• Analisis Butir Soal Pendidikan Agama Islam Kelas IX Semester I

     

    ANALISIS BUTIR SOAL PENDIDIKAN AGAMA ISLAM KELAS IX SEMESTER I

     

    Abstrak:

    Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui analisis butir soal (tingkat kesukaran butir soal, daya pembeda butir soal, validitas butir soal, dan reliabilitas butir soal). Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan bantuan program Excel. Teknik pengumpulan data yang dilakukan adalah teknik dokumen. Dokumen berupa lembar jawaban soal Pendidikan Agama Islam Kelas IX Semester I berjumlah 27 lembar dengan 35 butir soal tes berbentuk pilihan ganda. Hasil penelitian ini adalah; 1) Hasil uji taraf kesukaran, pada bentuk soal pilihan ganda yang termasuk soal sukar berjumlah 3 butir (3%), soal yang sedang berjumlah 13 butir (37%), dan soal yang mudah berjumlah 21 butir (60%). Bahwa butir soal tersebut memiliki yang tingkat kesukaran yang tidak berimbang. 2) Hasil uji daya beda, pada bentuk soal pilihan ganda yang termasuk soal dengan daya bedanya jelek terdiri dari 11 butir soal (31%), soal dengan daya beda cukup berjumlah 8 butir soal (23%), soal dengan daya beda baik berjumlah 13 butir soal (37%), dan daya beda baik sekali berjumlah 3 butir soal (9%). Memperoleh hasil bahwa soal tersebut memiliki kualitas daya beda soal yang kurang baik. 3) Hasil uji validitas yang didapatkan dari 35 butir soal, ada 23 soal yang valid dan 12 soal yang tidak valid. Berarti tes valid. 4) . Hasil uji reliabilitas, pada bentuk soal pilihan ganda menunjukkan indeks reliabilitas pada angka 0,9101 dengan kategori sangat tinggi. Hasil tersebut menunjukkan bahwa bentuk soal termasuk dalam kategori reliabel.

     

    Kata Kunci: Tingkat Kesukaran, Daya Pembeda, Validitas, dan Reliabilitas

     

    A.           Pendahuluan

    Peraturan pemerintah Nomor 55 Tahun 2007 menyatakan bahwa pengelolaan Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan berada pada Kementrian Agama. Pada Lampiran KMA No 211 Tahun 2011 dijelaskan bahwa penilaian yang digunakan untuk mengukur ketercapaian tujuan PAI adalah dalam rangka membentuk manusia yang beriman, bertaqwa, dan berakhlak mulia. Penilaian Pendidikan Agama Islam oleh pendidik dilakukan secara berkesinambungan yang bertujuan untuk memantau proses dan kemajuan belajar peserta didik serta untuk meningkatkan efektifitas dan efisiensi kegiatan pembelajaran (Fakhruddin, 2016:146-147).

    Proses pelaksanaan proses pembelajaran dan penguasaan siswa terhadap mata pelajaran Pendidikan Agama Islam perlu dievaluasi, terutama alat ukur atau instrumennya. Evaluasi yang didefinifisikan oleh (Sudjana, 1984:8) adalah sebagai usaha menetapkan nilai, yang terdapat dalam proses belajar mengajar terlihat pada hasil belajar yang dicapai seorang pelajar. Sebuah tes yang dapat dikatakan baik sebagai alat pengukur, harus memenuhi persyaratan tes, yaitu memiliki validitas, reliabilitas, objektivitas, praktikabilitas dan ekonomis (Suharsimi Arikunto, 2016:72). Secara umum tujuan evaluasi pembelajaran adalah untuk mengetahui pencapaian hasil pembelajaran yang telah dilaksanakan berdasarkan efektifitas dan efisiensinya. Sistem pembelajaran dimaksud meliputi: tujuan, materi, metode, media, sumber belajar, lingkungan maupun sistem penilaian itu sendiri. Selain itu, evaluasi pembelajaran juga ditujukan untuk menilai efektifitas strategi pembelajaran, menilai dan meningkatkan efektifitas program kurikulum, menilai dan meningkatkan efektifitas pembelajaran, membantu belajar peserta didik, mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan peserta didik, serta untuk menyediakan data yang membantu dalam membuat keputusan (Asrul, 2015:12).

    Keberhasilan kegiatan evaluasi hasil belajar di sekolah sangat tergantung pada pembuatan soal, pelaksanaan ujian, serta mengolah hasil ujian tersebut. Dengan demikian, kemampuan dalam membuat soal yang baik merupakan salah satu faktor yang berpengaruh terhadap keberhasilan kegiatan evaluasi di sekolah.  Salah satu cara untuk memperbaiki proses belajar mengajar yang paling efektif ialah dengan jalan mengevaluasi tes hasil belajar yang diperoleh dari proses belajar mengajar itu sendiri. Sebagaimana diketahui bahwa tes bisa berbentuk tertulis, lisan atau perbuatan (Anida, 2018:2). Maka tes harus memenuhi persyaratan. Jadi uraian berikut termasuk serial analisis hasil tes. Ada 4 cara menilai tes yaitu pertama meneliti secara jujur soal-soal yang sudah disusun, kedua mengadakan analisis soal (item analysis), ketiga checking validitas dan keempat checking reliabilitas. Dari keempat cara tersebut di atas, tulisan ini menguraikan cara kedua yaitu item analisis soal yang terdiri dari empat hal yaitu taraf kesukaran, daya pembeda soal, validitas dan reliabilitas butir soal. Tulisan ini secara berurutan membahas empat hal tersebut.

    Analisis butir soal adalah kegiatan mengkaji pertanyaan tes agar diperoleh pertanyaan yang memiliki kualitas memadai. Tujuan kegiatan ini yaitu untuk mengkaji dan menelaah setiap butir soal juga bertujuan untuk membantu meningkatkan tes melalui revisi atau membuang soal yang tidak efektif, serta untuk mengetahui informasi diagnostik pada siswa apakah mereka memahami materi yang telah diajarkan. Soal yang berkualitas yaitu soal yang dapat memberi informasi setepat-tepatnya sesuai dengan tujuannya, diantaranya dapat menentukan siswa yang sudah ataupun belum menguasai materi yang diajarkan guru (Sudjana, 2014:135).

    Butir yang baik adalah butir-butir yang karakteristiknya memenuhi syarat sebagaimana kriteria karakteristik butir yang baik. Analisis butir akan menggugurkan sebagian butir yang dianalisis karena karakteristiknya tidak memenuhi syarat sebagai butir yang baik sehingga tidak mempunyai kemampuan mengukur hasil belajar dengan baik (Purwanto, 2016:97). Analisis yang perlu dilakukan bagi seorang pendidik adalah analisis butir soal. Kegiatan analisis butir soal merupakan salah satu bagian kegiatan terpenting dalam penyusunan soal agar diperoleh butir soal yang bermutu.

    Tujuan kegiatan analisis butir soal menurut Aiken dalam Kusaeri (2012:163) adalah mengkaji, meneliti dan menelaah setiap butir soal agar diperoleh soal yang bermutu sebelum digunakan, untuk meningkatkan kualitas butir tes perlu dilakukan revisi atau membuang soal yang tidak efektif, serta mengetahui informasi diagnostik pada siswa apakah mereka telah memahami materi yang telah diajarkan. Soal yang bermutu adalah soal yang dapat memberikan informasi setepat-tepatnya tentang siswa yang telah menguasai materi dan siswa yang belum menguasai materi. Untuk menganalisa butir soal berdasarkan teori klasik setidaknya terdapat empat langkah yaitu kesukaran butir soal, daya pembeda, validitas dan reliabilitas.

    Tingkat kesukaran soal merupakan pengukuran seberapa besar derajat kesukaran soal. Suatu soal dikatakan baik, apabila memiliki tingkat kesukaran soal yang seimbang (proporsional) dalam artian soal tersebut tidak terlalu mudah atau terlalu sukar (Arifin, 2013:266).

    Saifudin Azwar (2006:129) mengatakan bahwa tingkat kesukaran butir soal adalah proporsi antara banyaknya peserta tes yang menjawab butir soal dengan benar dengan banyaknya peserta tes. Hal ini berarti makin banyak peserta tes yang menjawab butir soal dengan benar maka makin besar indeks tingkat kesukaran, yang berarti makin mudah butir soal itu. Sebaliknya makin sedikit peserta tes yang menjawab butir soal dengan benar maka soal tersebut makin sukar.

    Dali S. Naga (2002:67) mengatakan bahwa daya pembeda soal adalah kemampuan soal dengan skornya dapat membedakan peserta tes dari kelompok tinggi dan kelompok rendah. Dengan kata lain makin tinggi daya pembeda soal makin banyak peserta dari kelompok tinggi yang dapat menjawab soal dengan benar dan makin sedikit peserta tes dari kelompok rendah yang dapat menjawab soal dengan benar.

    Validitas tes yaitu ketepatan pengukuran yang dimiliki oleh butir soal dalam mengukur apa yang seharusnya diukur lewat butir soal tersebut. Butir soal dikatakan memiliki validitas yang tinggi apabila terdapat korelasi positif yang signifikan antara skor butir soal dan skor totalnya. Skor butir soal disini berkedudukan sebagai variabel bebas dan skor total berkedudukan sebagai variabel terikat. Setiap butir soal yang dijawab salah diberi skor nol (0). Jenis data tersebut dalam ilmu statistik dikenal dengan nama data diskret murni atau dikotomik. Skor total merupakan hasil penjumlahan dari setiap skor butir soal (misalnya: 1+0+1+1+0 = 3) yang merupakan data kontinyu.

    Sedangkan reliabilitas berkaitan dengan masalah kepercayaan. Suatu tes dapat dikatakan memiliki taraf kepercayaan yang tinggi apabila tes tersebut dapat memberikan hasil yang tetap. Seandainya hasil tersebut berubah-ubah, maka perubahan yang terjadi dapat dikatakan tidak berarti. Pemahaman konsep reliabilitas akan lebih mudah dimengerti apabila telah betul-betul memahami konsep validitas. Tuntutan bahwa instrument evaluasi harus valid menyangkut harapan diperolehnya data yang valid, sesuai dengan kenyataan. Dalam hal ini reliabilitas tuntutannya tidak jauh berbeda. Jika validitas berkaitan dengan ketepatan objek yang tidak lain adalah tidak menyimpangnya data dari kenyataan, artinya bahwa data tersebut benar, maka konsep reliabilitas terkait dengan pemotretan berkali-kali. Instrument yang baik adalah instrument yang dapat dengan ajeg memberikan data yang sesuai dengan kenyataan.

    Reliabilitas adalah derajat kekonsistenan/keajegan hasil penilaian dari pengulangan suatu prosedur penilaian. Derajat reliabilitas hasil menentukan tingkat kepercayaan (confidence) terhadap hasi yang dicapai. Reliabilitas suatu hasil penilaian tidak menjamin validitas hasil penilaian. Hanya saja reliabilitas meningkatkan kepercayaan dalam keputusan terkait hasil-hasil penilaian. 

    Butir soal yang baik adalah yang tidak terlalu mudah atau terlalu sukar. Apabila butir soal yang terlalu mudah atau terlalu sukar maka butir soal tersebut tidak dapat mencerminkan capaian hasil pembelajaran yang dilakukan.  Soal yang terlalu mudah tidak merangsang siswa untuk mempertinggi usaha untuk memecahkannya. Sebaliknya soal yang terlalu sukar akan menyebabkan siswa menjadi putus asa dan tidak mempunyai semangat untuk mencoba lagi karena diluar jangkauannya. Daya pembeda adalah kemampuan suatu soal untuk membedakan antara siswa yang pandai (berkemampuan tinggi) dengan siswa yang bodoh (berkemampuan rendah). Angka yang menunjukkan besarnya daya pembeda disebut indeks deskriminasi (daya pembeda) ini berkisar anatara 0,00 sampai 1,00. Hanya bedanya, indeks kesukaran tidak mengenal tanda negatif (-), tetapi pada indeks deskriminasi ada tanda negatif. Tanda negatif pada indeks deskriminasi digunakan jika sesuatu soal “terbalik” menunjukkan kualitas testee (Ihwan Mahmudi, 2020:121-123).

    Nama lain dari reliabilitas adalah ketetapan, kepercayaan, kemantapan, keterandalan, keajegan atau kestabilan. Sedangkan yang dimaksud dengan reliabilitas tes adalah sebagai berikut: menurut Anne Anastasi dan Susan Urbina (2007:63), reliabilitas tes adalah kestabilan skor yang diperoleh dari orang  yang sama ketika diuji ulang dengan tes yang sama pada situasi yang berbeda. Suatu tes dikatakan reliabel jika hasil tes sama pada seseorang walaupun telah diadakan pengetesan ulang pada waktu yang berbeda

    B.                       Metode Penelitian

    Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan bantuan program Excel. Teknik pengumpulan data yang dilakukan adalah teknik dokumen. Dokumen berupa lembar jawaban soal Pendidikan Agama Islam Kelas IX Semester I berjumlah 27 lembar dengan 35 butir soal tes berbentuk pilihan ganda. Analisis data dilakukan dengan terlebih dahulu melakukan koding hasil lembar jawab ke dalam Excel dimana jawaban benar diberi nilai 1 dan jawaban salah diberi nilai 0. Setelah seluruh data terkoding dalam excel, selanjutnya dengan menggunakan rumus matematis dicari taraf kesukaran (p) dan daya pembeda (D) tiap-tiap butir soal. Nilai p ini berada pada interval 0 sampai dengan 1. Kemudian mencari validitas dan reliabilitas butir soal.

    C.               Hasil dan Pembahasan

    Hasil analisis butir soal mata pelajaran Pendidikan Agama Islam Kelas IX adalah sebagai berikut:

                a. Kesukaran Butir Soal

    Bilangan yang menunjukkan sukar mudahnya soal disebut indeks kesukaran (difficulty index) yang diberi simbol dengan huruf P. Besarnya indeks kesukaran soal antara 0,00 sampai 1,0. Semakin besar indeks kesukaran soal maka semakin mudah soal tersebut dan sebaliknya. Rumus untuk mencari indeks kesukaran soal, yaitu:

     

    Keterangan:

    P = Indeks kesukaran soal

    B = Banyaknya siswa yang menjawab soal benar

    N = Jumlah seluruh peserta tes

    (Suharsimi Arikunto, 2013:223)

    Kriteria yang digunakan untuk menginterpretasikan hasil perhitungan tingkat kesukaran butir soal yakni: 0,00 – 0,30 ialah soal yang memiliki kategori sukar, 0,31 – 0,70 ialah soal yang memiliki kategori sedang, 0,71 – 1,00 ialah soal yang memiliki kategori mudah (Suharsimi Arikunto, 2013:225).

    Berdasarkan hasil analisis dengan bantuan program Excel diketahui bahwa soal Pendidikan Agama Islam Kelas IX Semester I dengan bentuk pilihan ganda berjumlah 35 butir soal mendapatkan perincian sebagai berikut; Soal berkategori sukar berjumlah 1 butir soal (3%), berkategori sedang berjumlah 13 butir soal (37%) dan berkategori mudah berjumlah 21 butir soal (60%)

    Dari hasil analisis soal diatas, maka distribusi ke 35 butir s oal berdasarkan tingkat kesukaran dapat dikategorikan dalam tabel berikut ini:

                            Tabel 1 Distribusi Butir Soal Berdasarkan Tingkat Kesukaran

    No.

    Taraf Sukar

    Butir Soal

    Jumlah

    Persentase

    1.

    0,00-0,30 (Sukar)

    3

    1

    3%

    2.

    0,31-0,70 (Sedang)

    4, 5, 9, 11, 16, 18, 23, 24, 26, 27, 28, 33, 34

    13

    37%

    3.

    0,71-1,00 (Mudah)

    1, 2, 7, 8, 10, 11, 12, 13, 14, 15, 17, 19, 20, 21, 22, 25, 30, 31, 32, 35

    21

    60%

     

    Dari presentase tabel distribusi butir soal di atas, dapat diketahui bahwa di lihat dari tingkat kesukaran terdapat 21 butir soal dengan kategori soal mudah, 13 butir soal dengan kategori soal sedang dan 1 butir soal dengan kategori sukar. Lebih lanjut dinyatakan bahwanya, sebaiknya digunakan butir soal yang tingkat kesukarannya berimbang yaitu 25 % = Mudah, 50 % = sedang, dan 25 % = Sukar (Sunarti, :138). Maka berdasarkan pemaparan diatas, dapat disimpulkan bahwa soal PAI Kelas IX Semester I yang digunakan dapat dikatakan tidak berimbang.

                b. Daya Pembeda

    Perhitungan daya beda dilakukan dengan program Microsoft Exel dengan membagi subjek menjadi dua bagian 50% kelompok atas dan 50% kelompok bawah. Penafsiran yang digunakan untuk menginterpretasikan hasil perhitungan daya beda butir soal yakni: 0,00 - 0,20 ialah soal yang memiliki kategori jelek, 0,20 – 0,40 ialah soal yang memiliki kategori cukup, 0,40 – 0,70 ialah soal yang memiliki kategori baik, 0,70 – 1,00 ialah soal yang memiliki kategori baik sekali. Sedangkan rumus untuk mencari daya pembeda sebagai berikut:

                     D = PA – PB

                     Keterangan:

                     D = Daya Pembeda tes

                     PA = Proporsi Kelompok Atas

                     PB = Proporsi Kelompok Bawah

    Besarnya daya pembeda ditunjukkan dengan indeks diskriminasi atau daya pembeda dengan menggunakan simbol D. Kisaran indeks daya pembeda sama dengan indeks kesukaran soal yaitu 0,00 sampai 1,00. Semakin tinggi indeks pembeda soal, maka soal tersebut mampu membedakan antara siswa yang pintar dengan siswa yang kurang pintar. Tanda negatif yang dijumpai pada perhitungan indeks diskriminasi soal menunjukkan bahwa soal menggambarkan kualitas peserta tes secara terbalik, dimana siswa pandai disebut bodoh dan siswa bodoh disebut pandai (Suharsimi Arikunto, 2016:226). Untuk menghitung indeks daya pembeda soal, peserta harus dikelompok terlebih dahulu ke dalam dua kelompok yaitu kelompok pandai-bodoh atau kelompok atas-bawah. Atau upper group dan lower group.

    Berdasarkan hasil analisis dengan bantuan program Microsoft Exel diketahui bahwa Soal Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam kelas IX Semester I dengan bentuk soal pilihan ganda berjumlah 35 butir soal mendapatkan hasil perincian sebagai berikut, soal berkategori jelek berjumlah 11 butir soal (31%), berkategori cukup berjumlah 8 butir soal (23%), berkategori baik berjumlah 13 butir soal (37%), berkategori baik sekali berjumlah 3 butir soal (9%).

    Dari hasil analisis soal diatas, maka distribusi ke 35 butir soal berdasarkan daya pembeda dapat dikategorikan dalam tabel berikut ini:

                            Tabel 2 Distribusi Butir Soal Berdasarkan Daya Beda Soal

    No.

    Daya Beda

    Butir Soal

    Jumlah

    Persentase

    1.

    0,00-0,20 (Jelek)

    1, 2, 8, 10, 15, 16, 17, 21, 30, 31, 32

    11

    31%

    2.

    0,21-0,40 (Cukup)

    6, 13, 14, 20, 22, 27, 28, 35

    8

    23%

    3.

    0,41-0,70 (Baik)

    3, 4, 5, 9, 11, 12, 18, 19, 24, 25, 29, 33, 34

    13

    37%

    4.

    0,71-1,00 (Sangat Baik)

    7, 23, 26

    3

    9%

                           

    Dari presentase tabel distribusi butir soal di atas, dapat diketahui bahwa di lihat dari daya pembeda terdapat 11 butir soal dengan kategori soal jelek, 8 butir soal dengan kategori soal cukup, 13 butir soal dengan kategori soal baik dan 3 butir soal dengan kategori sangat baik. Lebih lanjut menurut pemaparan Sukiman dalam artikel (Taufiq, 2018:16) bahwa kriteria daya beda soal dapat dikategorikan dengan presentase sebagai berikut: 0-25,9% termasuk kategori jelek, 26-50,99% termasuk kategori cukup, 59-75,99% termasuk kategori baik, 76-100% termasuk kategori baik sekali. Maka berdasarkan pemaparan diatas, dapat disimpulkan bahwa soal memiliki kualitas daya beda soal yang kurang baik.  

                c. Validitas Butir Soal

    Uji validitas butir soal menggunakan korelasi. Rumus validitas sebagai berikut:

    Keterangan:

     = Koefisien korelasi antara variabel X dan variabel Y

     = jumlah perkalian variabel x dan y

    = jumlah dari kuadrat nilai X

      = jumlah dari kuadrat nilai Y

    = jumlah nilai x kemudian dikuadratkan

      = jumlah nilai y kemudian dikuadratkan

     Soal dikatakan valid jika nilai korelasi r > rtabel dengan taraf signifikan 5 %. Hasil yang didapatkan dari 35 butir soal, ada 23 soal yang valid dan 12 soal yang tidak valid. Jadi, termasuk valid karena lebih banyak jumlah soal yang valid.

    Tabel 3 Hasil Validasi Empiris Setiap Butir Soal

    Nomor Soal

    Nilai r hitung

    Nilai r tabel

    Kategori

    1

    0,014

    0,396

    Tidak Valid

    2

    0,000

    0,396

    Tidak Valid

    3

    0,676

    0,396

    Valid

    4

    0,759

    0,396

    Valid

    5

    0,725

    0,396

    Valid

    6

    0,131

    0,396

    Tidak Valid

    7

    0,650

    0,396

    Valid

    8

    0,061

    0,396

    Valid

    9

    0,746

    0,396

    Valid

    10

    0,183

    0,396

    Tidak Valid

    11

    0,607

    0,396

    Valid

    12

    0,582

    0,396

    Valid

    13

    0,432

    0,396

    Valid

    14

    0,459

    0,396

    Valid

    15

    0,500

    0,396

    Valid

    16

    0,083

    0,396

    Tidak Valid

    17

    0,464

    0,396

    Valid

    18

    0,743

    0,396

    Valid

    19

    0,650

    0,396

    Valid

    20

    0,210

    0,396

    Tidak Valid

    21

    0,155

    0,396

    Tidak Valid

    22

    0,678

    0,396

    Valid

    23

    0,794

    0,396

    Valid

    24

    0,673

    0,396

    Valid

    25

    0,704

    0,396

    Valid

    26

    0,740

    0,396

    Valid

    27

    0,672

    0,396

    Valid

    28

    0,266

    0,396

    Tidak Valid

    29

    0,339

    0,396

    Tidak Valid

    30

    0,352

    0,396

    Tidak Valid

    31

    0,000

    0,396

    Tidak Valid

    32

    0,070

    0,396

    Tidak Valid

    33

    0,728

    0,396

    Valid

    34

    0,516

    0,396

    Valid

    35

    0,615

    0,396

    Valid

     

                d. Reliabilitas Butir Soal

    Nama lain dari reliabilitas adalah ketetapan, kepercayaan, kemantapan, keterandalan, keajegan atau kestabilan. Sedangkan yang dimaksud dengan reliabilitas tes adalah sebagai berikut: menurut Anne Anastasi dan Susan Urbina (2007:63), reliabilitas tes adalah kestabilan skor yang diperoleh dari orang. Reliabilitas suatu tes adalah keajegan suatu tes. Tes dikatakan reliabel apabila menunjukkan hasil yang sama walaupun dilakukan tes berulang ulang. Reliabilitas dinyatakan dengan angka dan dikenal sebagai koefisiensi reliabilitas. Makin tinggi koefisien reliabilitas sebuah tes makin tinggi pula reliabilitas tes tersebut (Hanifah, 2014:47-48).

    Rumus reliabilitas tes yaitu sebagai berikut:

    Rumus Alpha, sebagai berikut:

    Sedangkan rumus varians yang digunakan untuk menghitung reliabilitas, sebagai berikut:

    S2 = varians, selalu dituliskan dalam bentuk kuadrat, karena standar deviasi kuadrat

     = Kuadrat jumlah skor yang diperolah siswa

     = Jumlah kuadrat skor yang diperolah siswa

    N = banyaknya subjek yang mengikuti tes

    Klasifikasi tingkat reliabilitas yakni, koefisien korelasi 0,800-1,000 masuk kategori sangat tinggi, 0,600-0,799 termasuk kategori tinggi, 0,400-0,599 termasuk kategori cukup, 0,200-0,399 termasuk kategori rendah, dan 0,000-0,199 t  ermasuk kategori sanbgat rendah (Elviana, 2020:71).

    Dari hasil yang diperoleh melalui program Excel reliabilitas soal PAI yaitu sebesar  0,9101 sesuai dengan klasifikasi pada tabel di atas masuk dalam kategori sangat tinggi karena dalam rentang 0,800-1,000. Berarti tes soal PAI ini mempunyai koefisien yang baik dalam mengukur kemampuan mahasiswa. Hasil pengukuran harus reliabel artinya harus memiliki tingkat konsistensi dan kemampuan. Suatu alat tes dikatakan reliabel apabila alat tes tersebut dapat dipercaya, konsisten, atau tetap.

     

    D.    Kesimpulan

    Berdasarkan hasil analisis butir soal yang terdiri dari tingkat kesukaran, daya pembeda, dan termasuk soal yang kurang/tidak berkualitas. Berikut ini kesimpulan analisis butir soal:

    1. Hasil uji taraf kesukaran, pada bentuk soal pilihan ganda yang termasuk soal sukar berjumlah 3 butir (3%), soal yang sedang berjumlah 13 butir (37%), dan soal yang mudah berjumlah 21 butir (60%). Jadi berdasarkan pada presentase tingkat kesukaran yang berimbang yaitu 25 % mudah, 50 % sedang, dan 25 % sukar, diperoleh hasil bahwa butir soal tersebut memiliki yang tingkat kesukaran yang tidak berimbang.

    2. Hasil uji daya beda, pada bentuk soal pilihan ganda yang termasuk soal dengan daya bedanya jelek terdiri dari 11 butir soal (31%), soal dengan daya beda cukup berjumlah 8 butir soal (23%), soal dengan daya beda baik berjumlah 13 butir soal (37%), dan soal dengan daya beda baik sekali berjumlah 3 butir soal (9%). Memperoleh hasil bahwa soal tersebut memiliki kualitas daya beda soal yang kurang baik.

    3. Hasil uji validitas yang didapatkan dari 35 butir soal, ada 23 soal yang valid dan 12 soal yang tidak valid.

    4. Hasil uji reliabilitas, pada bentuk soal pilihan ganda menunjukkan indeks reliabilitas pada angka 0,9101 dengan kategori sangat tinggi. Hasil tersebut menunjukkan bahwa bentuk soal termasuk dalam kategori reliabel karena nilai   0,70.  

     

    Daftar Pustaka

    Anida Rahmaini, A. N. (2018). Analisis Butir Soal Pendidikan Agama Islam di SMKN 1 Sedayu Tahun Ajaran 2017/2018. Jurnal MUDARRISUNA, 8 (1), Januari-Juni , 1-24.

    Arifin, Z. (2013). Evaluasi Pembelajaran. Bandung: Remaja Rosdakarya.

    Arikunto, S. (2016). Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.

    Asrul, R. A. (2015). Evaluasi Pembelajaran. Bandung: Cita Pustaka Media.

    Azwar, S. (2006). Tes Prestasi. Yogyakarta: Pustaka Belajar.

    Elviana. (2020). Analisis Butir Soal Evaluasi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Menggunakan Program Anates. Jurnal MUDARRISUNA, 10 (2) April-Juni , 58-74.

    Fakhruddin, S. A. (2016). Pelaksanaan Standar Penilaian oleh Guru Pendidikan Agama Islam di Sekolah (Studi Evaluatif terhadap Guru PAI di SMP dan SMA di Bandung). Jurnal Pendidikan Agama Islam - Ta'lim, 146-147.

    Hanifah, H. (2014). Perbandingan Tingkat Kesukaran, Daya Pembeda Butir Soal Dan Reliabilitas Tes Bentuk Pilihan Ganda Biasa Dan Pilihan Ganda Asosiasi Mata Pelajaran Ekonomi. SOSIO e-KONS, 6 (1) , 41-55.

    Ihwan Mahmudi, R. R. (2020). Item Analysis of Islamic Education For Class VIII at Junior High Scholl 1 Jetis Ponorogo. Educan:Jurnal Pendidikan Islam, 4 (1), Februari, 119-135.

    Naga, D. S. (2002). Pengantar Teori Skor pada Pengukuran Pendidikan. Jakarta : Gunadarma.

    Purwanto. (2016). Evaluasi Hasil Belajar. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

    Sudjana, N. (1984:8). Dasar-Dasar Peralatan Ilmu Belajar. Jakarta: Serajaya.

    Sudjana, N. (2014). Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

    Suparnanto, K. (2012). Pengukuran dan Penilaian Pendidikan. Yogyakarta: Graha Ilmu.

     

     

     

  • You might also like

    Tidak ada komentar:

    Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

Cari Blog Ini

Video

Maps