaran
Islam atau Akhlak yang bersifat Islami. Kata Islam yang berada di belakang
akhlak menempati posisi sebagai sifat. Dengan demikian akhlak Islami adalah
perbuatan yang dilakukan dengan mudah, disengaja, mendarah daging dan
sebenarnya yang disandarkan pada ajaran Islam.
Ciri-ciri
akhlak islamiyyah (akhlak dalam Islam) jika berkaitan dengan keimanan, yaitu:
a.
Merealisasikan tauhid kepada
Allah Ta’ala, dimana dia tidak bergantung kepada selainNya, dan dan tidak menyembah selain kepadaNya.
b.
Merealisasikan ibadah
kepadaNya dengan mengerjakan apa yang diperintahkanNya dan meninggalkan apa
yang dilarangNya.
c.
Selalu berhati-hati dalam
berbuat.
d.
Meyakini bahwa Allah
mengetahui segala sesuatu.
Sedangkan akhlak terhadap diri sendiri seperti
menjaga kesehatan, tidak merugikannya dan tidak membebani diri dengan beban
yang terlampau berat diluar kemampuan. Kepada keluarga misalnya, menunaikan
kewajiban kepada seluruh anggota lain, dan memberikan pendidikan agama
benar-benar cukup bagi anak. Terhadap masyarakat, misalnya tolong menolong
dalam kebaikan. Akhlak terhadap alam, seperti menjaga alam, mengelola,
memelihara dan tidak merusaknya.
KELOMPOK 12
MASALAH YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEIMANAN
A. Iman dan Rukun Iman
Iman menurut istilah syara'
adalah iman terkadang diartikan sebagai tashdiq (memercayai) seperti makna
linguistiknya. Dalam firman Allah SWT surah Yusuf ayat 7 yang Artinya: “Engkau
tentu tidak akan percaya kepada kami sekalipun kami berkata benar.” Al Quran
menyebutkan tentang iman dengan menggunakan lafal yaqin (meyakini) yang
didukung oleh bukti-bukti sebagaimana dalam firman Allah SWT dalam surah Al
Baqarah ayat 4. Artinya: "Dan mereka yakin dengan adanya hari
akhirat." Dalam firman Allah SWT surah lain, yakni Surah Al-An'am ayat 75.
Artinya: "Dan demikianlah kami memperlihatkan kepada Ibrahim kekuasaan
(kami yang terdapat) di langit dan bumi dan agar dia termasuk orang-orang yang
yakin."
Ada ulama yang menyatakan iman
itu adalah ucapan dan perbuatan. Iman ini dinamakan juga ucapan hati. Makna
iman yang ada didalam hati juga berarti lawan dari kekafiran. Ada juga ulama
yang berpendapat bahwa iman adalah keyakinan yang terbentuk didalam hati dan
itu adalah makna iman yang utama.
B. Macam-Macam Rukun Iman
1. Iman kepada Allah
Iman kepada Allah tegak di atas
dua asas; pertamanya mengimani rububiyyah Allah Swt, dengan lain perkataan
mengimani bahwa Allah Swt. yang menjadikan sesuatu, yang menghidup dan
mematikan; yang memiliki dan berkuasa; dan juga sifat-sifat Allah yang lain.
Keduanya mengimani uluhiah Allah Swt dengan kata lain mengimani bahwa Allah
sahajalah yang berhak menerima pengabdian dan inilah pengertian ‘La Ilaha Illa
Allah’, pengabdian tidak seharusnya diberikan kepada selain dari Allah.
Begitu pentingnya pendidikan
keimanan pada generasi akan datang, berikut Ruang lingkup materi pendidikan
keimanan, yaitu:
a. Ma’rifat al-Mabda = keyakinan terhadap
Allah Swt dengan segala seginya: wujud
Allah, keesaan, dan seluruh sifat-sifat-Nya.
b. Ma’rifat al-Wasithah = keyakinan yang
berhubungan utusan Allah sebagai mediator antara Allah dan manusia, yaitu
malaikat, rasul dan kitab-kitab Allah
c. Ma’rifat
al-Ma’ad = keyakinan yang berhubungan dengan hari yang akan datang,
seperti: hari kiamat, surga, neraka, qadha dan qadar Allah, dan berita gaib
lainnya.
2. Iman kepada Malaikat
Iman kepada malaikat adalah
bagian dari rukun iman. Iman kepada malaikat maksudnya adalah meyakini adanya
malaikat, walaupun kita tidak dapat melihat mereka, dan bahwa mereka adalah salah
satu makhluk ciptaan Allah. Allah menciptakan malaikat dari cahaya. Mereka
menyembah Allah dan selalu taat kepadanya, mereka tidak berdosa. Tak seorangpun
mengetahui jumlah pasti malaikat, jika biasanya terjadi pada nabi dan rasul.
Para malaikat tidak bertambah
tua ataupun bertambah muda, keadaan mereka sekarang sama persis ketika mereka
diciptakan. malaikat mengemban tugas-tugas tertentu dalam mengelola alam
semesta titik mereka dapat melintasi alam semesta secepat kilat. Mereka tidak
berjenis laki-laki ataupun perempuan dan tidak berkeluarga.
Wujud malaikat tidak dapat
dilihat dengan mata telanjang, karena mata manusia tercipta dari unsur dari
dasar tanah liat kering dari lumpur Hitam yang diberi bentuk tidak akan mampu
melihat wujud dari malaikat yang asalnya terdiri dari cahaya, hanya nabi
Muhammad shallallahu alaihi wa sallam ia mampu melihat wujud asli malaikat
sampai 2 kali.
3. Iman kepada kitab-kitab
Salah satu pokok kepercayaan
atau rukun iman dalam Islam ialah meyakini adanya kitab-kitab Allah subhanahu
wa ta'ala. Kitab-kitab Allah subhanahu wa ta'ala adalah himpunan Wahyu yang
diturunkan kepada para rasulnya untuk disampaikan kepada sekalian manusia
sebagai pedoman hidup. Macam-macam kitab-kitab Allah Swt. yang diwahyukan
kepada para rasul adalah sebagai berikut.
a. Kitab Zabur diwahyukan kepada Nabi Daud
as. pada kira-kira abad ke-10 SM, di daerah Israil.
b. Kitab Taurat diwahyukan kepada Nabi Musa
as. pada kira-kira abad ke-12 SM, di daerah Israil dan Mesir.
c. Kitab
Injil diwahyukan kepada Nabi Isa as. pada permulaan abad pertama Masehi.
d. Kitab al-Qur'an diwahyukan kepada Nabi
Muhammad Saw. pada abad ke-6 Masehi di Makkah dan Madinah.
4. Iman kepada Rasul
Rasul menurut bahasa adalah
utusan atau orang yang dikirim untuk suatu tugas. Menurut istilah agama, Rasul
adalah seorang lelaki yang terpilih untuk menerima wahyu dari Allah dan
ditugaskan untuk menyampaikan risalah kepada manusia.
Iman kepada para nabi dan rasul
Allah, merupakan salah satu rukun iman. Keimanan seseorang itu tidak sah, sampai
ia mengimani semua nabi dan rasul Allah dan membenarkan bahwa Allah telah
mengutus mereka untuk menunjukkan, membimbing dan mengeluarkan manusia dari
kegelapan kepada cahaya kebenaran. Ditambah juga keharusan membenarkan bahwa
mereka telah menyampaikan apa yang Allah turunkan kepada mereka dengan benar
dan sempurna, dan mereka telah berjihad dengan sebenar-benarnya di jalan Allah.
5. Iman kepada Hari akhir
Beriman kepada hari akhir adalah
membenarkan bahwa dibalik penghidupan dunia ini masih ada penghidupan akhirat
Yang termasuk dalam iman kepada hari akhir ini ialah adanya: alam kubur, hari
kiamat, kebangkitan dari kubur, berkumpul di padang mahsyar, perhitungan dan
penimbangan amal, dan pembalasan (surga dan neraka).
Dalam ayat-ayat al-Quran sering
kali disebutkan ”beriman kepada Allah” diikuti dengan kalimat ”dan beriman
kepada hari akhir”. Menurut M. Quraish Shihab bahwa hal itu menunjukkan
tidaklah sempurna keimanan kepada Allah tanpa dibarengi dengan keimanan
terhadap hari akhir. Hal ini disebabkan keimanan kepada Allah menuntut amal
perbuatan, sedangkan amal perbuatan baru sempurna motivasinya dengan keyakinan
tentang adanya hari akhir.
6. Iman kepada qada dan qadar
Iman kepada qadha dan qadar berarti percaya
dan meyakini dengan sepenuh hati bahwa Allah Swt telah menentukan segala
sesuatu bagi makhluk-Nya. Allah maha mengetahui setiap sesuatu, baik secara
global (ijmali) maupun secara terperinci (tafshili). Seluruh makhluk dan
peristiwa yang ada di langit dan di bumi berjalan sesuai dengan ketentuan atau
kehendak Allah. Qadha berarti ketetapan Allah sejak zaman azali sesuai dengan
iradah-Nya tentang segala sesuatu yang berkenaan dengan makhluk. Sedangkan
qadar berarti perwujudan ketetapan (qadha) Allah terhadap semua makhluk dalam
kadar dan bentuk tertentu sesuai dengan iradah-Nya. Qadha adalah ketentuan atau
rencana Allah sejak zaman azali, sedang qadar merupakan pelaksanaan dari
ketentuan itu. Keduanya sering disebut dengan satu kata yaitu ”takdir Allah”.
C. Hal-Hal yang Membatalkan/Merusak Keimanan
Hal-hal yang merusak keimanan yakni sebagai
berikut:
a. Berbuat kesyirikan.
b. Berkeras hati.
c. Mendatangi tukang ramal.
KELOMPOK 13
ORANG-ORANG
YANG PATUT DICONTOH DAN YANG TIDAK PATUT DICONTOH
A.
Orang-Orang yang Patut Dicontoh
Keteladanan berasal dari kata “teladan” yang berarti “segala
sesuatu yang patut untuk ditiru atau sesuatu hal yang baik untuk dicontoh”. Keteladanan dijadikan sebagai alat untuk
mencapai tujuan pendidikan Islam karena hakekat pendidikan Islam ialah mencapai
keridha’an kepada Allah Swt. dan mengangkat tahap akhlak dalam bermasyarakat
berdasarkan pada agama serta membimbing masyarakat pada rancangan akhlak yang
dibuat oleh Allah Swt. untuk manusia.
1. Nabi Muhammad Saw.
Sifat-sifat yang pasti dimiliki oleh Nabi
Muhammad Saw. maupun para nabi dan rasul yang lain adalah:
a. Shiddiq,
yang berati jujur. Nabi dan rasul selalu jujur dalam perkataan dan perilakunya
dan mustahil akan berbust yang sebaliknya, yakni berdusta, munafik, dan yang
semisalnya.
b. Amanah,
yang berati dapat dipercaya dalam kata dan perbutannya. Nabi dan rasul selalu
amanah dalam segala tindakannya, seperti menghakimi, memutuskan perkara,
menerima dan menyampaikan wahyu, serta mustahil akan berperilaku yang
sebaliknya.
c. Tabligh,
yang berarti menyampaikan. Nabi dan rasul selalu menyampaikan apa saja yang
diterimanya dari Allah (wahyu) kepada umat manusia dan mustahil nabi dan rasul
menyembunyikan wahyu yang diterimanya.
d. Fathanah,
yang berarti cerdas atau pandai. Semua nabi dan rasul cerdas dan selalu mampu
berfikir jernih sehingga dapat mengatasi semua permasalahan yang dihadapinya.
e. Di
samping empat sifat di atas, nabi dan rasul tidak pernah berbuat dosa atu
maksiat kepada Allah Swt. (ma’shum). Di samping memiliki sifat-sifat seperti di
atas, Nabi Muhammad Saw. juga dikenal dengan sebutan Al-Amin, yang berarti
selalu dapat dipercaya.
2. Abu Bakar Ash-Shidiq
Abu Bakar Ash-Shiddiq r.a. memiliki beberapa
gelar diantaranya adalah Al-’Atiq dan Ash-Shiddiq. Abu Bakar bergelar
Ash-Shiddiq dikarenakan dia telah membenarkan kabar tentang Isra’ Mi’raj Nabi
Muḥammad Saw. yang saat itu kaum musyrik telah mendustakannya. Sehingga, dapat
dikatakan bahwa gelar Ash-Shiddiq diperoleh Abu Bakar setelah kejadian Isra’
Mi’raj Nabi Muḥammad Saw. Gelar Al-‘Atiq dilekatkan kepadanya karena ketampanan
wajahnya dan tidak akan tersentuh api neraka.
Abu Bakar Ash-Shiddiq r.a. sebagai keteladanan
yang baik untuk dipelajari dan dijadikan contoh yang baik bagi peserta didik.
Abu Bakar Ash-Shiddiq r.a. yang merupakan salah satu sahabat Nabi yang memiliki
akhlak yang baik. Pada masa kepemimpinannya meskipun Abu Bakar merupakan
pedagang kaya, namun Abu Bakar tidak sombong. Abu Bakar Ash-Shiddiq r.a. merupakan
khalifah pertama setelah Rasulullah Saw. Nilai-nilai keteladanan dalam diri Abu
Bakar Ash-Shiddiq r.a. yaitu jujur,
ikhlas, dermawan, taat kepada Allah Swt. dan Rasul-Nya, rendah hati,
kesetiannya kepada Rasulullah Saw., keteguhan iman, ilmu dan pengetahuan luas.
Dengan adanya materi pembelajaran mengenai keteladanan tersebut, seorang
pendidik dapat mengarahkan peserta didik supaya bisa mencontoh keteladanan Abu
Bakar Ash-Shiddiq r.a. dan menerapkan keteladanannya dalam kehidupan
sehari-hari.
3.
'Umar bin Khattab
Dia digelari oleh Nabi Muhammad Saw. dengan
Al-Faruq, artinya pembeda/pemisah. Maksudnya, Allah telah memisahkan dalam dirinya antara yang hak dan yang batil. Hanya
Umar r.a. yang begitu berani mengemukakan pikiran-pikiran dan pendapatnya di
hadapan Nabi Muhammad Saw. Selain
dikenal sebagai seorang sahabat yang patuh dan pemberani, Umar r.a. juga
seorang sahabat yang kuat daya pikirnya, pandai, kreatif, cekatan, tinggi daya
analisisnya dan jauh pandangannya.
Kepandaian Umar r.a. telah dirintisnya sejak
ia kanak-kanak, ketika belajar membaca dan menulis, yang kemudian ditopang
dengan kegemaran untuk membahas beragam masalah ketika dia beranjak dewasa.
Diantara kelebihan ‘Umar bin Khattabb r.a. yang lain ialah beliau memiliki
sifat yang tegas yang diwarisi dari bapaknya, selain itu beliau adalah seorang
pemimpin yang saleh, adil, jujur dan sederhana serta selalu mendahulukan
kepentingan dan kemaslahatan orang banyak. Karakter-karakter tersebut menjadi
modal utama beliau dalam mensukseskan politik pemerintahannya.
4. Utsman Bin Affan
Khalifah Utsman bin Affan adalah seorang yang
takwa, selalu menjalankan puasa sepanjang tahun, dan selalu berhaji setiap
tahun. Utsman terkenal sebagai seorang baik budi, penyentuhan, rendah hati, dan
sangat kasih kepada sesama. Al-Mas’udi berkata ustman adalah seorang yang
paling dermawan, lapang dada, sangat senang berkurban kepada keluarga yang
dekat dan jauh. Sehingga perilakunya dijadikan pedoman oleh generasi
seangkatannya dan bawahan-bawahannya menjadikan langkah perbuatannya sebagai
teladan.
Khalifah Utsman bin Affan adalah orang yang
sangat pemalu sehingga sifat yang satu ini dijadikan sebagai sifat khusus. Utsman
terkenal seorang yang dikaruniai harta melimpah seperti hal nya para hartawan.
Sering kali dia mendorong masyarakat agar berpegang teguh terhadap ajaran agama
dan menepati aturan-aturan yang telah digariskan oleh Islam. Dia tidak
segan-segan menghukum orang-orang yang melanggar larangan Allah dan RasulNya.
5. Ali bin Abi Thalib
Ali adalah adalah seorang yang ramah,
bersahabat, saleh, dan pemberani. Ali adalah seorang yang memiliki banyak
kelebihan, selain itu ia adalah pemegang kekuasaan. Pribadinya penuh vitalitas
dan energik, perumus kebijakan dengan wawasan yang jauh kedepan. Ia adalah
pahlawan yang gagah berani, penasihat yang bijaksana, penasihat hukum yang
ulung, dan pemegang teguh tradisi, seorang
sahabat sejati, dan seoranag yang dermawan.
B. Orang-Orang yang Tidak Patut di Contoh
1. Abu Lahab
Nama lengkapnya adalah Abdul Al-Uzza bin
‘Abdul Muttalib dan panggilannya Abu Lahab (bapak dari api yang berkobar),
karena pipinya selalu merah atau seperti terbakar. Turunnya Q.S. Al-Lahab (111)
ayat 1-5 menjelaskan bahwa yang celaka nantinya di akhirat adalah Abu Lahab
sendiri dan istrinya yang senantiasa menghalang-halangi dakwah Islam, suka
memfitnah, dan mengolok-olok Nabi Muhammad Saw.
2. Abu Jahal
Jahal memiliki akhlak yang tercela. Mereka
kejam, munafik, angkuh, hasad, dan lain sebagainya. Abu Lahab, Abu Jahal dan
pengikutnya dengki terhadap dakwah Rasulullah Saw. Mereka selalu khawatir
kehormatannya sebagai pemuka Quraisy hilang. Seiring dengan adanya ajaran Nabi
Muhammad Saw.
3. Abdullah bin
Ubay
Di dalam sejarah kita mengenal Abdullah bin Ubay adalah Gembong tokoh kaum
munafik. Dia begitu dengki dan membenci Nabi Muhammad Saw. karena menganggapnya
sebagai penghalang dirinya untuk menjadi penguasa Madinah. Orang munafik ini
muncul pertama kali pada tahun yang ke-3 hijriah yang mana kaum Aus dan Khazraj
dan juga beberapa orang dari golongan Yahudi masuk agama Islam setelah perang
Badar. Kaum muslim memperoleh kemenangan pada perang tersebut, sehingga dari
sinilah muncul golongan orang-orang munafik yang pada saat itu di pimpin oleh
Abdullah bin Ubay.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar